Sabtu, 08 Juni 2019

Lahirnya Aliran Islam Prabowo Di Tahun 2019


Menggeluti dunia organisasi Islam, tidak asing dengan istilah Islam ber’garis’ atau dengan tambahan tertentu. Mungkin ini agak awam atau asing didengar jika tidak berurusan dan tidak mau tau dengan dunia organisasi islam.
Istilah Islam bergaris atau dengan tambahan istilah tertentu, muncul dikarenakan perbedaan tafsir dalam Islam sendiri. Istilah nya pun bermacam-macam. Label ini diciptakan ada yang dengan sendiri nya (karena perbuatan organisasinya/kebiasaannya) dan ada yang karena memang kebijakan organisasinya (untuk menentukan kebiasaannya).
Pun juga, diciptakan oleh internal nya sendiri atau eksternal yaitu masyarakat. Saya sendiri tidak tahu apakah Islam ber’garis’ atau istilah ini benar atau tidak, tetapi inilah kenyataan yang harus diterima yang terjadi dimasyarakat.
Beberapa Islam bergaris atau memakai istlah tertentu, seperti Nahdatul Ulama atau NU, dengan istilah Islam Nusantara nya, dimana menafsirkan Islam disesuaikan dengan kondisi budaya setempat yaitu Nusantara, dengan pusat budayanya yaitu pesantren.
Ada juga, Muhammadiyah, dengan istilah Islam Berkemajuan, dimana menafsirkan Islam dengan memperjuangkan masyarakat Islam yang maju dengan pendidikan dan amal usahanya.
Itu dari organisasi Islam, tapi didalamnya juga terdapat ‘sempalan’ nya. Seperti NU Garis Lurus, NU Garis Bengkok, hingga NU Garis Lurus. Atau Muhammadiyah bagian liberal nya, dengan anti-tesa yaitu konservatif. Pengelompokan seperti ini, muncul sendiri dimasyarakat kita.
Selain itu terdapat Jaringan Islam Liberal, yang membebaskan tafsir-tafsir Islam itu sendiri. Selain itu terdapat FPI yang terkenal dengan gerakan-gerakan demonya, dan ‘sebagai’nya, yang menurutnya sebagai amar ma’ruf nahi munkar. Terdapat lagi istilah Islam Wahabi (kalau yang ini saya belum tahu begitu banyak) karena menurutnya terdapat rujukan tokoh ‘wahab’ yang salah.  Ada juga kelompok Islam Tarbiyah, dengan gerakan liqo’nya, ini biasanya dikampus-kampus. Sebenernya masih ada banyak lagi.
Nah, kembali lagi, pengelompokan ini sudah tercipta dimasyarakat. Baik itu karena memang kebijakan organisasi nya, atau pun kebiasaan-kebiasaan yang dinilai masyarakat.
Tapi, akhir-akhir ini kayanya terdapat ‘garis’ atau ‘istilah’ baru, yang menurut saya agak lucu. Menggunakan ayat-ayat suci Al-Quran untuk membela Pak Prabowo semata. Walaupun juga ada yang untuk Pak Jokowi. Tapi tidak se masif Pak Prabowo.
Jika terdapat postingan/kata Pak Prabowo disitu juga tidak lupa dengan ayat suci Al-Quran. Menurut saya, ini tafsir mereka. Tidak apa, tidak salah.
Pun juga, dengan demo yang ’rusuh’ kemarin, tidak lupa ucapan takbir dilanturkan dengan sedikit garang (Sedikit intermezzo untuk peserta aksi, silahkan membaca Novel Api Tauhid, berkisah tentang Baiduzzaman Said Nursi, yang latar nya revolusi di Turki, intinya menurut saya tidak bisa menjalankan cita-cita syariat, dengan melakukan yang bertentangan dengan syariat). Nah, secara tidak langsung, menjadikan presepsi dimasyarakat akan organisasi anda, dan lebih-lebih Islam.
Saya tidak menghakimi, menurut saya, suatu yang berlebihan juga gak bagus, apalagi meagung-agungkan kepada satu tokoh (siapapun baik prabowo atau jokowi). Saya mengenalnya dengan Taklid Buta, dimana seseorang terlalu mengkultuskan seseorang tersebut.
Saya pernah belajar disalahsatu Organisasi Islam, tidak perlu saya sebutkan. Dimana memegang teguh untuk tidak mengkultuskan suatu tokoh atau seseorang. Jika kalian tau organisasinya, kalian bisa pelajari hal tersebut, intinya organisasi tersebut mempunyai peran penting dalam pendidikan di Indonesia.
Saya sendiri tidak tahu, apakah kondisi mengkultuskan (saat ini) baik untuk kemajuan Islam atau malah sebaliknya. Yang saya tahu, adalah buruknya persepsi Islam dimasyarakyat karena hal tersebut. Disatu sisi ada yang bilang karena framing media terhadap Islam. Sah-sah saja.
Tapi intinya gunakan akal rasional dalam bertindak. Baik dalam beragama maupun hal lainya. Dalam hal ini, saya berani mengkoreksi kata-kata saya, jika itu memang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar