Ketat! Persaingan Militer AS & China di Balik Vaksin Corona


Ketat! Persaingan Militer AS & China di Balik Vaksin Corona
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan China kini sedang berlomba-lomba menghasilkan vaksin untuk virus corona (COVID-19). Namun ada yang unik dari perlombaan antar kedua negara tersebut. Ternyata, militer AS dan China ada dibalik pembuatan vaksin.

Belum lama ini, Inovio Pharmaceuticals menarik perhatian publik setelah mengumumkan siap melakukan uji vaksin corona pada manusia pada bulan April. Sahamnya pun melambung tinggi. Namun ada yang unik dari perusahaan ini.

Selama perjalanannya, perusahaan farmasi tersebut memiliki sumber pendanaan dari Bill and Melinda Gates Foundation, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), dan Korea Investment Partners (KIP). Inovio Pharmaceuticals juga didanai oleh dua badan militer AS yang berhubungan dengan senjata biologi, yakni Defense Threat Reduction Agency (DTRA) dan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

Namun, dikutip dari DetikInet, keterlibatan dua badan militer AS mendanai Inovio adalah beberapa tahun sebelum adanya wabah COVID-19. Pendanaannya pun untuk program lain, yakni terkait virus Ebola dan alat vaksin lewat kulit. Hingga kini memang belum diketahui apa ada keterlibatan dua lembaga ini dengan Inovio terkait pandemi COVID-19.





Perusahaan Inovio didirikan tahun 1983 oleh J. Joseph Kim di Pennsylvania, Amerika Serikat. Perusahaan ini bergerak di bidang bioteknologi, farmasi, pelayanan kesehatan dan therapeutic.


Tidak hanya AS, militer China juga ikut terkait dengan pembuatan vaksin. Pada Selasa (17/3/2020) lalu, Administrasi Produk Medis Nasional menyetujui tes untuk vaksin COVID-19 pertama di negara itu.


Dilaporkan New York Post, vaksin tersebut nantinya dikembangkan oleh para peneliti di Akademi Ilmu Kedokteran Militer di Wuhan. Jika penelitian percobaan klinis penggunaan vaksin COVID-19 berhasil, negeri tirai bambu tersebut bakal segera memasarkannya secara massal.


"Kami adalah komunitas masa depan bersama bagi umat manusia, dan vaksin adalah salah satu senjata ilmiah dan teknologi paling kuat untuk mengakhiri epidemi virus corona baru," kata Chen Wei, pakar terkemuka yang memimpin tim Institut Bioteknologi di Akademi Ilmu Kedokteran Militer China.


Mereka mulai melakukan penelitian untuk menemukan vaksin COVID-19 sejak tiba di Wuhan pada 26 Januari lalu dan kini telah siap untuk memproduksi vaksin dalam skala besar.


"Sesuai dengan standar internasional dan hukum dan peraturan domestik, kami telah membuat persiapan awal untuk keselamatan, efektivitas, kualitas yang terkendali, dan produksi massal," kata Chen.


Dalam The Washington Post, media pemerintah China, juga baru-baru ini memuat foto-foto Chen, dalam seragam dan masker bedah. Ia pun menerima suntikan di lengan kirinya. Bukan hanya Chen, tujuh perwira lain juga dilaporkan menerima suntikan tersebut.


Dengan ini, China mengharapkan ini akan benar-benar menjadi vaksin pertama melawan corona. "Virus ini kejam, tetapi kami percaya pada keajaiban. Epidemi adalah situasi militer, dan daerah epidemi adalah medan perang," tukasnya.


Kini AS merupakan negara yang menduduki posisi pertama dengan kasus corona terbanyak. Kini sudah ada 738.923 kasus terjangkit, 39.015 kasus kematian, dan 68.285 kasus berhasil sembuh sejauh ini.


Sedangkan China menduduki posisi ketujuh dengan 82.735 kasus terjangkit, 4.632 kasus kematian, dan 77.062 kasus berhasil sembuh.


Sedangkan secara global, kasus pasien positif corona sudah mencapai 2.332.471 kasus. Sedangkan angka kematian 160,784 kasus, dengan pasien sembuh hanya mencapai 600.007 kasus per Minggu (19/5/2020), menurut data Worldometers.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Salmafina Pindah Kristen Agar Hidupnya "Dibenarkan Oleh Tuhan"