Sabtu, 08 Juni 2019

Banyak Warga Palestina Diam-diam Pindah Kewarganegaraan Israel


Yerusalem, CNN Indonesia -- "Saya nyatakan saya akan menjadi warga yang loyal terhadap negara Israel."

Sebuah pernyataan yang wajib dibacakan oleh seluruh warga naturalisasi Israel. Kata-kata yang diucapkan oleh warga Palestina.

Di Yerusalem Timur, warga Palestina memiliki permasalahan yang kompleks soal identitas kewarganegaraan. Wilayah yang berhasil direbut Israel dari Yordania ketika perang Timur Tengah pada 1967 itu, diklaim merupakan bagian dari Israel.

Komunitas internasional tidak mengakui klaim tersebut, begitu pula dengan 300 ribu warga Palestina yang tinggal di sana.

Mereka bukan warga Israel, tetapi memegang kartu identitas berwarna biru yang dikeluarkan oleh otoritas Israel sebagai jaminan izin tinggal di sana.


Sebenarnya, mereka bisa mengajukan aplikasi kewarganegaraan Israel apabila mereka ingin. Namun, kebanyakan dari mereka menolak hal tersebut.

Warga Palestina ini tidak ingin mengkhianati sejarah mereka dan berbalik ke Israel yang telah 48 tahun mendiami wilayah Yerusalem Timur.

Penampakan berbeda justru terjadi satu dekade belakangan ini, di mana jumlah warga Palestina yang mengajukan aplikasi kewarganegaraan Israel semakin meningkat, menurut para peneliti dan ahli hukum.

Hal ini mencerminkan pupusnya harapan bahwa kemerdekaan negara Palestina akan terjadi. Namun, warga Palestina menganggap tindakan ini adalah pragmatis.

Mereka mengaku bahwa dengan memiliki kewarganegaraan Israel, kehidupan mereka akan lebih mudah. Misalnya, untuk mendapatkan pekerjaan, pindah rumah, atau berpergian ke luar negeri dan menerima akses layanan umum.

Menteri Dalam Negeri Israel Silvan Shalom mengatakan kepada Reuters bahwa ada 1.434 aplikasi yang masuk selama 2012-2013. Sebanyak 183 aplikasi tersebut telah diterima, sementara 1.061 lainnya masih dalam proses dan 169 dinyatakan ditolak.

Warga Palestina yang mengajukan aplikasi tidak terlalu suka untuk membahas hal ini. Janji loyal bukan sesuatu hal yang mudah bagi mereka, dan menjadi naturalisasi Israel, yang berarti sama saja dengan bergabung bersama musuh, adalah tabu.

"Rasanya buruk, sangat buruk," ujar seorang guru Palestina berusia 46 tahun yang telah mengucap janji naturalisasi tahun lalu.

"Kami hanya ingin menghidupi kehidupan kami. Karena pada akhirnya, politik tidak membawa kalian kemanapun," lanjutnya.

Bertahan di Yerusalem

Bagi kebanyakan warga Yerusalem Timur, bagian yang paling menakutkan adalah apabila Israel dapat mencabut kartu identitas biru mereka kapanpun.

Menghabiskan banyak waktu di luar negeri atau pergi bekerja di manapun, tidak bisa hanya dengan menggunakan kartu identitas tersebut. Namun, jika memiliki kewarganegaraan, mereka bisa melakukan semua itu.

"Saya ingin memperkuat kehadiran saya di Yerusalem," ujar seorang guru. "Ini adalah kampung halaman saya. Saya lahir di sini, tinggal di sini dan saya ingin tetap berada di sini," lanjutnya.

Tak dapat dipungkiri, banyak dari mereka mengalami pertentangan batin. Di satu sisi, sebenarnya mereka menolak menjadi warga Israel, sementara di sisi lain mereka harus bertahan di Yerusalem.

"Rasanya salah, sangat salah. Saya merasa malu karena pada akhirnya saya menyerah terhadap identitas asli saya," ujar penari balet Palestina berusia 26 tahun yang mengajukan aplikasi pada Juni lalu.

"Jika saya mendapat pasport Israel, saya tidak akan begitu lemah, terutama untuk tinggal di Yerusalem Timur. Di sini sangat mudah bagi kami untuk disingkirkan," lanjutnya.

Penari balet ini segera memberi tahu keluarganya setelah mengajukan aplikasi. Meski sempat kaget, namun mereka akhirnya mengerti dan menerima keputusannya.

Tak demikian dengan sejumlah warga Palestina lainnya. Mereka justru lebih memilih diam dan merahasiakan dari keluarga atau teman karena tindakan ini merupakan hal yang tabu.

Bagi warga Palestina, Yerusalem Timur adalah zona tengah. Mereka membayar pajak, menerima layanan kesehatan dan menikmati asuransi dari otoritas Israel. Tetapi, mereka seringkali diabaikan ketika mencoba mendapatkan layanan dasar kota, seperti pembersihan sampah, taman bermain baru dan sumber daya di sekolah-sekolah atau klinik.

Situasi ini sangat buruk di daerah-daerah seperti Shuafat, kamp pengungsian yang terletak beberapa menit dari Kota Tua Yerusalem.

Shuafat berada di luar beton pembatas yang dibangun Israel pada pertengahan 2000-an setelah banyaknya bom bunuh diri warga Palestina terjadi di sana.

Untuk mencapai Yerusalem Timur, warga Shuafat harus mengantri melalui jalan kurung besi yang melintasi pembatas beton. Sekitar 100 ribu warga Palestina hidup di luar pembatas tersebut, namun mereka masih warga Yerusalem.

"Tembok ini membuat panik," ujar Adi Lustigman, ahli hukum yang mewakili warga Palestina dalam mengajukan aplikasi kewarganegaraan.

"Mereka khawatir setelah rumah mereka berada di luar pembatas itu, hak-hak mereka akan dicabut," lanjutnya.

Menurut Lustigman, dalam beberapa tahun terakhir ini jumlah aplikasi yang diajukan untuk mendapat kewarganegaraan Israel mengalami lonjakan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar