Sektor-sektor Ini Tumbang Akibat Corona, Event Organizer Rugi hingga Rp 6,9 T


Tepat wisata tutup karena corona- Magelang
Petugas Balai Konservasi Borobudur (BKB) menyemprotkan cairan disinfektan di candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/3). Foto: FOTO ANTARA/Anis Efizudin
Virus corona tak hanya membahayakan manusia, namun juga dunia usaha. Selama hampir dua bulan ini, sejumlah sektor satu per satu tumbang akibat pandemi COVID-19.
Berikut kumparan rangkum sejumlah sektor yang tumbang akibat masifnya penyebaran virus corona:
Perhotelan
Industri perhotelan domestik mulai ketar-ketir ketika virus corona mulai memakan korban di Wuhan, China, saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, meminta pemerintah melakukan pengawasan ketat pada masuknya wisawatan asing. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran virus corona hingga ke Indonesia.
"Pemerintah harus lebih ketat. Cukup khawatir, tapi kami yakin pemerintah bisa melakukan protokol penanggulangan penyebaran kayak gini. Harus cepat dilakukan," ujar Hariyadi kepada kumparan, Minggu (26/1).
Cepatnya penyebaran virus corona membuat sejumlah negara melakukan pelarangan terbang bagi warganya maupun menerima wisatawan asing atau travel ban.
Industri perhotelan pun mengaku semakin kehilangan konsumen dengan adanya travel ban.
Hingga pada akhir Februari lalu, pemerintah tak memungut pajak selama enam bulan. Total insentif yang dikeluarkan pemerintah ini mencapai Rp 3,3 triliun.
Namun sejak virus corona masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 hingga adanya seruan karantina diri atau social distancing, industri hotel semakin terpukul.
Bahkan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyetujui jika kamar hotel disewa untuk ruang isolasi suspect corona. Selain karena memang daya tampung hotel, hal itu juga bisa jadi alternatif bagi usaha perhotelan yang kini tengah lesu.
"Itu memungkinkan. Tergantung masing-masing pemiliknya. Kalau (Menteri BUMN) Erick kan (usul) hotel BUMN. Kalau di swasta bisa-bisa aja, mereka melihat daripada kosong," ujar Yusran ketika dihubungi kumparan, Rabu (18/3).
Maskapai Penerbangan
Penyemprotan disinfektan di pesawat Lion Air
Petugas membersihkan kabin pesawat dengan cairan disinfektan. Foto: Dok. Lion Air
Maskapai penerbangan juga dinilai sebagai salah satu industri yang paling merana akibat mewabahnya virus corona.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra bahkan mengaku 'babak belur' dengan adanya virus asal Wuhan, China tersebut.
Ditambah dengan adanya penutupan penerbangan umrah ke Arab Saudi. Mengingat, jemaah umrah menjadi pasar besar bagi bisnis penerbangan Garuda.
"Ada penurunan lah, tapi kita enggak usah ngomongin gituan. Lumayan babak belur, tapi ya sudahlah," ujar Irfan saat ditemui di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Minggu (8/3).
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, merananya BUMN penerbangan ini karena virus corona mewabah lebih dulu ke negara tujuan, seperti China dan Timur Tengah. Sehingga bisnis penerbangan konvensional mereka terganggu.
"Memang semua, apalagi umroh haji tidak ada, sekarang Australia tutup. Garuda pasti terdampak," terangnya.
Agar Garuda Indonesia tetap bernafas, Erick mengungkapkan ada negosiasi yang dilakukan secara menyeluruh sejak 1,5 bulan lalu, terutama penyelesaian masalah utang dan masalah menyeluruh dalam bisnis Garuda Indonesia.
Dia meminta bank-bank BUMN membantu Garuda Indonesia dan anak usahanya di penerbangan. Akan tetapi, dia belum mau membocorkan hasilnya.
Tak hanya di domestik, hampir seluruh maskapai penerbangan di dunia merasakan pahitnya COVID-19. Meski jumlah penumpang turun drastis, namun maskapai tetap melayani penerbangan.
Di Eropa misalnya, sejumlah maskapai yang terbang di benua biru itu tetap menjalankan penerbangan, meski pesawat mereka hanya mengangkut segelintir penumpang. Dari ratusan kursi yang ditawarkan di satu pesawat, sebagian besarnya kosong tak terisi.
Wisata
Sektor wisatawan juga menjadi salah satu yang tertekan dengan mewabahnya corona. Tak ada lagi turis asing yang membanjiri tempat-tempat wisata di Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai akan berdampak pada anjloknya pendapatan devisa dari sektor pariwisata.
Ekonom PT Bank Danamon Tbk, Wisnu Wardhana, mengatakan devisa pariwisata diperkirakan turun USD 730 juta (neto) atau sekitar Rp 11,6 triliun (kurs Rp 16.000) sepanjang tahun ini. Sementara dalam APBN 2020, pemerintah menargetkan devisa pariwisata mencapai USD 21 miliar.
"Perhitungan kami terkait devisa pariwisata yang akan turun sebesar USD 730 juta (neto) sepanjang tahun 2020, tidak jauh berbeda dengan perhitungan pemerintah," ujar Wisnu kepada kumparan, Minggu (8/3).
Ilustrasi wisatawan mengenakan masker
Warga dan wisatawan mengenakan masker di kawasan Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (17/) Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Event Organizer
Imbauan menjaga jarak sosial atau social distancing hingga bekerja dari rumah atau work from home, turut mengikis penghasilan industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Ketua Umum Dewan Industri Event Indonesia (Ivendo) Mulkan Kamaludin mengatakan, kondisi tersebut membuat puluhan ribu karyawan terancam merana, akibat ditunda hingga dibatalkannya banyak event yang sebelumnya telah masuk kalender mereka.
“Di Industri MICE itu ada puluhan ribu pekerja terancam kehilangan mata pencaharian akibat wabah corona," ujar Mulkan, Sabtu (21/3).
Tercatat setidaknya jumlah minimal pekerja industri kreatif yang terdampak sebanyak 54.871 dan maksimal 90.463 orang. Data itu berbasis rekap konsolidasi 7 dari 18 komunitas yang mencakup 3 ribu lebih perusahaan dan profesional di bidang industri event.
Tak hanya itu, dari 112 perusahaan Event Organizer, kerugian tercatat hingga Rp 2,6 triliun. Data itu hanya mewakili 10 persen dari total keseluruhan perusahaan.
Mulkan mengatakan, telah terjadi 96,43 persen kasus penundaan dan 84,86 persen kasus pembatalan event di 17 provinsi pasca-pengumuman resmi pemerintah tanggal 2 Maret 2020.
"Potential loss dari event yang ditunda dan dibatalkan antara Rp 900 miliar sampai Rp 2,6 triliun, itu baru dari sekitar 10 persen dari jumlah perusahaan yang ada. Estimasinya dari 1.218 organizer di seluruh Indonesia minimal Rp 2,69 triliun dan maksimal Rp 6,94 triliun," jelasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru