LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Rabu, 17 Mei 2017

Peneliti Dari Universitas Indonesia Bantah Ocehan Amien Rais Soal Reklamasi

Jakarta: Peneliti Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Firdaus Ali, menyayangkan adanya isu bahwa lahan reklamasi bakal dikuasai Tiongkok. Apalagi isu itu diembuskan seorang tokoh negara seperti Amien Rais baru-baru ini dalam diskusi soal reklamasi di DPR.

"Sudah di luar konteks ketika pak Amien Rais mengatakan Cina (Tiongkok) akan investasi. Semua dijual ke Cina. Saya bisa meluruskan isu itu. Kenapa? Karena saya saksi sejarah di dalamnya," tegas Firdaus dalam diskusi Pas FM di Resto Salero Jumbo, Jalan Timor, Jakarta Pusat, Rabu 17 Mei 2017.

Firdaus mengaku terlibat langsung dalam pengkajian reklamasi pantai utara Jakarta. Ia ingin mengklarifikasi hal tersebut langsung kepada Amien Rais jika ada kesempatan bertemu.


"Karena ini menyesatkan publik dan mencelakakan. Kenapa dikatakan PKI? Dikatakan aseng? Dikatakan Cina?" jelas pendiri Indonesia Water Institute itu.

Menurutnya, banyak publik kurang memahami urgensi dari proyek reklamasi sebagai bagian dari proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Firdaus mengatakan Jakarta butuh bantuan daya tampung berupa ruang baru. Sebab, Jakarta sudah tak bisa memikul beban lebih dari 13 juta penduduk.

"Kalau kemudian membangun ke selatan bagaimana? Selatan daerah yang harus kita jaga walaupun sekarang pembangunan ke selatan. Enggak mungkin ke kiri ke kanan. Karena enggak mungkin Bekasi mau kasih lahannya sejengkal pun. Apalagi Tangerang," kata Firdaus.


Selain soal reklamasi, ada lagi soal penolakan pembangunan Giant Sea Wall yang masih masuk dalam proyek NCICD. Firdaus mengungkapkan, Giant Sea Wall diperlukan untuk melindungi Jakarta dari banjir rob air laut. Apalagi, muka tanah daratan Jakarta berangsur turun.

"Yang bisa kita lakukan, menurunkan muka air laut. Bagaimana menurunkan muka air laut? Kita bikin tanggul," ujarnya.

Tanggul itu dibuat pompa yang akan menjadi jalur air untuk dibuang ke Jakarta. Pompa hanya difungsikan ketika musim hujan.

"Memompa kan tidak nonstop. Saya koreksi, ada pakar yang menghitung fantastis sampai dibutuhkan Rp60 triliun biaya untuk memompa. Padahal, dia dipompakan saat mendekati musim hujan saja," ujarnya.


 


(UWA
)

0 komentar:

Posting Komentar