Pedoman Produksi dan Pemakaian Masker Kain Menurut Ahli Epidemiologi



Penggunaan masker kain untuk cegah penyebaran Covid-19 sudah disetujui organisasi kesehatan dunia (WHO), Jumat (3/4/2020).
Atoillah Isfandiari Ahli Epidemiologi FKM Unair menegaskan, setidaknya ada tiga pedoman produksi dan pemakaian masker kain agar tujuan ini bisa tercapai. Pedoman itu disarikan menjadi jargon tiga tepat, yaitu tepat sasaran, tepat bahan, tepat cara pakai.
Masker kain ditujukan untuk masyarakat umum, bukan tenaga medis yang secara langsung bersinggungan dengan pasien Covid-19. Sebab, masker kain bertujuan agar droplet bersin atau batuk tidak keluar dan menulari orang lain. Bukan untuk menyaring udara dari luar agar tidak tertular Covid-19.
Kedua, produksi masker kain harus tepat bahan. Ada beberapa pedoman pemakaian bahan kain yang dianjurman. Pertama, bahan yang dipakai sebisa mungkin tidak berpotensi alergi.
“Kalau dia punya alergi, terus kemudian pake masker nylon, ya batuk pilek, sesek. Asma malah. Bahan yang paling bagus itu katun. Selain serat pori-porinya terkecil, kedua relatif paling tidak menimbulkan alergi.
Tepat bahan lain, usahakan nyari kain yang tidak terlalu banyak warna. Kalau ada orang yang sensirif, bisa jadi iritasi karena zat warna,” ujar Atoillah pada Minggu (5/4/2020).
Selain itu, ia mengatakan, lapisan kain minimal harus dua lapis. Dari dua lapis ini, produsen bisa membedakannya dengan warna, sehingga pemakai masker tahu mana bagian luar dan dalam.
Selain itu, produsen masker kain juga bisa memodifikasi masker kainnya dengan nemambahkan kawat di bagian atas, sehingga bisa dibengkokkan mengikuti bentuk wajah.
“Karena bagaimanapun juga, kalau masker kain itu kan gak bisa dibengkok-bengkok yang atas bawah. Masih ada udara. Tapi kalau pengen bagus lagi, bisa dimodifikasi, yang atas dikasih kawat begitu, sehingga bisa dibengkok. Sehingga bisa mengikuti tekstur wajah. Itu akan lebih nempel nantinya,” katanya.
Terakhir, yaitu tepat cara pakai. Ia mengatakan, meski masker kain bisa dicuci dan digunakan lagi, berdasarkan beberapa studi, maksimal pencucian hanya sebanyak empat kali.
“Karena dalam pencucian itu akan memperbesar pori-pori. Beberapa studi mengatakan, kalau lebih dari 4 kali, itu pori-porinya membesar yang membuat masker gak efektif lagi. Masker (kain) itu diganti setelah empat kali pencucian,” pungkasnya. (bas/iss/rst)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru