Langsung ke konten utama

Riwayat hidup Didi Kempot




Didi Kempot (bahasa Jawaꦢꦶꦎꦤꦶꦱꦶꦈꦱ꧀ꦥꦿꦱꦼꦠꦾtranslit. Dionisius Prasetyo; lahir di Surakarta31 Desember 1966 – meninggal 5 Mei 2020 pada umur 53 tahun)[1][2] adalah seorang penyanyi dan penulis lagu campursari dari Surakarta. Didi Kempot merupakan putra dari seniman tradisional terkenal, Ranto Edi Gudel yang lebih dikenal dengan Mbah Ranto. Didi Kempot merupakan adik kandung dari Mamiek Prakoso, pelawak senior Srimulat.
Didi Kempot
ꦣꦶꦣꦶꦏꦺꦩ꧀ꦥꦺꦴꦠ꧀
Didi Kempot
Didi Kempot tampil di Purbalingga, 2019
Latar belakang
Nama lahirDionisius Prasetyo
Nama lainDidi Prasetyo, Pakdhe Didi, Lord Didi
Lahir31 Desember 1966
SurakartaJawa TengahIndonesia
Meninggal5 Mei 2020 (umur 53)
Rumah Sakit Kasih Ibu,
SurakartaJawa Tengah
Kota sekarangSurakartaJawa Tengah
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Suku bangsaSuku Jawa
Jenis musikCampursariKeroncongPop
Pekerjaanmusisipenyanyiproduserpenulis lagu
InstrumenVokal
Tahun aktif19842020
Terkait denganPaguyuban Campursari Indonesia (pendiri)
MempengaruhiDory Harsa
DipengaruhiManthous
PasanganYan Vellia (k. 1997)
HubunganMamiek Prakoso (kakak)
Orang tuaRanto Edi Gudel (ayah)
Umiyati Siti Nurjanah (ibu)
AgamaIslam

Logo Sobat Ambyar, Grup Fans Didi Kempot
Publik mengenal Didi Kempot sebagai maestro campursari dan penulis lagu yang populer, ia memulai karirnya sebagai musisi jalanan di kota Surakarta sejak tahun 1984 hingga 1986, kemudian mengadu nasib ke Jakarta pada tahun 1987 hingga 1989. Nama panggung Didi Kempot merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup musik asal Surakarta yang membawa ia hijrah ke Jakarta.[3]
Hampir sebagian lagu yang ditulisnya bertemakan patah hati dan kehilangan. Alasan sengaja memilih tema tersebut karena rata-rata orang pernah mengalaminya dan ingin dekat dengan masyarakat, juga menjadi alasan Didi Kempot menggunakan nama-nama tempat sebagai judul atau lirik lagunya.[3]
Kini Didi Kempot banyak diminati oleh kalangan muda dari berbagai daerah yang menyebut diri mereka sebagai Sadboys dan Sadgirls yang tergabung dalam "Sobat Ambyar" dan mendaulat Didi Kempot sebagai "Godfather of Broken Heart" dengan panggilan Lord Didi. Julukan itu berawal dari lagu-lagu Didi Kempot yang hampir semuanya menceritakan tentang kesedihan dan kisah patah hati.[4]
Didi Kempot meninggal dunia pada 5 Mei 2020 dalam usia 53 tahun di Surakarta akibat henti jantung.[5][6]

Karier


1984–1986: Awal karier

Didi Kempot memulai kariernya pada tahun 1984 sebagai musisi jalanan. Bermodalkan ukulele dan kendhang, penyanyi kondang Didi Kempot mulai mengamen di kota kelahirannya SurakartaJawa Tengah, selama tiga tahun.[7]

1987–1989: Mengadu nasib di Jakarta

Pada tahun 1987 Didi Kempot memulai karirnya di Jakarta. Ia kerap berkumpul dan mengamen bersama teman-temannya di daerah Slipi, Palmerah, Cakung, maupun Senen. Mulai dari situ julukan Kempot yang merupakan kependekan dari Kelompok Pengamen Trotoar terbentuk, yang menjadi nama panggungnya hingga saat ini.
Sembari mengamen di Jakarta, Didi Kempot dan temannya mencoba rekaman. Kemudian, mereka menitipkan kaset rekaman ke beberapa studio musik di Jakarta. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya mereka berhasil menarik perhatian label Musica Studio's. Tepat di tahun 1989, Didi Kempot mulai meluncurkan album pertamanya. Salah satu lagu andalan di album tersebut adalah Cidro.
Lagu Cidro[8] diangkat dari kisah asmara Didi yang pernah gagal. Jalinan asmara yang ia jalani bersama kekasih tidak disetujui oleh orang tua wanita tersebut. Itulah yang membuat lagu Cidro begitu menyentuh hingga membuat pendengar terbawa perasaan. Sejak saat itulah Didi Kempot mulai sering menulis lagi bertema patah hati.[7]

1993–1999: Awal kesuksesan

Perjalanan karier Didi Kempot tak berhenti begitu saja. Pada 1993, penyanyi asal Solo tersebut mulai tampil di luar negeri, tepatnya di SurinameAmerika Selatan. Lagu Cidro yang dibawakan sukses meningkatkan pamornya sebagai musisi terkenal di Suriname.
Setelah Suriname, Didi Kempot lanjut menginjakkan kakinya di benua Eropa. Pada 1996, ia mulai menggarap dan merekam lagu berjudul Layang Kangen di RotterdamBelanda. Kemudian, Didi Kempot pulang ke Indonesia pada 1998 untuk memulai kembali profesinya sebagai musisi. Tak lama setelah pulang kampung, pada era reformasi, 1999, dia mengeluarkan lagu Stasiun Balapan.
Kembalinya Didi Kempot ke Indonesia ternyata membuat kariernya semakin populer. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya lagu-lagu baru di awal 2000-an.
Nama Didi Kempot kembali meroket setelah mengeluarkan lagu Kalung Emas pada 2013 lalu. Kemudian pada 2016, penyanyi asal Solo tersebut mengeluarkan lagu Suket Teki. Lagu tersebut juga mendapatkan apresiasi yang tinggi dari warga Indonesia.[7]

Idola milenial

Perjalanan karier Didi Kempot yang berliku hingga mencapai kesuksesan seperti saat ini tidak membuatnya sombong. Sekarang ini ia menjadi idola generasi milenial yang akrab dengan media sosial.
Sebagai penyanyi senior, Didi Kempot memperlakukan penggemar layaknya sahabat. Dia bahkan tidak ragu mengajak penggemarnya bernyanyi bersama di atas panggung. Dia juga sering memberikan motivasi kepada penggemarnya agar tidak menyerah untuk berkarya.
Kini, penyanyi kondang asal Solo, Jawa Tengah, itu mendapat gelar "The Godfather of Broken Heart" alias Bapak Patah Hati Nasional. Julukan itu didaulat oleh kalangan muda kepada Didi Kempot karena kepiawaiannya membawa pendengar larut dalam emosi ketika mendengarkan lantunan lagunya.[7]

Diskografi


Album studio

JudulDetail album
Eling Kowe
  • Rilis: 1997[9]
  • Label: GP Records
  • Format: CD, digital download
Sukses
  • Rilis: 2000[10]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Emas Didi Kempot Yen Ing Tawang
  • Rilis: 2001[11]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Emas Didi Kempot Sewu Kuto
  • Rilis: 2002[12]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot (2002)
  • Rilis: 2002[13]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
King of Tembang Jawa
  • Rilis: 2002[14]
  • Label: GP Records
  • Format: CD, digital download
Hotel Malioboro
  • Rilis: 2007[15]
  • Label: GP Records
  • Format: CD, digital download
Lagu HITS
  • Rilis: 2010[16]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Emas Didi Kempot
  • Rilis: 2010[17]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot (2010)
  • Rilis: 2010[18]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Campursari In Fantasy Orchestra
  • Rilis: 2010[19]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Lagu-Lagu Terbaik Campursari
  • Rilis: 18 Juli 2011[20]
  • Label: Citra Suara
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot Dangdut Koplo (feat. Yan Vellia)
  • Rilis: 31 Mei 2012[21]
  • Label: Citra Suara
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot Get Joss
  • Rilis: 12 Agustus 2012[22]
  • Label: Sandi Records
  • Format: CD, digital download
Legendaris Didi Kempot Walang Kekek
  • Rilis: 2013[23]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Legendaris Didi Kempot
  • Rilis: 2013[24]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Sukses Didi Kempot
  • Rilis: 2014[25]
  • Label: Dasa Studio
  • Format: CD, digital download
Ketaman Asmoro
  • Rilis: 6 Juni 2016[26]
  • Label: IMC
  • Format: CD, digital download
Kasmaran
  • Rilis: 6 Oktober 2016[27]
  • Label: Teta Record
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot Umbul Jambe
  • Rilis: 23 Oktober 2016[28]
  • Label: Teta Record
  • Format: CD, digital download
Campursari Dangdut Koplo
  • Rilis: 18 Desember 2017[29]
  • Label: Citra Suara
  • Format: CD, digital download
The Best Didi Kempot, Vol. 1 (Compilation)
  • Rilis: 23 Februari 2018[30]
  • Label: Sumbu Records
  • Format: CD, digital download
Didi Kempot Live Studio Session
  • Rilis: 10 Desember 2018[31]
  • Label: Krama Entertainment
  • Format: CD, digital download

Singel

Didi Kempot telah menulis sekitar 700 lebih judul lagu. Hampir sebagian lagu-lagu yang diciptakan Didi Kempot menggunakan bahasa Jawa bertemakan patah hati dan kesedihan. Dia beralasan sengaja memilih tema tersebut karena setiap orang pernah mengalami.
Di beberapa lagunya Didi Kempot juga kerap menggunakan nama-nama tempat di lagu-lagunya. Misalnya saja lagu Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Kopi Lampung, Perawan Kalimantan, Parangtritis, Pantai Klayar, Tanjung Perak, Tanjung Mas Ninggal Janji, Magelang Nyimpen Janji, Ademe Kutho Malang, Kangen Magetan, Kangen Nickerie yang lirik-liriknya tetap menceritakan tentang patah hati. Ternyata Didi Kempot secara tidak langsung ingin mempromosikan tempat-tempat tersebut melalui lagu ciptaannya. Walaupun tidak semua tempat yang dijadikan lagunya punya pengalaman khusus dengan dirinya, melainkan pernah mengunjungi tempat tersebut.
Ide membuat lagu dengan nama tempat tersebut juga ada yang datang ketika Didi Kempot sedang berjalan-jalan dan mendengar tentang cerita-cerita dari warga setempat. Ketertarikan ia membuat lagu dengan menyebut nama-nama tempat karena ia juga yakin sebuah tempat pasti punya kenangan tersendiri bagi setiap orang.[32]
  • Ademe Kutho Malang
  • Adus Opo Raup
  • Aduh Mana Tahan
  • Aku teko
  • Aku Dudu Rojo
  • Ambyar
  • Anggar Bini
  • Angin Angin
  • Arum Dalu
  • Awu Merapi
  • Bakso Sarjana
  • Bapak
  • Bapak Gubernur
  • Banyu Langit
  • Bayi Suci
  • Bojo Gemati
  • Bojo Loro
  • Bojo Napi
  • Burungku Flu
  • Cemara Sewu
  • Cidro
  • Cidro 2
  • Cinta Yang Sempurna
  • Cintaku Jauh Di Lampung
  • Sekonyong konyong Koder
  • Cintaku Tak Terbatas Waktu feat Deddy Dores
  • Cucakrowo
  • Dalan Tembus
  • Dalan Anyar
  • Den
  • Dudu Jodone
  • Dolanan Dakon
  • Dompet Kulit
  • Eling Kowe
  • Empek-empek
  • Entenono
  • Gawe Gelo
  • Gethuk
  • Gusti Ora Sare
  • Hello Sayang
  • Iki Weke Sopo
  • Ilang Tresnane
  • Isih Tresno
  • Isin
  • jaket Iki
  • Jatuh Cinta
  • Jambu Alas
  • Janda Baru
  • Janji Palsu
  • Jembatan Suramadu
  • Kalung Emas
  • Karindangan (Prawan Kalimantan)
  • Kangen Magetan
  • Kangen Bandungan
  • Kangen Kowe
  • Kasetyaning Prajurit
  • Kembang Kocapan
  • Ketaman Asmara
  • Keloro-Loro
  • Kere
  • Kere Munggah Bale
  • Ketar Ketir
  • Kesetrum Tresno
  • Kompo Angin
  • Konangan (Ketahuan)
  • Kopi Lampung
  • Kreteg Bacem
  • Kucing Gering
  • Kuncung
  • Kusumaning Ati
  • Lampu Mati
  • Layang Kangen
  • Lilo
  • Lindu
  • Lingsir Wengi
  • Lingso Tresno
  • Lintang Ponorogo
  • Magelang Nyimpen Janji
  • Malioboro
  • Mantri Suntik
  • Markenthut
  • Mas Lano
  • Mesti Penak
  • Muliho
  • N O
  • Nanggap Campursari
  • Nagih Janji
  • Neng Ngawi
  • Ngalamun
  • Nglanggar Janji
  • Ngingu Pitik
  • Nglimpe
  • Njaluk Tombo
  • Nunut Ngiyup
  • Nyidam Sari
  • Ojo Lamis
  • Ojo Lungo
  • Ojo Sujono
  • Omprengan
  • Ono Opo Awakmu
  • Ora Isoh Mulih
  • Padang Bulan
  • Pantai Klayar
  • Pager Abang (Kediri)
  • Pamer Bojo
  • Pancen Jodho
  • Parangtritis
  • Pasar Klewer
  • Penyany
  • Penyanyi 2
  • Penyiar Radio
  • Plong
  • Pokoke Melu
  • Pom Bensin
  • Prapatan Sleko
  • Prawan Kalimantan
  • Rindu Jombang
  • Saputri
  • Sarinthol
  • Suket Teki
  • Seketan Ewu feat Yan Vellia
  • Selingkuh
  • Semrawut
  • Sentir Lengo Potro
  • Stasiun Balapan
  • Stasiun Balapan 2
  • Sewu Dino
  • Sewu Siji
  • Sewu Kuto
  • Sik Asyik
  • Sir Siran
  • Sopir No 1
  • Sri Minggat
  • Suriname
  • Tali Asmoro
  • Taman Jurug
  • Tangise Ati
  • Tanjung Mas Ninggal Janji
  • Tanjung Perak
  • Tanpo Sliramu
  • Teles Kebes
  • Teluk Penyu
  • Tentang Aku Kau dan Dia
  • Terkintil Kintil
  • Terminal Tirtonadi
  • Terminal Terboyo
  • Tragedi Tali Kotang
  • Tragedi Tawangmangu
  • Tresnamu Koyo Odol
  • Tresno Kowe
  • Trimo Ngalah
  • Tuyul Amburadul
  • Untuk Apa Lagi feat Deddy Dores
  • Wes Ewes Ewes
  • Wis
  • Wis Cukup
  • Wuyung
  • Yowis Yowis
  • Yuni Yuni
  • 2002

Penghargaan


TahunPenghargaanKategoriHasil
2001Anugerah Musik Indonesia 2001Artis Solo Pria/Wanita TerbaikMenang
Anugerah Musik Indonesia 2001Penyanyi Terbaik
2002Anugerah Musik Indonesia 2002Artis Solo/Duo/Group/Kolaborasi TerbaikMenang
Anugerah Musik Indonesia 2002Album Terbaik
Anugerah Dangdut TPI 2002Lagu Dangdut Etnik Terbaik
Anugerah Dangdut TPI 2002Penyanyi Rekaman Lagu Dangdut Etnik TerbaikNominasi
2003Anugerah Musik Indonesia 2003Karya Produksi Tradisional TerbaikMenang
Anugerah Dangdut TPI 2003Penyanyi Rekaman Lagu Dangdut Etnik Terbaik
2005Anugerah Musik Indonesia 2005Dangdut KontemporerNominasi
2010Anugerah Musik Indonesia 2010Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah TerbaikMenang
2011Anugerah Musik Indonesia 2011Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah TerbaikMenang
2012Anugerah Musik Indonesia 2012Solo Pria Dangdut KontemporerNominasi
2013Anugerah Musik Indonesia 2013Produser/Penata Musik DangdutNominasi
Anugerah Musik Indonesia 2013Solo, Duo/Grup Dangdut Berbahasa DaerahMenang
2014Anugerah Musik Indonesia 2014Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah TerbaikNominasi
2015Anugerah Musik Indonesia 2015Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah TerbaikNominasi
2016Anugerah Musik Indonesia 2016Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah TerbaikNominasi
2018Indonesian Dangdut Awards 2018Penyanyi Dangdut Solo Pria TerpopulerNominasi
2019Indonesian Dangdut Award 2019Lagu Dangdut TerpopulerNominasi
Indonesian Dangdut Award 2019Penyanyi Dangdut Solo Pria Terpopuler
Indonesian Dangdut Award 2019Penghargaan Khusus Maestro CampursariMenang
Total11X Menang

Sobat Ambyar


Merupakan sebutan komunitas bagi penggemar penyanyi campursari Didi Kempot. Komunitas ini semakin eksis seiring semakin naiknya popularitas Didi Kempot, yang mereka sebut dengan "Lord Didi". Keberadaan Sobat Ambyar membuat para penggemar karya Didi Kempot menjadi lebih terorganisir. Sebelumnya istilah Kempoters adalah sebutan untuk penggemar Didi Kempot namun sebutan tersebut berkembang dikalangan anak muda menjadi Sad Boys (untuk laki-laki) dan Sad Girls (untuk perempuan).
Para penggemar Didi Kempot yang tergabung dalam Sobat Ambyar mayoritas generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa karya Didi Kempot diminati lintas generasi. Eksistensi para penggemar muda ini membuat Didi Kempot dinobatkan sebagai Godfather of Broken Heart (bahasa Jawa: Bapak Loro Ati Nasional; Bapak Patah Hati Nasional).[33]
Komunitas Sobat Ambyar awal terbentuk melalui sebuah acara Musyawarah Nasional (Munas) Pengukuhan Awal yang diselenggarakan oleh Solo Sad Bois Club pada hari Sabtu tanggal 15 Juni 2019 pukul 19.00 di Rumah Blogger Indonesia (RBI), Jl. Apel III No.27, Kel. JajarKec. LaweyanSurakartaJawa Tengah.[34]

Kontroversi


Didi Kempot sebagai penulis lagu mengatakan, ia tidak menolak jika lagu-lagunya di-cover oleh penyanyi lain selama penyanyi tersebut meminta izin padanya. Sebab, setiap karya yang dihasilkan oleh tiap musisi seperti Didi Kempot tentu saja memiliki hak cipta.
Ia menganalogikan cover tanpa izin pihak pencipta sama dengan mencuri karya orang lain. Hingga saat ini, adik kandung pelawak Mamiek Prakoso itu mengaku belum menerima royalti dari perihal tersebut.
Didi mengatakan, banyak musisi yang sudah tidak mengerti bagaimana menghargai hak cipta seseorang. Menggubah ulang karya seseorang dan dikomersilkan, seharusnya meminta izin. Sebagai penulis lagu dan penyanyi, ia juga merasa dirugikan. Sebab yang meng-cover mendapat royalti, sebaliknya yang membuat karya tidak.

Komentar

  1. mantap terkupas tuntas sejarah sang Maestro Didi Kempot. Karyanya akan selalu di hargai dan dikenang

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Salmafina Pindah Kristen Agar Hidupnya "Dibenarkan Oleh Tuhan"