Obat Flu Jepang Avigan Diklaim Bisa Sembuhkan Virus Corona

BEIJING, CHINA - MARCH 12: Chinese women wear protective masks as they ride the bus in the central business district  on March 12, 2020 in Beijing, China. The number of cases of the deadly new coronavirus COVID-19 being treated in China dropped to below 15,000 in mainland China Thursday, in what the World Health Organization (WHO) declared a global public health emergency last month. China continued to lock down the city of Wuhan, the epicentre of the virus, in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease but has moved to ease restrictions in other parts of the province. Officials in Beijing have put in place a mandatory 14 day quarantine for all people returning to the capital from other places in China and abroad. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 3173 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in many other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, India, Iran, Italy, the United Kingdom, Germany, France and several others. The World Health Organization has warned all governments to be on alert and raised concerns over a possible pandemic. Some countries, including the United States, have put restrictions on Chinese travellers entering and advised their citizens against travel to China.(Photo by Kevin Frayer/Getty Images)

Jakarta - 
Pejabat kesehatan China mengatakan sebuah obat yang digunakan di Jepang "efektif" untuk menangani pasien yang mengidap virus corona COVID-19. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat Kementrian Sains Dan Teknologi China, Zhang Xinmin.
Ia menilai obat bernama favipiravir, yang dikembangkan anak perusahaan Fujifilm, telah mencetak hasil memuaskan dalam uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien.

"Favipiravir memiliki tingkat keamanan yang tinggi, yang efektif dalam penanganan pasien corona," ujar Zhang kepada awak media, seperti dikutip dari Guardian, Rabu 18 Maret 2020.
Menurut laporan media NHK, pasien yang diberi favipiravir di Shenzhen terbebas dari covid-19 setelah sempat dinyatakan positif pada empat hari sebelumya. Pasien yang diberi obat tersebut, dinyatakan sembuh dari COVID-19 usai 11 hari lalu.

Tidak hanya itu, hasil X-rays memperlihatkan sekitar 91 persen pasien mengalami peningkatan kondisi paru-paru usai diberi favipiravir. Sementara pasien yang tidak mendapat obat tersebut, angkanya hanya berkisar 61 persen.


Fujifilm Toyama Chemical, perusahaan pengembang obat tersebut yang dikenal juga dengan Avigan, telah mengembangkan favipiravir sejak Tahun 2014. Hingga saat ini Avigan belum bersedia berkomentar mengenai pernyataan Zhang tersebut.

Saham perusahaan dari perusahaan Avigan meroket usai pernyataan Zhang yang beredar di media. Sejak COVID-19 mewabah, sejumalah dokter di Jepang telah menggunakan favipiravir untuk mengobati para pasiennya.

Namun, Kementerian Kesehatan Jepang mengindikasikan bahwa favipiravir tidak efektif terhadap pasien yang memperlihatkan gejala berat COVID-19.
"Kami telah memberikan Avigan ke 70 hingga 80 orang, tapi tidak efektif jika virusnya sudah berkembang biak," ujar Kementrian Kesehatan Jepang kepada Mainichi Shimbun.

Pada 2016, Pemerintah Jepang memasok favipiravir sebagai bantuan darurat untuk melawan wabah virus Ebola di Guinea. Favipiravir membutuhkan persetujuan Pemerintah Jepang jika akan digunakan secara massal untuk pasien COVID-19, karena obat tersebut awalnya hanya diperuntukkan untuk mengobati flu biasa.

Seorang pejabat kesehatan Jepang mengatakan kepada Mainichi bahwa favipiravir bisa disetujui oleh pemerintah pada awal Mei. Tapi jika hasil riset klinisnya ditunda, maka pengesahannya juga bisa tertunda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru