LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Minggu, 28 Mei 2017

ISIS Sandera 1 Pendeta dan 14 Jemaat Di Marawi Filipina

PASUKAN keamanan Filipina menjatuhkan lebih banyak bom pada Sabtu (27/5) di selatan Marawi dan berjanji terus menggempur militan bersenjata Maute yang diduga merupakan bagian dari jaringan Islamic State (IS), meskipun memasuki bulan Ramadan.

"Kami telah mengidentifikasi di mana mereka melakukan konsolidasi sehingga kami melakukan operasi serangan udara untuk menghancurkan kelompok teroris setempat," ujar juru bicara militer, Letnan Kolonel Jo-ar Herrera.

Sementara itu pejabat Marawi pada Sabtu (27/5) melaporkan militer Filipina telah berhasil menguasai sebagian Kota Marawi termasuk lingkungan balai kota Marawi yang lama, daerah Toros, Bangon, Kadingilan, Moncado, Buadi Sakayo dan Koloni.

Sekarang menurut Brigade Angkatan Darat ke 103 dan Kantor Polisi Daerah Otonom di Muslim Mindanao (ARMM), operasi pembersihan akan difokuskan di daerah Moncado, Guimba, Malimomo, Marinaut dan Caloocan yang masih mengibarkan bendera IS.

Gubernur ARMM juga mengatakan bahwa sekitar 90 persen dari 200 ribu penduduk Kota Marawi telah dievakuasi ke tempat yang aman. "Kota Marawi hampir menjadi kota hantu sekarang," ujar Gubernur ARMM, Mujiy Hataman.

Terkait WNI yang masih berada di Filipina, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Arrmanatha Nasir menyebutkan terdapat sekitar 11 WNI yang masih berada di Marawi.

-Di Marawi saat ini ada 10 WNI Jamaah Tabligh (JT) asal Bandung dan Jakarta yang sedang melakukan Khuruj (meninggalkan rumah untuk ibadah dan dakwah di masjid selama 40 hari)," tulis Arrmanatha ketika dihubungi Media Indonesia pada Sabtu (27/5).

"Satu orang lainnya adalah WNI yang menikah dengan orang setempat dan sudah lama tinggal di Marawi," tambahnya.

"Saat ini kesepuluh WNI anggota JT dalam keadaan baik dan aman. KJRI terus menjalin komunikasi dengan Kepolisian Provinsi Lanao del Sur di Marawi untuk memberikan perlindungan bagi mereka," ujarnya.

Senada dengan Arrmanatha, Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan para WNI tersebut belum dievakuasi karena masih merasa aman.

"Sejauh ini mereka merasa masih aman karena keberadaan mereka di Masjid Abu Bakar As Siddiq, Kota Marawi, dan diketahui oleh aparat setempat," ujar Iqbal pada Sabtu (27/5).

Menurutnya masjid tersebut menjadi markas JT Filipina dan sejak awal pengurus masjid telah memberitahu secara tertulis kepada Apkam tentang keberadaan mereka. "Mereka (WNI) sudah berkomunikasi secara intensif dengan KJRI Davao dan jika diperlukan akan dievakuasi dengan bantuan aparat setempat," ujarnya.

Sementara itu Arrmanatha mengaku belum menerima informasi terkait WNI yang terlibat dengan kelompok Maute atau IS yang terkait dengan konflik di Marawi.Sebelumnya juru bicara militer Filipina, Brigadir Jenderal Restituto Padilla, menyebutkan seorang WNI diyakini telah tewas dalam konflik Marawi bersama lima militan asing lainnya.

Dandenintel Kodam XIII/Merdeka, bahwa pada tgl 26 Mei 2017 pukul 09.30 Wita, telah diperoleh informasi dari Kepala Pos Polairud Polda Sulut a.n. Iptu Pol Koyuko dan pegawai kantor imigrasi kelas II Bitung, tentang adanya informasi 11 orang WNI yang diduga terlibat dalam insiden Marawi City Filipina.

Sumber Media Indonesia menyebutkan kesebelas nama itu, tujuh orang asal Bandung ialah Denny Purwasubekti, Handris, Slamet Riyadi Winoto, Ahmad Wahyudi, Della Sunjaya, Andri Supriyanto. Berikutnya, Hery Endang asal Karawang, Yusup Burhanudin (Bogor) dan Wifiek Gunawan (Kendari) serta dua orang asal Tasikmalaya yakni Ahmad Saran dan Wawan Sadira.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte telah mengumumkan darurat militer di sepertiga bagian selatan Filipina yang telah menewaskan sedikitnya 48 orang tersebut.

Konflik pertama kali muncul pada Selasa (23/5) ketika puluhan orang bersenjata memasuki Kota Marawi sebagai balasan atas upaya pemerintah Filipina menangkap Isnilon Hapilon, seorang militan veteran yang dianggap sebagai pemimpin lokal IS.

Kelompok bersenjata ini kemudian mengibarkan bendera hitam IS, menyandera seorang pendeta dan 14 orang lainnya dari sebuah gereja hingga membakar sejumlah bangunan di Marawi. Sebanyak 13 tentara, dua polisi dan 31 militan tewas dalam pertempuran yang masih berlangsung tersebut. Sebanyak dua warga sipil juga dilaporkan tewas dalam sebuah rumah sakit yang dikuasai militan.

0 komentar:

Posting Komentar