2 PDP Corona Dirawat di Ruang Isolasi, RSUD Sragen Kekurangan Alat Ini

SRAGEN -- Dua pasien dalam pengawasan atau PDP corona dirawat intensif di ruang isolasi RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen. Dua orang PDP tersebut masing-masing masuk RSUD pada Sabtu (21/3/2020) dan Senin (23/3/2020) pagi.

Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) hingga Senin tujuh orang dan pelaku perjalanan (PP) sebanyak 361 orang.
Penjelasan itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr Hargiyanto, seusai melaporkan kondisi penanganan virus corona kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo lewa video teleconference di kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Senin siang.
Hargiyanto mengatakan salah satu dari dua PDP corona Sragen itu berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun. Dia belum bisa menyampaikan secara detail riwayat dua PDP itu karena masih dugaan awal.
Dia menjelaskan dua PDP itu sebelumnya ODP yang dari hasil rontgen dan hasil laboratorium darahnya mengarah pada indikasi virus tetapi belum diketahui jenis virusnya. Dia menjelaskan satu PDP corona di RSUD Sragen itu baru masuk Senin pagi dan satu PDP lainnya masuk sudah dua hari lalu atau Sabtu.
“Kami sudah mengambil spesimen dari bagian ulu paring tiga kali dengan menggunakan oral swab. Pengambilan Minggu sekali dan hari ini [Senin] dua spesimen yang dimasukkan dalam virus transport media atau VTM,” ujar dia.
Dr Hargiyanto mengatakan RSUD Sragen saat kekurangan VTM. Dari empat alat VTM yang dimilki, sudah digunakan tiga sehingga tinggal satu.
Pengambilan spesimen itu, ujar dia, dilakukan dua kali per PDP, yakni pada hari pertama dan hari kedua. Dia menjelaskan spesimen itu kemudian dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta.

Pemkab Sragen Ajukan Bantuan VTM

“Di Balai tersebut spesimen diperiksa di laboratorium untuk memastikan PDP positif atau negatif virus corona. Pemeriksaan itu membutuhkan waktu 2-3 hari,” ujarnya.

Hargiyanto mengajukan bantuan VTM ke Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. Dalam penanganan dua pasien itu, petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
“Sebenarnya dua PDP itu mau dirujuk ke RSUD dr Moewardi Solo tetapi tidak bisa dan akhirnya kami tangani sendiri. Untuk sementara PDP dirawat di ruang isolasi,” ujarnya.
Dia mengatakan Pemkab Sragen mengupayakan pembelian rapid test sebanyak 500 unit sembari menunggu bantuan dari Jakarta. Dia mengungkapkan harga rapid test itu cukup mahal, yakni Rp200.000-Rp400.000/unit.
Selain itu, Hargiyanto menyampaikan 2.000 liter dari total pesanan 11.000 liter disinfektan sudah datang. Setiap 10 liter disinfektan bisa menjadi 1.000 liter campuran air dan disinfektan yang siap disemprotkan ke sejumlah fasilitas umum.
“Saya sudah kirim ke kecamatan untuk mendata jumlah fasilitas umum dan dilaporkan ke DKK maksimal Selasa (24/3/2020) ini. Kami juga terus sosialisasi agar masyarakat sadar social distancing atau jaga jarak. Kalau dilihat sekarang kesadaran itu belum sepenuhnya muncul,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Posko Siaga Covid-19 Kantor Kementerian Agama Kabupaten (Kemenag) Sragen Ulin Nur Hafsun menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sragen melakukan penyemprotan disinfektan ke 64 masjid dan pondok pesantren mulai Senin.
Dia menyampaikan pada Senin, tim menyemprot di 13 lokasi masjid dan ponpes Kota Sragen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru