Tokoh Publik Klaim Akun Medsos Diretas, Ahli Minta Dibuktikan


Tokoh Publik Klaim Akun Medsos Diretas, Ahli Minta Dibuktikan

Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam dua bulan terakhir, banyak tokoh publik yang mengaku akun media sosialnya diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab. Menanggapi 'fenomena' ini, ahli digital forensik Ruby Alamsyah mengatakan dari segi hukum para tokoh publik ini harus tetap memberikan bukti-bukti jika akun mereka dibajak.

Ruby menjelaskan penyelidik harus bisa membuktikan bahwa apakah akun media sosial tersebut diretas atau tidak.

"Terkesan  ada beberapa pihak yang jadi tersangka ada yang beneran menjadi korban peretasan. Ada juga yang membuat cerita atau peretasan jadi alibi mereka. Tinggal dibuktikan lagi oleh penyidik terjadi peretasan atau tidak," ujar Ruby usai diskusi Perlindungan Data Pribadi (PDP) di kantor Badan Siber Sandi Negara, Jakarta Selatan, Senin (27/5).

Ruby menjelaskan setiap klaim baik itu dari penyelidik atau korban harus diikuti dengan investigasi ilmiah. Dengan cara ini, setiap pernyataan soal klaim peretasan akun media sosial bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.


Ruby menjelaskan masyarakat juga harus memiliki kesadaran terkait pengamanan data. Salah satunya dengan menghindari menggunakan satu kata sandi untuk beberapa akun. Hal ini dilakukan agar masyarakat terhindar dari aksi peretasan.


Di samping itu, ia menerangkan jika masyarakat juga harus sadar dan melakukan upaya preventif apabila mendapatkan notifikasi bahwa akunnya digunakan di perangkat lain.

"Jadi fitur notifikasi  keamanan harus dinyalakan. Bagi platform yang besar mereka sudah mengaktifkan misalnya Instagram kita diaktifkan di perangkat A dan diaktifkan lagi di perangkat B. Dia langsung mengirimkan ke perangkat A kemudian bisa langsung di log out," jelasnya.

Ruby kemudian memberikan beberapa tips untuk mengamankan akun media sosial. Masyarakat harus menggunakan kata sandi yang berbeeda-beda untuk setiap akun.

Pasalnya, Ruby mengatakan kasus peretasan tokoh publik di Indonesia disebabkan oleh peretasan satue-mail. Berawal dari peretasan e-mail ini, seluruh akun lainnya berpotensi diakses oleh peretas. 


"Gunakan kata sandi email yang aman dan berbeda kata sandi di media sosial. Kata sandi email sama kata sandi media sosial harus beda. Lalu kata sandi di satu media sosial dan media sosil lain bagusnya berbeda walaupun tidak usah terlalu berbeda," tandasnya.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru