Kasus Corona Bisa Tembus 2,5 Juta Pertengahan April 2020, jika Tanpa Intervensi

 Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia semakin meluas. Hingga Sabtu (28/3/2020), jumlah kasus positif corona telah mencapai 1.155 kasus. Angka tersebut diprediksi akan bertambah secara signifikan sampai ratusan ribu hingga jutaan kasus.

Berdasarkan draf Covid-19 Modelling Scenarios di Indonesia yang disusun oleh Iwan Ariawan, Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), kasus positif Covid-19 di Indonesia bisa mendekati angka 2,5 juta kasus pada pertengahan April 2020, apabila tidak ada intervensi apapun yang dilakukan.
"Angka 2,5 juta kasus positif Covid-19 di Indonesia ini merupakan skenario terburuk kalau tidak melakukan apa-apa. Tentunya kita tidak mengharapkan hal ini terjadi. Apalagi, pemerintah juga sudah mulai melakukan beberapa intervensi untuk mengurangi penyebaran Covid-19.”
Berdasarkan sejumla literatur, Iwan menjelaskan, dari setiap kasus Covid-19 akan menginfeksi setidaknya dua orang lainnya. Waktu penggandaan tersebut berlangsung setiap empat hari.
Asumsi lainnya yang digunakan untuk menghitung batasan jumlah kasus tertinggi ini adalah jumlah populasi orang dewasa (> 20 tahun) yang mencapai sekitar 172 juta.
Tim dari FKM UI juga menarik data dari awal Februrari 2020 yang diprediksi sebagai awal kemunculan kasus Covid-19 di Indonesia. Dari asumi yang digunakan tersebut, didapatkan angka mendekati 2,5 juta kasus apabila tidak ada intervensi apapun yang dilakukan.
Bila ada intervensi tetapi rendah, kasusnya jadi lebih sedikit menjadi sekitar 1,7 juta kasus. Bila dilakukan intervensi moderat, kasusnya sekitar 1,2 juta. Sedangkan dengan intervensi yang tinggi, diprediksi mencapai sekitar 500.000 kasus.
Adapun yang dimaksud intervensi rendah seperti melakukan jarak sosial secara sukarela dan membatasi kerumunan massa. Intervensi moderat antara lain melakukan tes massal dengan cakupan yang rendah, serta mengharuskan jaga jarak sosial (penutupan sekolah/bisnis).
Sedangkan yang dimaksud intervensi tinggi apabila dilakukan tes massal dengan cakupan yang tinggi dan mewajibkan jaga jarak sosial.
"Jika melihat skenario terburuk ini, artinya ada sekitar 2,5 juta orang yang membutuhkan perawatan. Dengan adanya intervensi pun angkanya masih tetap tinggi. Sementara jumlah tempat tidur di rumah sakit, apalagi rumah sakit rujukan Covid-19 masih terbatas," tandas Iwan.
Rekomendasi Kebijakan

Tim dari KHM UI ini juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemerintah agar skenario buruk tersebut tidak sampai terjadi, sehingga fasilitas kesehatan di Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menangani kasus Covid-19.
Rekomendasi kebijakan pertama adalah mewajibkan social distancing. Opsi pertama dilakukan serempak secara nasional, misalnya mulai 1 April 2020 sampai satu bulan dan dievaluasi kembali.
Opsi kedua adalah mewajibkan social distancing di wilayah dengan risiko tinggi selama satu bulan dan dievalusasi kembali, atau di wilayah yang belum maupun yang masih sedikit kasus.
Rekomendasi kedua adalah memberlakukan kebijakan khusus ramadan dan lebaran yang bergantung dari penyebaran Covid-19. Misalnya saja imbauan salat tarawih di rumah, himbauan salat Ied ditiadakan, dan juga larangan mudik.
Memberlakukan kebijakan khusus Paskah juga perlu dilakukan, seperti imbauan kebaktian atau misa Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah di rumah, imbauan kebaktian atau misa dan acara terkait perayaan Paskah ditiadakan, dan juga larangan mudik.
Rekomendasi selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan (supply side). Perlu disiapkan rumah sakit pemerintah dan non-pemerintah (pemenuhan tenaga kesehatan, sarana prasarana, ruang isolasi dan bahan medis).
Kemudian prioritas perawatan di rumah sakit untuk pasien Covid-19, melibatkan mahasiswa tingkat akhir dalam pemantauan ODP, serta melibatkan peserta internship dan co-ass dalam perawatan PDP.
Selanjutnya, menyiapkan laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) untuk desentralisasi uji Covid-19 (baik tes cepat dan PCR), mempercepat pengujian, serta mempersingkat alur pemberian hasil lab. Yang juga direkomendasikan yaitu penyiapan ruang isolasi non-rumah sakit.
"Setelah April 2020, jumlah kasusnya bisa menjadi semakin bertambah apabila tidak ada upaya-upaya pencegahan. Yang dikhawatirkan itu karena ada musim mudik dan lebaran, sehingga dikhawatirkan kasusnya bisa kembali naik. Makanya penting sekali memberlakukan kebijakan khusus ramadan dan lebaran," pungkas Iwan.
Sumber: beritasatu

2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru