Minggu, 21 Juli 2019

84 Persen Remaja Belum Dapat Pendidikan Seks, BKKBN Ingin Buatkan Modul

Diperkirakan 84 persen remaja belum mendapat pendidikan seks yang komprehensif (Foto: Grandyos Zafna)Licengsui 081393621657 

Sebuah riset tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual menunjukkan, 84 persen remaja usia 12-17 tahun di 5 kota besar se-Indonesia belum mendapat pendidikan seks. Edukasi yang seharusnya diberikan tanpa perlu menunggu puber, baru diberikan saat anak berumur 14-18 tahun.

"Dari kecil (diajarkan), sehingga orang tua dibiasakan open-minded. Nanti kalau sudah gede-gede nggak concern lagi. Biar nggak gelagapan (kalau ditanyai)" kata Ketua Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia Dr Dra Rita Damayanti, MSPH.


Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Hasto Wardoyo, SpOG, menyatakan setuju dengan hasil riset tersebut. Pendidikan seks masih dipahami awam sebagai segala yang berkaitan dengan sexual intercourse, bukan kesehatan reproduksi yang harus diketahui anak sejak dini.

"Saya percaya survei itu, padahal apa salahnya tahu tentang kesehatan reproduksi. Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi punya public image yang berbeda. Karena itu saya ingin membuat modul soal kesehatan reproduksi yang tidak akan dipandang sebagai pendidikan seks," kata Hasto.
Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi punya public image yang berbeda. Karena itu saya ingin membuat modul soal kesehatan reproduksi yang tidak akan dipandang sebagai pendidikan seksHasto Wardoyo - Kepala BKKBN


Modul tersebut nantinya fokus pada upaya menjaga kesehatan organ reproduksi, penyakit yang mungkin timbul, dan siklus yang sifatnya khas misal menstruasi. Terkait menstruasi, perempuan wajib tahu perubahan mood diakibatkan fluktuasi kadar esterogen dan progesteron dalam tubuhnya.

Remaja juga wajib tahu penyebab tidak boleh menikah dini, yang terkait langsung dengn risiko kanker mulut rahim. Di usia belasan sel-sel dalam mulut rahim aktif membelah, sehingga tidak boleh terkena kontak benda asing dari luar tubuh misal alat kelamin laki-laki. Menikah dini meningkatkan risiko kanker saat perempuan berusian 30an.

Sayangnya, Hasto tidak menyebut target pembuatan modul yang akan disertai jargon tersebut. Belajar dari pengalamannya, modul dibuat dengan terlebih dulu berkonsultasi dengan pemuka agama dan dokter. Modul selanjutnya diajarkan di sekolah melalui guru Pendidikan Jasmani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar