Minggu, 21 Juli 2019

Inilah Perjalanan Sampai Bulan yang Menegangkan Dialami 3 Astronout Ini

Gambar sisi terjauh Bulan. Foto: Dwingeloo Radio TelescopeLicengsui 081393621657 

Pekan ini menandai 50 tahun peringatan misi Apollo 11 oleh NASA. Pada 16 Juli 1969, Saturn V, roket terkuat sepanjang sejarah, berangkat dari Bumi dan sampai di Bulan pada 20 Juli 1969.

Tentu sudah banyak dokumentasi yang mengabadikan momen saat peluncuran di Bumi dan pendaratan di Bulan. Meski begitu, hal yang sama tidak ditemukan pada saat tiga astronot yang terlibat dalam misi Apollo 11 sedang dalam perjalanan di luar angkasa.

Michael Collins dan Buzz Aldrin, dua dari tiga astronot yang bertugas kal itu, mencoba mengenang perjalanan tersebut. "Sulit dipercaya bahwa kami sedang dalam perjalanan ke Bulan, pada ketinggian 1.200 mil (1.931 km) kurang dari tiga jam setelah meluncur, dan saya berani bertaruh kerumunan di Cape (Canaveral) masih bergerombol untuk kembali ke penginapan dan bar," ujar Collins.

Tak lama setelah meluncur, trio astronot tersebut sudah harus menjalankan tugasnya. Collins, dibantu Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, harus memisahkan kapsul luar angkasa dari bagian atas roket Saturn V. Kemudian, ia harus disambungkan dengan wahana antariksa Eagle yang digunakan untuk menjalankan misi di Bulan.

"Ini tentunya adalah manuver kritikal dalam rencana penerbangan ini. Jika pemisahan dan penyatuan tidak bekerja sebagaimana mestinya, kami harus kembali ke Bumi," kata Aldrin.

"Ada juga kemungkinan tumbukkan di luar angkasa dan pengurangan tekanan di dalam kabin, jadi kami menggunakan baju luar angkasa selama Mike (Michael Collins) memisahkan kami dari roket Saturn V," ujarnya menambahkan.

Untungnya, mereka dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Dari situ, aktivitas yang dilakukan ketiganya bisa dibilang tidak terlalu banyak.

Astronot di misi Apollo 11: Neil Armstrong (kiri), Michael Collins (tengah), dan Buzz Aldrin (kanan).Astronot di misi Apollo 11: Neil Armstrong (kiri), Michael Collins (tengah), dan Buzz Aldrin (kanan). Foto: NASA

Berdasarkan catatan NASA, pada 17 Juli, para kru hanya melakukan transmisi lewat televisi sebanyak tiga kali dan satu pembakaran mesin untuk membetulkan jalur mereka. Keesokan harinya, mereka kembali melakukan transmisi melalui televisi dan mengecek Eagle sebentar.

Walau demikian, situasinya berubah memasuki hari keempat dari misi Apollo 11, terhitung sejak 16 Juli. Semakin dekatnya mereka ke Bulan membuat atmosfer yang dirasakan berubah.

"Hari keempat memunculkan perasaan yang berbeda. Ketimbang mendapat tidur selama sembilan jam, saya hanya dapat tujuh (jam) dan merasa gelisah kala tidur," ucap Collins.

Pada saat ini, para astronot dapat kembali melihat Bulan sebagaimana seharusnya untuk pertama kali dalam hampir sehari. Mereka tengah berada di orbit Bulan kala itu.

"Bulan yang saya tahu sepanjang hidup saya, sebuah piringan dua dimensi berwarna kuning di langit, telah hilang ke suatu tempat, untuk digantikan oleh bola paling indah yang pernah saya lihat," kata Collins, sebagaimana detikINET kutip dari The Independent, Jumat (19/7/2019).

Meski begitu, itu bukan saatnya untuk bisa mengagumi keindahan Bulan berlarut-larut. Kala itu, tugas mereka untuk bersiap menyentuh permukaan Bulan dimulai. Para astronot memastikan proses penurunan mereka ke satelit alami Bumi tersebut aman dan pendarat yang akan membawa mereka turun juga aman.

Setelahnya, kita sudah tahu ceritanya. Neil Armstrong berhasil menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, disusul oleh Buzz Aldrin. Sedangkan Collins, memiliki caranya tersendiri dalam menikmati kesuksesannya bersama rekan-rekannya itu sampai ke Bulan.

Ia menghabiskan waktunya sendirian di orbit, menunggu Armstrong dan Aldrin, dengan terbang melihat-lihat Bulan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar