Senin, 22 Juli 2019

Kisah Ken Arok, Dari Seorang Perampok Jadi Raja



Sejarah Ken Arok: Perampok Jadi Raja
Tanpa aspek mistik dan patron di lingkaran kekuasaan, Ken Arok bakal menjadi si bandit yatim jalanan.
Sebelum kita mengenalnya buat menyebut “orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dan sebagainya)” serta mengandung peran “swasta” atau untuk menunjuk segala yang-bukan-tentara, lema preman berasal dari vrijman alias ‘orang bebas”. Dipakai pada masa awal abad ke-17, vrijman merujuk orang-orang yang bekerja pada VOC tapi bukan pegawainya. Ia semacam makelar yang melakukan negosiasi-negosiasi atas nama kongsi dagang Hindia Belanda.

Seiring zaman, maknanya bergeser. Jerome Tadie dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta (2009) menjelaskan pada awal abad ke-20, vrijman disematkan buat mandor atau pekerja harian tanpa kontrak kerja di perkebunan-perkebunan Sumatera Timur. Dalam beberapa kesempatan, vrijman juga jadi pelindung para kuli lain dari perlakuan buruk tuan Belandanya.

Dalam budaya lain dan periode sejarah yang panjang, preman dikenal dengan sebutan-sebutan lain, dengan medan makna yang mirip. Di Banten dikenal jawara. Sementara di wilayah perdesaan Jawa, ia punya banyak nama: benggolanbrandalweriblaterbromocorah, dan sebagainya, yang punya ciri khas masing-masing.




Di wilayah partikelir di luar tembok Batavia alias Ommenlanden masa kolonial, orang Betawi mengenal sebutan jago dan centeng. Centeng adalah orang-orang kuat yang biasa jadi pengawal tuan tanah atau pejabat kolonial. Sementara jago adalah bandit-bandit yang tidak menghamba pada siapa pun. Mereka biasa merampok orang-orang kaya, dianggap sakti, dan karena itu mereka dihormati warga. 

Ada pula istilah yang lebih baru, yaitu gali alias ‘gabungan liar’ yang muncul sekira 1970-an, merujuk geng pencoleng yang merampok atau berbuat kejahatan lain. Dari penelusuran Tadie, para gali umumnya berasal dari Yogyakarta.

“Baru pada 1978, kata preman muncul untuk pertama kali dengan konotasi kriminal, di dalam sebuah serial roman detektif, yang pertama Ali Topan, Detektip Partikelir, yang menyenaraikan sejumlah nama yang disebut preman. [...] Pada 1980, surat kabar mulai menggunakan kata itu dengan arti mutakhir,” tulis Tadie (hlm. 213).


Tapi, preman, jago, atau gali bukanlah istilah yang berdimensi tunggal. Ia tak selamanya merujuk hanya pada krimanalitas. Di Sumatera Timur pada awal abad ke-20, preman bisa juga akronim dari ‘prei makan’. Para jago di sana jadi pelindung kuli dan, sebagai balas jasanya, bisa makan gratis.

Karena itu, terlepas dari unsur kekerasannya, para preman punya reputasi sebagai penjamin keamanan. Mereka adalah tokoh yang ambivalen. Ia bisa menjadi penolong yang dihormati tapi biasa dianggap penjahat. Pemaknaan itu bergantung dari siapa yang melabelinya.

Tadie merumuskan, “Preman hanya ditengarai dalam hubungan dengan lingkungannya, keterlibatannya dalam masyarakat, dan bukan kegiatannya, karena tak seorang pun mengetahuinya secara jelas. Jatidirinya ditetapkan oleh orang lain, oleh penduduk, tetapi juga oleh yang berwenang.”

Perampok Jadi Raja 

Mungkin sosok proto-preman paling terkenal dalam sejarah kerajaan kuna di Jawa adalah Ken Arok. Muasalnya adalah kekerasan, menurut sejarawan Onghokham, merupakan salah satu soko tegaknya kerajaan-kerajaan kuna, selain bersandar pada konsep dewa-raja.

Filolog dan arkeolog Johannes Gijsbertus de Casparis menyebut di daerah yang terpengaruh Indianisasi, sejak awal abad masehi ada fenomena seorang gembong bandit yang jadi raja.

“Banyak raja pertama Jawa berasal dari kalangan jago. Misalnya Ken Arok, Senapati, dan lain-lainnya. Selanjutnya, karena diperlukan unsur paksaan dari atas terhadap masyarakat, penggunaan para jago berjalan terus. Mereka merupakan unsur penting dalam sistem pemerintahan tradisional,” tulis Onghokham dalam Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2003, hlm. 180).

Jerome Tadie dan sejarawan Denys Lombard juga menempatkan Ken Angrok secara khusus. Kisahnya tersaji cukup detail dalam kitab klasik Pararaton. Ditulis sekira abad ke-16, bab pertama kitab ini berkisah tentang masa muda Ken Angrok hingga bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwa Bhumi, pendiri Kerajaan Singhasari.

Terlepas dari mitos-mitos yang melingkupinya, Keng Angrok adalah arketipe bagi generasi bandit setelahnya.

Ken Angrok dikisahkan berayah Dewa Brahma dan beribu seorang petani biasa. Ia lahir dilingkupi cahaya yang membuat ibunya takut dan meninggalkannya. Bayi Ken Angrok lalu ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.

Tentu saja Lembong mengajarinya keahlian mencuri. Tapi, di samping itu, Ken Angrok menjadi penggembala sapi. Hingga suatu hari, ia kehilangan sapi-sapi gembalaannya. Karena takut pada murka Lembong, Ken Angrok lantas kabur.

Sejak itulah ia terjerumus lebih dalam ke dunia kriminal. Bersama ayah angkat barunya, Bango Samparan, ia jadi penjudi. Ia juga menjalin persahabatan dengan pemuda bernama Tita dan memulai kiprahnya sebagai bandit desa. Gara-gara ulahnya, sering kali Ken Angrok jadi buronan Tunggul Ametung, seorang penguasa Tumapel.

Sewaktu jadi buron, Ken Angrok dengan mudah bersembunyi di kampung-kampung petani. Ia menyaru dengan cara mengabdi kepada seorang pengrajin emas bernama Mpu Palot. Ia bukannya tak pernah diceritakan tertangkap. Tapi, ia selalu dilepaskan ketika para penangkapnya mendapat suatu bisikan gaib.

Malapetaka dan Mistik

Fragmen kehidupan Ken Angrok muda itu memberikan gambaran awal bagaimana mulanya seorang bandit tumbuh. Sebagaimana ditengarai Eric Hobsbawm dalam Bandits (2001), perbanditan semula muncul di masyarakat pertanian di daerah pinggiran suatu negeri.

“Bandit sosial pada intinya para petani pelanggar hukum yang dianggap kriminal oleh penguasa dan negara, tetapi tetaplah bagian dari masyarakat petani,” tulis Hobsbawm (hlm. 20).

Dalam kasus Ken Angrok, jelasnya lingkungan ia tumbuh adalah perdesaan bercorak agraris di pelosok timur Gunung Kawi—kini daerah Malang. Di masa ia hidup, negara sentralnya adalah Kediri yang pusatnya di barat gunung di dekat Sungai Brantas. Keakraban dengan lingkungannya membuatnya dengan mudah bersembunyi dan menjauh dari jangkauan aparat Kerajaan Kediri.

Jerome Tadie (hlm. 227) mengamati motif seseorang jadi bandit dari fragmen ini. Menurutnya, nasib sial adalah pemicunya, sebagaimana Ken Angrok terjerumus karena kabur setelah gembalaannya raib. Ia pun sebenarnya sial dari sejak ditinggalkan begitu saja oleh ibunya. Hal macam ini kemudian ditemukan pula dalam kisah Si Pitung.

Sementara dalam pandangan Hobsbawm yang lebih realistis, kesialan itu bisa berarti ada kemiskinan akut atau krisis ekonomi. Menurutnya, keadaan itu memang memicu epidemi perbanditan. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari gagal panen, bencana alam, atau perang.

“Semua malapetaka semacam itu cenderung menggandakan perbanditan dari satu jenis atau lainnya. [..] terutama jika pemerintah lemah atau terpecah belah,” tulis Hobsbawm (hlm. 26).

Tengara lain yang teramati adalah campur tangan kekuatan gaib. Selain bisikan-bisikan gaib yang membuat Ken Angrok dibebaskan walau sudah tertangkap, aspek mistik tampak dari cahaya yang melingkupinya saat lahir.

Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya jilid 3 (2018, hlm. 174) menyinggung, “Pada suatu malam, ketika Ken Angrok sedang tidur, sekawanan kelelawar tampak keluar dari ubun kepalanya, tanda pasti masa depannya bakal gemilang.”

Aspek mistik ini tak terelakkan dalam dunia bandit Jawa kuna, demikian menurut Hobsbawm (hlm 44). Ia menekankan, “gerombolan ‘rampok’ yang tradisional secara esensial adalah ‘formasi kelompok yang memiliki sifat-dasar mistik-sihir.” 

Lagi-lagi, aspek mistik ini terus hidup dan menjadi penting dalam kisah jago-jago di Ommelanden Batavia pada abad ke-19, yang konon punya ilmu kebal.



Infografik HL Indepth Preman Nasional

Patron ke Kekuasaan

Pararaton memperlihatkan meski kekuatan mistik itu jadi bagian dari diri Ken Angrok muda, ia tak sepenuhnya menguasainya. Karena itulah ia ditakdirkan bertemu dengan brahmana Lohgawe yang kemudian jadi pembimbingnya. Melalui Lohgawe pula, Ken Angrok mendapat akses ke kaum penguasa.

Berkat posisi Lohgawe, Ken Angrok dikenal oleh Tunggul Ametung dan istrinya Ken Dedes. Ia juga berkawan dengan Kebo Ijo, seorang bangsawan Tumapel. Relasi-relasi inilah yang kemudian dimanfaatkannya untuk panjat sosial dan bahkan merebut kekuasaan Tumapel.

Ambisi Ken Angrok nyatanya tak hanya menguasai Tumapel. Tak berapa lama, setelah itu Kerajaan Kediri yang dipimpin Raja Kertajaya limbung. Raja itu berseteru dengan para brahmana yang menolak tunduk.

Memanfaatkan situasi itu, Ken Angrok menyerang Kediri. Kali ini ia tampil sebagai pembela hak kaum brahmana. Ia menang. Pada 1222, Kerjaan Singhasari memulai sejarahnya.  

“Kasus Ken Arok, sebagai asal-usul mitos seorang perampok yang menjadi raja, mengandung unsur lain yang membentuk jatidiri preman masa kini, yang menjadi bagian atribut dan aspirasinya: kemungkinan untuk memperoleh masa pensiun bermartabat dan mencapai kekuasaan,” tulis Jerome Tadie (hlm. 228).

Akhir cerita ini jelas menunjukkan relasi-relasi antara preman dan elite politik adalah fenomena kuna. Pola-pola itu terus berlangsung hingga kini, meski dengan konteks yang berbeda-beda seiring perubahan zaman. 

Jadi, bukan hanya penguasa yang memanfaatkan para bandit untuk menegakkan kekuasaannya. Sebaliknya, bandit-bandit pun memanfaatkan relasi itu untuk tujuan-tujuan politik atau ekonominya sendiri. 

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Fahri Salam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar