Virus Corona Lebih Mematikan bagi Pria Dibanding Perempuan

Pasien diduga terkena virus Corona

Petugas Ambulans Puskesmas Kebayoran Baru, bersiap membawa pasien yang diduga terkena virus Corona di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (2/3). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Saat ini, secara global terdapat hampir 200.000 kasus aktif virus corona dengan 13.000 lebih korban meninggal. Ada fakta menarik bahwa kematian karena virus corona lebih banyak terjadi bagi laki-laki ketimbang perempuan.
Di Italia, misalnya, negara Eropa yang paling terdampak oleh virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 itu mencatat tingkat kematian yang lebih tinggi bagi laki-laki ketimbang perempuan. Menurut analisis Higher Health Institute of Rome, dari 25.058 kasus virus corona di Italia, 8 persen pasien laki-laki meninggal. Angka itu lebih tinggi ketimbang perempuan yang punya tingkat kematian sebesar 5 persen.
Laporan dari mereka pada 12 Maret 2020 juga mencatat, 58 persen pasien COVID-19 di Italia adalah laki-laki dan merupakan kelompok jenis kelamin yang menyumbang 70 persen dari total pasien yang meninggal di negara tersebut.
Menurut laporan The New York Times, apa yang dialami oleh Italia juga terjadi di China. Negara Tirai Bambu tersebut dilaporkan memiliki tingkat kematian untuk pria sebesar 2,8 persen. Lebih tinggi dibandingkan dengan 1,7 persen untuk perempuan, menurut analisis Center for Disease Control and Prevention (CDC) di China.

Pasien Virus Corona di Stadion Olahraga Wuhan
Aktivitas pasien dengan gelaja virus corona atau COVID-19 yang beristirahat di rumah sakit darurat stadion olahraga Wuhan, Hubei, China. Foto: AFP/STR

Tak hanya Italia dan China, kerentanan laki-laki juga terlihat di sejumlah negara Eropa. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 9-15 Maret 2020, 11.228 infeksi virus corona tercatat di Eropa, dengan data yang diketahui 57 persen pasien adalah laki-laki. Selain itu, dari 1.032 kematian yang tercatat, korban berjenis kelamin perempuan hanya berjumlah 295 orang atau 28 persen dari total korban meninggal.
Lantas, mengapa laki-laki lebih rentan meninggal karena virus corona dan COVID-19 ketimbang perempuan?
"Menjadi laki-laki adalah faktor risiko untuk virus corona selayaknya usia tua,” kata Sabra Klein, seorang ilmuwan yang mempelajari perbedaan jenis kelamin dalam infeksi virus di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dikutip The New York Times.
“Orang-orang harus sadar bahwa ada pola ini. Sama seperti menjadi tua berarti Anda berada pada risiko yang lebih tinggi, demikian juga dengan menjadi laki-laki. Itu adalah faktor risiko," sambungnya.
Klein menambahkan, faktor kerentanan itu bisa bersifat biologis maupun perilaku. Menurutnya, perempuan memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat.
Hormon estrogen perempuan tampaknya berperan dalam imunitas, seperti halnya kromosom X, yang mengandung gen yang berhubungan dengan kekebalan. Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu.
Faktor kesehatan dan perilaku juga berkontribusi terhadap kerentanan laki-laki terhadap virus corona. Menurut ahli kesehatan yang diwawancarai The New York Times, laki-laki mengembangkan penyakit kardiovaskular dan hipertensi pada usia yang lebih muda daripada perempuan. Adapun kedua kondisi ini dapat meningkatkan potensi penyakit menjadi parah.
Selin itu, laki-laki juga diketahui memiliki tingkat merokok yang lebih tinggi ketimbang perempuan. Lebih dari setengah laki-laki di China merokok, lebih tinggi ketimbang 3 persen perempuan yang merokok. Adapun Italia memiliki 30 persen laki-laki yang merokok, dibandingkan dengan 19 persen perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru