Ilmuwan Terkemuka AS: Virus Corona Bisa Jadi Siklus Musiman!


New York jadi salah satu wilayah yang terdampak virus Corona di AS. Warga pun diimbau untuk kurangi aktivitas di luar ruangan guna cegah penyebaran COVID-19. 
Washington DC - 
Seorang ilmuwan senior di Amerika Serikat (AS) menyebut ada kemungkinan besar bahwa virus Corona bisa kembali dalam siklus musiman. Hal ini menggarisbawahi perlunya segera untuk menemukan vaksin dan perawatan yang efektif untuk mengatasi virus Corona yang kini merajalela secara global.
Seperti dilansir AFP, Kamis (26/3/2020), Anthony Fauci yang memimpin penelitian terhadap penyakit menular di Institut Nasional Kesehatan AS, menuturkan bahwa virus Corona mulai mengakar di belahan Bumi bagian selatan yang sedang mengalami musim dingin.
"Kita mulai melihat sekarang... di Afrika bagian selatan dan di negara-negara yang ada di belahan Bumi bagian selatan, bahwa kita memiliki kasus-kasus yang muncul saat negara-negara itu memasuki musim dingin," sebut Fauci dalam briefing terbaru.
"Itu benar-benar menekankan perlunya untuk melakukan apa yang sedang kita lakukan dalam mengembangkan vaksin, mengujinya secara cepat dan berupaya mempersiapkannya agar kita telah memiliki vaksin yang tersedia untuk siklus selanjutnya," ujar Fauci.
Saat ini diketahui ada dua pengembangan vaksin yang memasuki tahap uji coba ke manusia -- satu di AS dan satu di China -- dan kedua pengembangan itu akan memakan waktu setahun hingga satu setengah tahun sebelum bisa diproduksi di pasaran.
Blak- blakan Pembuatan Vaksin Corona di RI:
Perawatan yang efektif untuk virus Corona juga tengah diselidiki, dengan sejumlah obat-obatan baru dan obat lainnya yang repurposed, termasuk chloroquine antimalaria dan hydroxychloroquine.
"Saya tahu kita akan sukses dalam mengatasi ini sekarang, tapi kita benar-benar perlu bersiap untuk siklus lainnya," imbau Fauci mengingatkan.
Pernyataan Fauci ini mengindikasikan bahwa virus Corona bekerja lebih baik di cuaca lebih dingin dibandingkan kondisi yang panas dan lembab, seperti yang disampaikan dalam makalah penelitian terbaru China -- yang masih tahap awal dan menunggu tinjauan -- yang mencapai kesimpulan yang sama.
Alasan-alasan dari analisis tersebut antara lain droplet (tetesan) pernapasan yang bisa lebih lama bertahan di udara dalam kondisi cuaca dingin, dan karena cuaca dingin melemahkan imunitas. Alasan potensial lainnya ialah virus Corona mengalami degradasi lebih cepat di permukaan yang lebih panas, mungkin karena lapisan lemak pelindungnya mengering lebih cepat. Namun, berkurangnya laju penularan dinilai bukan berarti virus Corona menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

PESUGIHAN DENGAN CARA BERHUBUNGAN SEKS DENGAN NYI BLORONG (ULAR CANTIK)