Memahami Obat Klorokuin dan Avigan yang Dipesan Jokowi untuk Lawan Corona

Chemical formula of Chloroquine on a futuristic background 

Jakarta - 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memesan jutaan obat klorokuin dan avigan untuk membantu kesembuhan pasien Corona. Meskipun belum ada antivirus khusus COVID-19, dua obat itu sudah dicoba di beberapa negara.

Seperti diketahui, klorokuin atau klorokuin fosfat selama ini dikenal sebagai obat malaria. Dari hasil studi riset yang dilakukan di China dan Amerika, pasien Corona di Wuhan dinyatakan sembuh dan mengalami perbaikan kondisi tubuh setelah diuji klinis dengan diberi klorokuin.

Wakil Kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China, Sun Yanrong, dalam konferensi pers pada Selasa (18/2/2020), menyatakan klorokuin mempunyai efek penyembuhan tertentu pada penyakit virus Corona. Hal ini diketahui setelah dilakukan berbagai macam uji klinis di rumah sakit di China.

Mengetahui soal hal ini, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendorong universitas untuk melakukan riset praktis. Pasalnya, pada klorokuin, terdapat kandungan yang sama dengan kina yang tumbuh subur di Jabar.

Ridwan Kamil mengaku sudah berdiskusi guru besar Unpad bidang farmakologi, Keri Lestari, terkait klorokuin ini.

"Klorokuin ini punya potensi yang luar biasa, hanya belum menjadi mainstream, saya imbau bagi universitas di Jabar, salah satunya Unpad untuk meyakinkan lagi dengan bukti empirik bahwa itu adalah obat (Corona)," katanya.
Pemerintah Siapkan Jutaan Avigan dan Klorokuin untuk Obat Corona:


Sementara itu, Avigan merupakan obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, Avigan. Obat ini juga dikenal dengan Favipiravir.

Obat ini sudah diujikan ke para pasien. Uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien hasilnya memuaskan.

"Favipiravir memiliki tingkat keamanan yang tinggi, yang efektif dalam penanganan pasien corona," ujar Kementerian Sains dan Teknologi China, Zhang Xinmin, kepada awak media, seperti dikutip dari Guardian, Rabu (18/3/2020).
Menurut laporan media NHK, pasien yang diberi Favipiravir di Shenzhen terbebas dari COVID-19 setelah sempat dinyatakan positif pada empat hari sebelumnya. Pasien yang diberi obat tersebut, dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah 11 hari lalu.

Tidak hanya itu, hasil X-ray memperlihatkan sekitar 91 persen pasien mengalami peningkatan kondisi paru-paru setelah diberi Favipiravir. Sementara pasien yang tidak mendapat obat tersebut, angkanya hanya berkisar 61 persen.

Avigan telah mengembangkan Avigan atau Favipiravir sejak 2014. Saham perusahaan dari perusahaan Avigan meroket setelah pernyataan Zhang beredar di media.

Namun Kementerian Kesehatan Jepang mengindikasikan bahwa Favipiravir tidak efektif terhadap pasien yang memperlihatkan gejala berat COVID-19.

"Kami telah memberikan Avigan kepada 70 hingga 80 orang, tapi tidak efektif jika virusnya sudah berkembang biak," ujar Kementerian Kesehatan Jepang kepada Mainichi Shimbun.

Pada 2016, pemerintah Jepang memasok Favipiravir sebagai bantuan darurat untuk melawan wabah virus Ebola di Guinea. Favipiravir membutuhkan persetujuan pemerintah Jepang jika akan digunakan secara massal untuk pasien COVID-19, karena obat tersebut awalnya hanya digunakan untuk mengobati flu biasa.

Seorang pejabat kesehatan Jepang mengatakan kepada Mainichi bahwa Favipiravir bisa disetujui oleh pemerintah pada awal Mei. Tapi jika hasil riset klinisnya ditunda, maka pengesahannya juga bisa tertunda.

Sebelumnya, Jokowi telah memesankan Klorokuin dan Avigan. Dua obat ini dipesan karena pernah dicoba untuk menyembuhkan pasien Corona di beberapa negara.

"Ya pertama antivirus sampai sekarang belum ditemukan, tapi ada beberapa obat yang dicoba di 1, 2, 3 negara yang memberi kesembuhan," kata Jokowi kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/3/2020)
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

PESUGIHAN DENGAN CARA BERHUBUNGAN SEKS DENGAN NYI BLORONG (ULAR CANTIK)