Agen-Agen Kepanikan


Dalam kesaksiannya di depan Kongres AS (12/3), Direktur CDC – Robert Redfield – mengakui bahwa banyak kematian yang disebabkan oleh virus, telah mereka kategorikan sebagai influenza.

Ini menanggapi laporan CDC atas kematian puluhan ribu warga AS yang terjadi pada 2019 lalu.

Yang lebih mengejutkan, Redfield kembali mengakui bahwa banyak warga AS yang telah meninggal karena influenza tersebut, ternyata begitu di tes ulang, positif coronavirus.

Redfield menambahkan bahwa prosedur yang selama ini dijalankan adalah: begitu seseorang dinyatakan positif influenza, maka pemeriksaan cukup sampai disitu. Case-closed!

Dengan demikian mereka tidak melakukan prosedur pemeriksaan lanjutan terhadap kemungkinan positif COVID-19 atau tidak.

Gegerlah Kongres saat itu.
Kemudian seorang senator bertanya balik kepada Redfield, “Apakah uji post-mortem dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian?”

Redfield menyatakan bahwa itu sudah dilakukannya, dan hasil temuannya adalah salah diagnosa. Aliasnya: apa yang selama ini diduga CDC sebagai penyebab kematian, ternyata bukan flu-lah biang keladinya.

Fakta ini menjadi lebih parah di lapangan, dimana selama berbulan-bulan CDC telah menginstruksikan kepada tiap rumah sakit seantero AS untuk tidak melakukan tes virus bagi korban meninggal, kecuali untuk urusan yang sangat mendesak.

Nggak aneh kalo kemudian muncul istilah: ILI alias influenza like illness pada pasien meninggal, karena memang nggak tahu pasti penyebab kematiannya. Cuma gejalanya memang mirip-mirip flu. Itu saja.

Kalo ditarik benang merahnya, ternyata yang selama ini diduga sebagai penyebab banyak kematian di AS dari 2017 hingga 2019 apalagi selain virus Corona.
Cuma kan nggak mungkin diungkap secara vulgar kepada publik pada waktu itu, karena menurut skenarionya COVID-19 sama saja dengan virus China. Jadi asalnya tuh virus, whatever it takes, harus dari China dan bukan berasal dari AS. Titik. (baca disini)

Pengakuan Redfield tersebut menjadi penting untuk mengakhiri polemik tentang asal muasal virus.
Selanjutya, publik harusnya sadar. Kalo AS pernah dihantam Corona, dan nyatanya status darurat nggak dikeluarkan oleh seorang Trump. Kalo sekarang baru dikeluarkan status darurat, harusnya publik bertanya: Ada apa? Kok baru sekarang nongol?

Berikutnya, tanpa vaksin-pun, korban kematian yang disebabkan oleh Corona tersebut akan berakhir dengan sendirinya. Meskipun menelan banyak korban jiwa, toh akan mereda secara alami.

Dengan semua fakta tersebut, kenapa sekarang kita harus panik?

Yoram Lass sebagai mantan Dirjen Menkes Israel mengatakan: “Di setiap negara ada ribuan orang meninggal karena flu biasa setiap tahunnya, dibandingkan dengan mereka yang meninggal akibat coronavirus.”
Bahkan ahli edpidemi ternama berkebangsaan Jerman – Prof. Hendrik Streeck – secara meyakinkan menyatakan: “Patogen baru (COVID-19) ternyata kurang berbahaya dibandingkan dengan patogen SARS.”

Dengan semua pendapat yang diungkap oleh para ahli tersebut, seharusnya kita nggak perlu panik.
Lalu kenapa jadi panik? Apa yang menyebabkannya?
Selidik punya selidik, ternyata terdapat banyak agen kepanikan yang sengaja berfungsi sebagai whistle blower. Pernyataannya kemudian digoreng sedemikian rupa oleh media mainstream. Inilah yang kemudian menyebabkan kepanikan.

Siapa saja mereka?

Pertama, tentu Tedros selaku Dirjen WHO yang tanpa sebab mengeluarkan status darurat (PHEIC) atas COVID-19. Padahal, dasarnya sungguh lemah. Apakah dengan kematian di luar China yang hanya 150 orang, cukup menjadikan status darurat dikeluarkan? Jelas tidak logis.
Kedua, Anthony Fauci selaku direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID). Pada siaran televisi nasional di 29 Maret yang lalu, Fauci mengatakan: “AS dapat memiliki jutaan kasus COVID-19 dan kemungkinan akan ada 100-200 ribu angka kematian.”
Belum lagi langkah yang diambil oleh Trump untuk memperpanjang pedoman national social distancinghingga tanggal 30 April. Padahal sebelumnya tanggal 12 April rencananya warga AS sudah bisa menjalankan aktivitas normalnya dan merayakan Paskah.
Dengar dan lihat yang model gini, gimana orang nggak makin panik?

Ramuan menjadi sempurna manakala MSM makin menggoreng narasi tersebut plus bumbu sana-sini, untuk membuat orang makin takut. Berita kematian dan bertambahnya orang yang terinfeksi terus menerus didengungkan. Padahal, staus terinfeksi tidak sama dengan mati.

Dengan kata lain, semua narasi ilmiah tersebut bertujuan untuk membuat orang panik, lalu orang kehilangan akal sehat.

Ini senada dengan pendapat pulmonolog terkenal berkebangsaan Jerman sekaligus ketua Majelis Parlemen Dewan Komite Kesehatan Eropa – Dr. Wolfgang Wodard: “Yang hilang pada saat (wabah COVID-19) ini adalah cara memandang sesuatu secara rasional, karena orang panik.”
Pendapat tersebut jelas nggak berlebihan.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post dan ABC News pada 22-25 Maret yang lalu, menyatakan bahwa: 90% warga AS takut tertular COVID-19. 70% percaya bahwa mereka dan keluarganya sangat rentan pada kematian akibat COVID-19.
Ajigile…
Saya praktis berpikir: kalo warga AS yang lebih maju cara berpikirnya tetap bisa dilanda kepanikan lewat skenario framing media, gimana dengan warga +62 yang sangat rendah kemampuan lliterasinya?

Salam Demokrasi!!

Oleh: Ndaru Anugerah
(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru