Minggu, 30 Juni 2019

Keris Mistis Pangeran Diponegoro Kiai Nogo Siluman yang Hilang Misterius

Keris Mistis Pangeran Diponegoro
Kiai Nogo Siluman diserahkan kepada Raja Belanda sebagai simbol kekalahan Pangeran Diponegoro. Keris itu hilang misterius.
Pada Januari 1831, sesaat setelah tiba di Belanda. Raden Saleh diminta oleh SRP van de Kasteele, Direktur Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik (Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden) di Den Haag, untuk mengidentifikasi sebuah keris Jawa.
Sebelumnya, Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, perwira perang Diponegoro yang menyeberang ke pihak Belanda, telah mengidentifikasi dan melengkapi dengan keterangan bahwa keris itu asli keris Pangeran Diponegoro. Namun, Kasteele menginginkan pendapat kedua dari Raden Saleh.
“Tak dapat dibayangkan, bagaimana perasaan Saleh muda saat memegang keris Diponegoro yang agung itu? Perasaan menggigil seperti apa yang mengalir dalam tubuhnya? Sebagian keluarganya berjuang di pihak Diponegoro dan untuk itu mereka harus banyak berkorban. Tiba-tiba, keris itu, pusaka itu, inti kekuatan magis Diponegoro berada dalam genggamannya,” tulis Werner Kraus dalamRaden Saleh dan Karyanya.
Raden Saleh membuat penilaian singkat mengenai keris Pangeran Diponegoro yang bernama Kiai Nogo Siluman itu:
Kiai berarti tuan. Semua yang dimiliki seorang raja memakai nama ini. Nogo adalah ular dalam dongeng dengan sebuah mahkota di kepalanya.Siluman adalah sebuah nama yang terkait dengan bakat-bakat luar biasa, semacam kemampuan untuk menghilang dan seterusnya. Oleh karena itu, nama keris Kiai Nogo Siluman berarti raja ular penyihir, sejauh hal itu dimungkinkan untuk menerjemahkan sebuah nama yang megah.”
Ketika Raden Saleh mengungkapkan kata-kata itu, menurut Kraus, dia sebenarnya juga bisa berlutut dan menangis di hadapan keris itu. Namun, kelemahan itu tidak dia perlihatkan di kantor Van Kasteele. Orang pasti menduga, di dalam dirinya tentu bergolak perasaan luar biasa.
Mengapa keris itu diberi nama siluman?
Dalam biografi Pangeran Diponegoro, Kuasa Ramalan, sejarawan Peter Careymencatat kemungkinan karena Diponegoro dalam perjalanan berkelananya pada 1805 menginap satu malam di Gua Siluman (Guwo Seluman) di Pantai Selatan.
Gua Siluman disebut dalam Kidung Lelembut(Nyanyian Arwah) sebagai istana arwah di bawah kekuasaan dewi pantai selatan, Ratu Kidul, yang diperintah melalui wakilnya, Putri Genowati.
Ratu Kidul mendatangi Diponegoro dalam bentuk semburat cahaya. Namun, Diponegoro demikian terserap dalam samadinya sehingga tak mempan digoda. Dia pun mundur sambil berjanji bila saatnya tiba akan datang lagi kepadanya.
“Sebilah keris pusaka Diponegoro, yang kemudian diserahkan kepada Raja Belanda, Willem I, sebagai suatu lambang kemenangan dalam perang, konon bertatahkan nama Kanjeng Kiai Naga Siluman,” tulis Carey.
Beberapa tahun setelah Raden Saleh bertemu dengan Kiai Nogo Siluman, keris itu raib secara misterius. Sedangkan pusaka lainnya, seperti tombak Kiai Rondandikembalikan ke Indonesiadan tersimpan di Museum Nasional (nomor inventaris 270).
Hingga kini, Kiai Nogo Siluman tidak diketahui keberadaannya.
"Hilangnya keris yang merupakan pusaka Jawa itu dari museum di Belanda sejak abad ke-19 sulit dimengerti," tulis Kraus. "Kiai Nogo Siluman kini tidak bisa diidentifikasi. Hal itu membuka ruang bagi kemungkinan munculnya interpretasi mistik dan spekulasi."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar