LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Jumat, 19 Mei 2017

Uztad Alfian Mirip Rizieq, Begitu Lantang Mengatakan Kader PDIP 85% PKI, Saat Diundang Polisi Mangkir

Ulah Ustad Alfian Tanjung yang menyebut kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan juga orang dekat Presiden Joko Widodo sebagai kader Partai Komunis Indonesia (PKI), telah membuat dirinya harus berurusan dengan hukum.
Ustad Alfian Tanjung pun dipanggil pihak Kepolisian karena diduga menyebarkan kebencian. Menurut informasi pihak Kepolisian, Alfian Tanjung seharusnya menjalani pemeriksaan pada hari Kamis kemarin (18/5/2017) di Mapolda Metro Jaya.
“Iya (dipanggil), rencananya tadi pukul 10.00 WIB, tapi saat ini belum ada informasi (datang atau tidak),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (18/5).
Argo menjelaskan, Alfian diperiksa terkait ucapannya di media sosial. “Terkait laporan PDIP (yang) disebut oleh beliau dalam akun twitternya bahwa PDIP 85 persen isinya kader PKI,” katanya. Sumber: Merdeka.com
Namun lucunya, ustad Alfian Tanjung ini justru mengikuti langkah Habib Rizieq Shihab yang juga pernah mangkir saat akan diperiksa Kepolisian. Meski bukan panggilan yang terakhir, namun sikap Alfian Tanjung yang juga merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA) ini jelas sangat berbeda dengan sikap kesatria yang diperlihatkan Ahok ketika menghadapi segala pemeriksaan.
Tidak tahu pasti apa yang menjadi alasan ustad Alfian Tanjung ini sehingga ia mangkir dari pemeriksaan.
Alfian Tanjung sendiri mengaku tak hadir dalam panggilan ini. Sebab, dirinya beralasan sedang keluar kota. “Hari ini belum bisa datang. Saya masih di luar kota, tapi kalau sudah di Jakarta dan dipanggil lagi saya pasti datang,” katanya saat dihubungi. Sumber: Merdeka.com
Intinya, hanya Ustad Alfian sendirilah yang tahu kenapa dia mangkir dari pemeriksaan. Tapi apapun alasannya, yang pasti kita patut bertanya kenapa selalu saja mereka yang begitu vokal awalnya ketika menuduh orang lain namun justru mangkir saat dipanggil pihak Kepolisian.
Alfian Tanjung dan Habib Rizieq inilah contoh kecilnya. Selain juga para koruptor yang biasanya suka mangkir ketika dipanggil KPK.
Pertannyaan besarnya, kenapa Ustad Alfian Tanjung harus mangkir? Padahal itukan baru pemeriksaan saja dan hanya berstatus sebagai terlapor. Harusnya justru Ustad Alfian Tanjung inilah yang dengan semangat dan bergegas dalam menghadiri proses pemeriksaan agar bisa memperlihatkan seluruh bukti terkait PKI yang dimilikinya kepada publik. Ini kok kenapa malah Ustad Alfian yang mangkir saat akan diperiksa?
Lagipula, sebagai panutan umat haruslah mampu memberikan contoh yang baik juga kepada masyarakat. Itu sebagai wujud kepatuhan dan kesetaraan kita di muka hukum. Seperti Ahok yang tidak pernah mangkir saat sidang, maka sebagai warga negara yang baik, Ustad Alfian diharapkan manut pada proses hukum yang sedang berjalan.
Jika ditelisik ke belakang, Ustad Alfian Tanjung ini bukan baru pertama kali membuat sejumlah pihak tersinggung. Sebelumnya, ia juga sempat menyebut anggota dewan pers Nezar Patria dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebagai antek PKI.
Istana Negara, kata Alfian, sering digunakan sebagai rapat PKI di malam hari. Ia menyampaikan tudingannya ini dalam berbagai kesempatan mulai dari pengajian hingga acara diskusi. Sumber: Kompas.com
Karena ulahnya itu, dia pun akhirnya tersandung masalah dengan beberapa pihak dan pernah harus sampai mendatangi kantor dewan pers untuk meminta maaf langsung kepada anggota dewan pers, Nezar Patria. Pasalnya Nezar Patria justru melayangkan somasi kepada Ustad Alfian Tanjung atas informasi yang dianggap tak bertanggung jawab itu.
Jika kita amati, sepertinya minat dan ketertarikan Ustad Alfian Tanjung ini terhadap hal-hal yang berwangi PKI sangatlah tinggi. Padahal PKI itu sudah bubar dan sudah dinyatakan terlarang sejak puluhan tahun lalu bukan?
Jadi, mungkin saja akibat minat dan ketertarikan yang terlalu tinggi terhadap isu PKI itu akhirnya malah melahirkan delusi. Alhasil, itu mungkin membuat Ustad Alfian Tanjung kalap dan justru secara serampangan menuduh orang lain sebagai antek-antek PKI.
            Maka dari itu, kondisi yang dialami Ustad Alfian Tanjung ini sebenarnya tidak boleh dibiarkan berkepanjangan. Ustad Alfian Tanjung harus segera ditolong untuk bisa sadar dan belajar menghargai orang lain. 

Sebagai Ustad, dia harusnya mampu bersikap santun dan menjaga marwahnya di mata masyarakat. Janganlah sedikit-sedikit langsung menuduh orang lain antek PKI tanpa ada bukti yang ditunjukkan lebih dulu. Jangan juga karena ustad Alfian phobia terhadap PKI lantas bisa seenaknya menuduh istana sudah dikuasai PKI. Apalagi nantinya jika tuduhan itu tanpa disertai dengan bukti yang nyata dan valid tentu akan membuat nama orang yang dituduh tercoreng.
Parahnya lagi, urusan hukum ini bahkan bisa jadi semakin panjang dan melebar jika nantinya Ustad Alfian Tanjung tidak mampu menunjukkan bukti-bukti yang konkret terkait isu PKI yang sudah dituduhkannya. Kalau bisa Kasih bukti dulu baru sebut nama orannya ya Ustad Alfian.
Jadi, untuk membuat semuanya terang-benderang, Ustad Alfian Tanjung harus segera menyelesaikan seluruh proses hukum yang menyeret dirinya. Harapan masyarakat, Ustad Alfian Tanjung harus hadir pada pemeriksaan selanjutnya. Yang penting, Ustad Alfian Tanjung jangan sampai meniru kelakukan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab yang justru lari dari kenyataan sehingga sampai saat ini tidak berani pulang ke tanah air Indonesia dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Selain itu, saya juga menyarankan agar Ustad Alfian Tanjung tidak hanya perduli dengan isu PKI. Namun isu-isu terkait radikalisme, terorisme, dan ormas-ormas anti Pancasila juga harus perduli. Oleh karena itu, Ustad Alfian Tanjung harus juga melaporkan pada pihak Kepolisian jika ada ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 yang mengancam negeri ini.
Siapkah ustad Alfian mengikuti instruksi Presiden Jokowi untuk “menggebuk” jika ada ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan muncul kembali di negeri ini? Tentunya bukan “menggebuk” sendiri namun melaporkannya ke Kepolisian.
Sebagai penutup tulisan ini, saya menyarankan agar Ustad Alfian belajar dari Ahok dalam hal ketahanan menghadapi proses hukum.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sudah nyata ketangguhannya menghadapi orang-orang yang intoleran, rasis, dan anti Pemilu multi-agama. Ahok juga sudah teruji keberaniannya dalam menghadapi segala pemeriksaan dan urusan-urusan hukum lainnya. Kenegarawanan bahkan keberserahan Ahok kepada Tuhan yang Maha Esa patut kita contoh.

0 komentar:

Posting Komentar