Pesugihan Nyi Puspo Cempoko Bikin Kaya Taruhan Nyawa



Wajah Tejo terlihat sedih sebagaimana anak kucing yang kehilangan induknya. Ki Tomo hanya menyimak apa yang dituturkan oleh pasiennya ini.
“Aku kepengen kawin sama Nyai Puspo Cempoko,” ujar Tejo dengan mantap.
Tejo nekad pergi menemui ki Tomo karena tidak memiliki jalan lain. Dalam 6 bulan terakhir, toko barang elektronik miliknya sepi pengunjung. Hal ini tentu saja mempengaruhi pendapatannya yang kemudian berimbas kepada upah 4 orang pegawainya.
Tejo tak kuasa memecat karyawan-karyawan yang memiliki etos kerja serta dedikasi itu, terkhusus Sari, karyawan perempuan satu-satunya. Tejo tak kuasa memecat Sari bukan hanya karena Sari jujur dan cekatan dalam piawai mengatur kasir dan keuangan. Diam-diam, Tejo berharap hubungannya dengan Sari lebih dari sekedar bos dengan pegawai.
Tejo juga tak ingin memikul rasa malu yang mungkin bisa saja harus dibawa hingga ke liang lahat. ia tidak ingin dianggap sebagai orang gagal oleh keluarga besarnya akibat betapa ambisiusnya Tejo untuk menjadi pengusaha saat itu. Demi merintis usaha, ia nekad berhenti kuliah yang tentu saja ditentang oleh kedua orang tuanya.
Sebelumnya, Tejo sudah berusaha untuk mempertahankan toko barang elektroniknya dengan cara meminjam sejumlah uang ke bank, tapi sekarang ia malah ketar-ketir akibat tidak bisa melunasi hutang tersebut. Berkat informasi dari salah satu kerabatnya, ia nekad untuk melakukan pesugihan Nyai Puspo Cempoko.
“Tapi kamu siap buat jadi bujang selamanya?” tanya ki Tomo serius.
“Maksudnya, ki?” tanya Tejo heran.
“Pesugihan ini mengharuskan kamu untuk menjalin hubungan dengan Nyai Puspo Cempoko sebagaimana menjalin hubungan dengan perempuan pada umumnya,” tukas ki Tomo.
Tejo berpikir sejenak, meskipun tidak ada pilihan lain selain menyetujui syarat yang dijelaskan oleh ki Tomo. Demi mendapatkan kekayaan, ia harus menjalin hubungan dengan Nyai Puspo Cempoko di sisa umurnya, termasuk dalam urusan ranjang.
“Yang harus kamu lakukan adalah mempersiapkan sebuah kamar khusus untuknya. Sediakan juga kembang, jajanan pasar, kelapa hijau, menyan dan madu,” ucap ki Tomo.
5 hari setelah menemui ki Tomo, Tejo mempersiapkan semua yang diperlukan untuk memulai “kencan” pertama dengan Nyai Puspo Cempoko. Tak sulit untuk mencari semua kebutuhan yang disebutkan oleh ki Tomo di pasar. Adapun Tejo mempergunakan kamar kosong yang ada di belakang tokonya sebagai tempat untuk mereka bertemu.
Malam Jumat Kliwon, Tejo sudah duduk di tepian ranjang. Kamar tersebut sudah rapih, dipenuhi wangi kembang, dan diselimuti oleh temaram cahaya lilin. Suasana yang mendatangkan kesan romantis itu tetap saja tak menghilangkan rasa takut Tejo karena sebentar lagi ia harus melepas keperjakaanya dengan makhluk ghaib.
Ia sudah siap atas apa yang terjadi malam ini, namun pikirannya tetap saja tidak beranjak dari Sari. Sejujurnya ia begitu sangat menyayangi Sari, hanya saja jatuh miskin dan rusaknya harga diri merupakan hal-hal yang lebih mengerikan untuk saat ini.
Saat sedang memikirkan Sari, tiba-tiba saja Kasur menjadi terasa lebih berat seakan-akan ada orang lain yang naik ke atasnya. Tejo menarik nafas dalam-dalam, membuangnya perlahan, lalu memberanikan diri untuk membalikan badan.
Tejo pikir Nyai Puspo Cempoko memiliki wujud seperti nenek-nenek atau kuntilanak, tapi yang ada di hadapannya adalah seorang wanita cantik yang berbaring dengan tatapan menggoda. Tejo tidak pernah melihat perempuan secantik ini di dalam hidupnya. Perasaan campur aduk yang bergejolak di dalam diri Tejo ketika melihat Nyi puspo Cempoko meluruhkan semua masalah yang ada di pikirannya, termasuk Sari yang ia pikirkan beberapa detik sebelumnya.
Nyai puspo Cempoko tidak berkata apapun, begitu pun Tejo. Tejo mendekati makhluk ghaib itu pelan-pelan, lalu melakukan apa yang harus dilakukan demi mendapatkan kekayaan.
Ritual klenik yang diperintahkan oleh ki Tomo membuahkan hasil. Selepas kencan pertama, pelanggan tiba-tiba toko elektroniknya hampir setiap hari dipenuhi pelanggan. Bisnis berjalan lebih baik dari sebelumnya sehingga Tejo tak perlu memecat karyawan-karyawannya.
Tejo mendapatkan bukti yang nyata dari pesugihan itu sehingga membuatnya menjadi semakin rajin bahkan menikmati setiap waktu kencannya dengan Nyai Puspo Cempoko. Maka dari itu Tejo selalu pulang lebih larut agar bisa bertemu dengan kekasih beda alamnya itu.
*
Malam itu, hanya ada Tejo dan Sari. Sari baru saja merapikan pembukan dan uang yang semakin banyak dan Tejo sedang mengambil nafas setelah merapihkan barang-barang baru.
“Sar, berhubung sudah larut, kamu pulang sama saya aja ya? Kebetulan aku malam ini lewat daerah rumah kamu.”
“oke, mas,” jawab Sari.
Baru saja mereka mengenakan jaket dan menenteng tas masing-masing, hujan deras turun tanpa aba-aba.
Sari dan Tejo mengisi waktu menunggu dengan membicarakan berbagai macam hal mulai dari urusan kerjaan, hingga berita-berita yang sedang heboh di masyarakat saat ini.
Mereka menikmati setiap bahasan yang dilontarkan. Sesekali keduanya tertawa-tawa kecil meskipun pada akhirnya mereka terdampar pada keheningan masing-masing saat kehabisan bahan percakapan. Sari hanya memandangi telepon selulernya dengan jari yang terus bergerak pada layar. Tejo diam-diam memperhatikan Sari yang sedang sedang fokus, dan sesekali tertawa kecil.
Sari terlihat lebih cantik malam itu. Karenanya Jantung Tejo berdegup lebih cepat, ia tak kuasa untuk menahan perasaan yang selama ini ia pendam.
“Sar, saya mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“apa, mas?” Sari mengalihkan pandangannya dari telepon ke wajah Tejo.
Tatapan mataSari membuat Tejo semakin tidak karuan. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana cara menyampaikan perasaan yang ia miliki tanpa terlihat konyol.
“Mungkin bakal kedengeran aneh, tapi saya mau bilang kalau saya suka sama kamu,” ujar Tejo tanpa ragu-ragu sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Sari.
Wajah Sari yang selalu terlihat tenang tiba-tiba seperti tersengat listrik. Tejo diam saja, menunggu Sari memberi respon.
“A..aku juga,mas,” jawab Sari dengan gugup.
Sekarang giliran Tejo yang seperti tersengat listrik, hanya saja dengan voltase yang lebih besar.Ia kaget bukan kepalang mendapati orang yang selama ini ia sukai memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tejo tiba-tiba semakin mendekatkan tubuhnya kepada Sari yang sedari tadi diam seperti patung. Entah apa yang yang ada dipikiran Tejo ketika ia tiba-tiba memegang dagu Sari dengan lembut sembari menatap matanya dalam-dalam.
Bibir Sari bergetar akibat nafasnya yang menjadi berat. Telapak tangannya yang lembut mendarat di pipi Anton. Mendapat respon seperti itu, Tejo spontan menggenggam pergelangan tangan Sari lalu menariknya ke kamar belakang. Keduanya memadu kasih di balik hujan.
*
Keesokan paginya, Agus dibuat bingung. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tapi toko elektronik tempat ia bekerja masih tertutup rapat.
“Gus, ini kok masih tutup?” tanya Jaenal, rekan kerjanya yang baru saja datang.
“Gak tau, Jay. Aku juga baru datang.”
Dengan penuh perasaan sungkan, Jaenal inisiatif menelpon bosnya yang biasa datang lebih dulu untuk membuka toko. Panggilan terhubung, namun ia mendengar bunyi suara telepon seluler dari dalam toko.
Keduanya semakin merasa heran. Untuk memecahkan rasa penasaran, Jaenal membuka toko dengan kunci cadangan yang ia simpan untuk berjaga-jaga.
Di dalam, terdapat 2 buah tas yang salah satunya tergeletak di atas meja kasir. Baik Jaenal maupun Agus mengenali tas-tas tersebut dengan baik.
“Mas Tejo, Mba Sari!” Agus mencoba memanggil.
Tapi hanya ada keheningan di dalam toko itu.
Karena semakin kebingungan, mereka berdua mulai mencari Sari dan Tejo ke belakang toko. Setelah mencari ke beberapa ruangan, Jaenal dan Agus masih belum menemukan keberadaan mereka, hingga mereka melihat kamar belakang berada dalam keadaan tidak tergembok.
Dugaannya mereka benar. Dua orang yang mereka cari ada di dalam kamar. Tapi, mereka tidak menduga bahwa dua orang yang mereka cari-cari ini berada di atas Kasur dalam keadaan bertumpuk, tanpa busana dengan lidah yang menjulur serta bola mata yang seakan ingin keluar dari tengkorak mereka.
Kedua rekan kerja mereka mati akibat membuat sakit hati Nyai Puspo Cempoko.
Tulisan ini merupakan reka ulang dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru