Kasus COVID-19 di Belanda Buktikan Virus Corona Bisa Menular dalam Senyap

Ilustrasi corona di Belanda
Ilustrasi corona di Belanda. Foto: REUTERS/Piroschka van de Wouw
Kasus virus corona SARS-CoV-2 di Belanda pertama kali diumumkan pada 27 Februari. Beberapa hari berjalan, sejumlah petugas medis bergilir jatuh sakit. Mereka mengalami gejala batuk dan pilek. Hal itu mendorong pemerintah melakukan skrining massal di dua rumah sakit di Breda dan Tilburg.
Dari 1.353 staf rumah sakit di Belanda yang dites virus corona, hasilnya ada 86 orang atau 6,4 persen di antaranya terkonfirmasi positif COVID-19. Hampir setengah dari mereka mengalami demam, dan mayoritas mengaku sempat bekerja saat mengalami gejala sakit ringan.
Prevalensi tinggi yang tidak terduga ini disebut sebagai indikasi adanya penyebaran senyap di dalam komunitas, sebagaimana ditulis Marion Koopmans dalam sebuah riset di medRxiv yang disusun bersama Jan Kluytmans.
Penelitian mereka menjadi yang pertama menggambarkan efek klinis penyakit COVID-109 di antara tenaga kesehatan. Sekaligus mengonfirmasi karakteristik paling berbahaya dari virus SARS-CoV-2, yakni penularan tanpa gejala. Seseorang yang tampak sehat bisa saja sebenarnya telah terjangkit. Ketidaksadaran ini berisiko tinggi membuka penularan baru.
Koopmans yang merupakan Kepala Departemen Viroscience di Erasmus University Medical Center mengatakan, transmisi tanpa gejala menunjukkan infeksi virus corona bisa berlangsung sangat ringan. Gejala batuk dan pilek yang muncul sangat samar sehingga disalahartikan sebagai flu musiman biasa.
"Ada spektrum penyakit yang masih belum sepenuhnya diketahui," kata rekan penelitinya, Kluytmans, seperti dikutip Bloomberg. “Pada tahap awal, ada fokus yang kuat pada kasus yang lebih parah, yang kita lihat juga. Tetapi sekarang kita melihat bahwa ada banyak lagi. ”
Virus Corona-Ilustrasi tenaga medis penanganan virus corona
Ilustrasi tenaga medis penanganan virus corona. Foto: Indra Fauzi/kumparan
Sebagai studi lanjutan, peneliti akan menganalisis berapa banyak pekerja kesehatan yang menghasilkan antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. Temuan ini akan membantu menentukan tingkat perlindungan mereka terhadap infeksi ulang atau kembali tertular setelah sembuh.
Kluytmans sempat menyoroti jumlah pasien yang terus meningkat. Surat kabar lokal Trouw melaporkan, unit perawatan intensif akan segera dipenuhi lebih dari kapasitas, mengutip laporan dari asosiasi medis.
Sebagai antisipasi, pemerintah Belanda tengah bernegosiasi dengan Jerman untuk kemungkinan mentransfer pasien kritis. Dokter juga mulai menawarkan opsi kepada pasien lanjut usia terkait apakah mereka lebih suka dirawat di rumah, alih-alih memenuhi bangsal perawatan intensif. Tak pelak, langkah ini memicu kepanikan di kalangan warga lansia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru