Petaka Maut dari Pemilik Pesugihan Babi Ngepet



“Mas, aku gak mau ngelakuin kaya gini lagi,” ujar Dina sembari menangis.

“Udahlah, mendingan kamu jagain lilin ini supaya gak mati,” ucap Arman setengah membentak.

Dina yang berlinang air mata mulai menyalakan lilin. Dalam sekejap, suaminya yang duduk di lantai dengan diselimuti jubah kemudian berubah menjadi seekor babi besar berwarna hitam.

Sudah tujuh  kali Arman dan Dina melakukan pesugihan babi ngepet, dan ini adalah upaya mereka yang kedelapan. Adapun percobaan pertama mereka lakukan karena desakan ekonomi.

Awalnya, baik Arman maupun Dina tidak memiliki pikiran sama sekali untuk melakukan pesugihan babi ngepet. Dina sudah terbiasa mengurusi pekerjaan rumah, dan Arman bekerja di sebuah pabrik baterai yang berada di kota mereka tinggal.

Semua berubah ketika goncangan ekonomi pada pabrik tempat Arman bekerja yang dampaknya adalah gelombang PHK besar-besaran. Arman yang saat itu sudah memiliki jabatan bagus harus tersapu bersama ratusan pekerja lainnya.

Peristiwa menyedihkan ini membuat Arman harus luntang-lantung mencari pekerjaan lain. Ia sudah mengirimkan lamaran ke 5 perusahaan berebda, tapi tidak ada satupun yang membalas. Pria itu berasumsi bahwa penolakan yang terjadi dalam upayanya mencari pekerjaan diakibatkan oleh usianya yang hampir menginjak 45 tahun.

Uang pesangon pun tidak mereka manfaatkan dengan baik. Baik Arman maupun Dina merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis, sehingga mereka memilih untuk menyimpannya, berharap ada peluang bisnis yang cocok untuk mereka pekerjakan.

Nasib berkata lain. Uang pesangon mereka yang semakin menipis tidak diiringi dengan usaha mereka untuk mendirikan sebuah bisnis. Arman dan Dina malah menggunakannya untuk membeli barang elektronik juga perabotan rumah tangga. 
Arman sebenarnya sempat mencicil sepeda motor yang Ia gunakan untuk bekerja sebagai ojek, tapi penghasilannya tersebut tidak dapat menutupi kebutuhan keluarganya, sehingga motor tersebut harus ditarik lagi karena putusnya uang cicilan.

Sebagai kepala keluarga, Arman bingung melihat keadaan perekonomiannya yang kian memburuk. Semua itu diperparah dengan anak semata wayangnya, Hilman, sebentar lagi duduk di bangku SMP yang di mana memerlukan biaya.

Himpitan ekonomilah yang membuat mereka memutuskan untuk melakukan pesugihan babi ngepet. Berkat bantuan seorang dukun yang dikenalkan oleh teman lama Arman, Arman dan Dina berada di sebuah situasi yang dapat memulihkan keadaan ekonomi mereka. 

Saat itu di desa mereka baru saja kedatangan sepasang suami istri. Sang suami adalah pensiunan tantara dan sang istri seorang wirausaha yang menjual busana muslim. Arman dan Dina menjadikan mereka sasaran pertama karena asumsi bahwa orang baru tidak tahu apa-apa tentang tempat tinggal mereka.

Ternyata benar saja, upaya pertama mereka tidak sesulit yang mereka pikirkan. Dalam waktu kurang dari 3 jam, mereka bisa mendapatkan hampir Rp 10 juta dari rumah pasangan tua tersebut.

Tidak ingin jatuh di lubang yang sama, Arman dan Dina sepakat untuk mempergunakan uang haram tersebut untuk membuka warung sembako, sisanya untuk ditabung.

Semenjak pesugihan pertama, keungan mereka berangsur membaik. Hilman dapat bersekolah dengan tenang, dan pemasukan dari toko kelontong selalu bisa diandalkan setiap bulannya. Hanya saja, kedua hal itu tidak membuat Arman berhenti untuk melakukan pekerjaan setan itu.

Sebelumya mereka sepakat bahwa mereka akan berhenti ketika keadaan mereka membaik, tapi kenyataannya Arman semakin rajin melakukan ritual babi ngepet tersebut dengan alasan menjadi babi tidak sesulit bekerja di pabrik atau merintis bisnis.

Dina sudah mencoba menghentikan Arman, mulai dari menasehati hingga memohon-mohon. Hanya saja upaya yang sudah ia lakukan berkali-kali tersebut dibalas oleh pukulan atau tendangan berkali-kali. Tak jarang Dina menjaga temaram lilin dengan keadaan berlinang air mata, seperti malam ini. Ia sudah tidak tahan dengan perlakuan Herman terhadapnya, meski ia sungguh menyayangi keluarga kecilnya itu.

Arman tiba di rumah sasarannya, rumah ibu Jamilah. Ia mengincar rumah tersebut karena baru genap 2 bulan ia ditinggal wafat oleh suaminya, tanpa seorang anak, hanya seorang asisten rumah tangga yang setia.

Arman mulai menggesek-gesekan hidung ke pagar rumah ibu Jamilah yang tingginya satu setengah meter. Entah bagaimana caranya, dengan menggesek-gesekan hidung ke pagar rumah sasaran, uang si pemilik rumah otomatis berpindah ke hadapan Dina.

Di hadapan Dina, uang pecahan Rp 100 ribu berserakan, tapi tidak wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Ia memikirkan keselamtan Arman dan perasaan anak semata wayangnya Hilman jika tahu bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil pesugihan.

Saat sedang asik menggesek-gesek pagar, ada cahya yang menyilaukan pengelihatan Arman. Dalam wujud babi, ia terperanjat karena cahaya tersebut tidak beranjak, pertanda bahwa seseorang yang menggunakannya memperhatikannya.
“Babi! Ada Babi,” teriak seorang pria di atas sepeda motornya.

Arman tidak dapat melihat jelas wajah pria tersebut karena ia panik dan memutuskan untuk melarikan diri. Melihat seekor babi berlari ketika diteriaki membuat si pengendara motor berpikir bahwa yang ia lihat bukanlah babi biasa. Ia kemudian memacu sepeda motornya untuk mengejar Arman, sambil berteriak untuk memberitahukan bahwa ada babi ngepet.
“Babi ngepet! ada babi ngepet!”

Teriakan tersebut cukup keras untuk didengar sebuah desa yang setiap malam diselimuti keheningan. Warga pun kaget atas peringatan itu, dan spontan mengambil benda yang ada di sekitarnya untuk menghajar Arman yang lari kocar-kacir.

Kesempatan Arman untuk bisa melarikan diri semakin kecil karena ia melihat jumlah warga yang mengejarnya semakin banyak, dan beberapanya membawa tali dan senjata tajam. Arman tak tahu harus berlari ke mana, ia hanya mencoba mencari jalan yang sekiranya tidak ada orang.

Meski begitu, upayanya untuk menghindar dari amukan warga desa harus gagal karena tembakan dari senapan angin. 2 butir peluru yang menembus paha membuatnya tumbang.

Dalam wujud babi, Arman diikat dengan keadaan babak belur lalu diarak menuju kantor kepala desa. Apa yang Arman lihat sekarang ini mungkin adalah waktu-waktu terakhirnya, termasuk waktu terakhir bagi dirinya untuk melihat istri dan anak kesayangannya yang terlihat dari kejauhan, pergi membawa 2 tas dan 3 bungkusan besar, tanpa ia bisa memanggilnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Salmafina Pindah Kristen Agar Hidupnya "Dibenarkan Oleh Tuhan"