Jumat, 26 Juli 2019

Agama Sebagai Sumber Kedamaian atau Sumber Konflik?

                         Licengsui 081393621657
Benarkah, agama sejauh ini pembawa damai bagi kalangan setiap umat manusia? Jawabannya tentu tidak, agama sering kali menjadi sumber konflik bagi setiap manusia yang memaksakan kenyakinannya terhadap orang lain.
Inilah salah satu yang menjadi awal timbulnya kejahatan, dimana para pihak umat beragama menghakimi orang tanpa alat bukti yang cukup. Artinya mereka hanya berlandaskan kenyakinan dan iman, untuk memvonis seseorang yang di anggap sesat atau kafir.
Padahal sudah menjadi ketentuan hukum alam bahwa apa yang tampak oleh mata belum tentu selalu benar, oleh karena itu pembuktian secara ilmiah selalu dibutuhkan dalam memutuskan salah benar seseorang.
Agama juga kerap kali hadir sebagai pembatas ditengah-tengah umat manusia, dalam agama perbedaan seolah-olah merupakan kesalahan besar dalam dunia ini. Sehingga setiap orang yang melakukan kesalahan kecil, bisa berakibat fatal dikarenakan perbedaan, akan tetapi kesalahan yang besar beroleh kenyamanan asalkan hidup dalam persamaan, khususnya dalam kenyakinan.
Jika di tilik dari sejarah, agama-agama di dunia memperoleh pengalaman yang cukup buruk, mulai dari perang salib, perang arab, bahkan perlakuan keji terhadap seorang filsuf yang bernama Galileo Galilei. Dia di penjara dibawah tanah hingga pada akhirnya meninggal.
Agama tidak ada bedanya dari binatang buas, nyawa sudah tidak berharga, sama dengan ibarat singa yang memangsa domba. Singa tidak akan perduli seberapa sulit domba dalam mempertahan hidupnya. Singa hanya berpikir bagaimana mempertahankan hidupnya, tidak perduli apa yang dirasakan oleh domba tersebut. Begitulah agama dalam pandangan sejarah.
Lalu bagaimana agama hadir untuk membangun dan menerapkan kerja-kerja manusia, sementara agama sudah ternodah? Pertama, saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh seorang Biksu, dimana dikatakan bahwa “Agama yang baik adalah agama yang mampu membuat anda jauh lebih baik dan agama hanya baik bagi Anda yang menyakininya saja”.
Kedua tentu benar, bahwa agama sudah ternodah! Akan tetapi agama tidak bisa hilang dari dunia ini. Sebab ia merupakan kebutuhan sebagian besar umat manusia. Pertanyaannya, jika racun bisa menyelamatkan nyawa manusia, bukankah jauh lebih baik mengembalikan tujuan dan pungsi obat itu sendiri.
Kata ‘”Agama” berasal dari bahasa sankskerta , Agama terbagi dua yang terdiri dari “A” berarti tidak; “GAMA” berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau. Agama bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia yang penuh kedamaian, kesejahterahan dan kebahagian—dalam keberagaman umat manusia.
Agama bersifat mendamaikan, baik itu jiwa, hati dan pikiran serta persoalan-persoalan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Agama juga sebagai tempat menyebarkan belas kasih, kebajikan dan pengampunan.
Hal itu terlihat, dalam agama Islam yang menjadi inti dari ajarannya adalah kedamaian. Jadi yang perlu diprioritaskan untuk diperbuat oleh umat agama ini seharusnya inti dari ajaran tersebut.
Begitu juga dengan agama kristen yaitu kasih dan dalam agama Buddha adalah sebab akibat yang dikenal dengan istilah hukum “Karma”. Jika ditarik benang merah dari antara keberagaman agama, maka semua agama memiliki tujuan yang sama. 
Dan agama satu dan yang lainnya jelas saling berikatan. Artinya setiap orang tidak akan merasakan damai bila dalam dirinya tidak terdapat kasih. Begitu juga orang tidak akan memperlakukan segala sesuatu terhadap orang lain, bila ia sendiri tidak ingin diperlakukan hal yang sama oleh orang lain.
Jadi agama memiliki peran dan tanggung jawab untuk membawa manusia jauh lebih baik, damai, dan sejahterah. Salah satu contoh peran agama dalam menerapkan kerja-kerja manusia yaitu khususnya Agama Kristen Protestan, melalui gereja-gereja yang ada ditengah-tengah masyarakat, gereja hadir untuk memberikan bantuan khusus kepada orang yang mengalami bencana.
Gereja menuntut seluruh jemaatnya agar saling membantu antara sesama manusia. Oleh karena itu dalam kejadian-kejadian yang berdampak pada kerugian masyarakat. Maka seluruh umat gereja akan mengumpulkan persembahan pada saat hari ibadah telah tiba. Dan seluruh persembahan nantinya akan disumbangkan kepada orang-orang yang mengalami kerugian baik dalam materi maupun fisik.
Gereja juga datang sebagai penghibur bagi umat mereka yang menderita di rumah sakit, gereja akan mendoakan kesembuhan, ketenangan dan kenyamanan. Begitu juga dalam agama Buddha, mereka menitikberatkan kebijaksanaan dalam perbuatan—terutama, kebajikan, welas asih, dan kerendahan hati. Hal inilah yang seharusnya diperkuat oleh keberagaman umat beragama yaitu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dalam setiap orang.
Dengan demikian maka agama akan menjadi pembawa suka cita bagi setiap orang. Agama juga akan menjadi penerang dunia. Ia hanya menjadi buruk ketika ia mengambil bagian dari perpolitikan pemerintahan. Bisa kita baca sejarah negara-negara yang hancur dikarenakan faktor agama. Ketika agama mempengaruhi sebagian besar kebijakan pemerintah, maka bisa dipastikan nyawa manusia sudah tidak berharga lagi.
Agama hanya menyangkut persoalan pribadi terhadap Sang Pencipta, bukan ikut campur dan mengambil bagian dari perpolitikan dalam suatu negara. Karna politik selalu berbicara kepentingan serta memilih yang terbaik dari yang terburuk. Sementara agama hanya berbicara kepercayaan kepada Sang Pencipta sesuai apa yang dipercayai dan dinyakini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar