LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Selasa, 30 Mei 2017

Korut kembali Gelar Uji Coba Rudal

KOREA Utara (Korut), kemarin, kembali menggelar uji coba rudal, aksi yang dianggap provokatif oleh negara tetangga mereka, Jepang.

Peluncuran itu menjadi yang terbaru dari rangkaian aksi yang meningkatkan tensi di kawasan terkait dengan ambisi nuklir Korut.

Uji coba rudal yang ke-12 kalinya sepanjang tahun ini tersebut melanggar peringatan PBB dan ancaman Amerika Serikat (AS) yang akan menggelar aksi militer.

Peluncuran itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menjanjikan 'masalah besar' Korut 'akan terpecahkan' pada pertemuan tingkat tinggi G-7.

Militer Korea Selatan (Korsel) mengatakan rudal tipe Scud milik Korut melaju hingga sejauh 450 km dan Jepang memperkirakan misil itu jatuh di zona ekonomi eksklusif mereka.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengecam uji coba kali kedua yang mencapai wilayah 'Negeri Sakura' itu dan berjanji akan mengambil tindakan bersama AS.

"Kami tidak pernah menoleransi provokasi lanjutan Korut yang tidak mengacuhkan peringatan-peringatan berulang dari komunitas internasional," tegas Abe.

"Seperti kesepakatan dalam konferensi tingkat tinggi G-7, masalah Korea Utara menjadi prioritas utama komunitas internasional," imbuhnya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga juga mengecam tindakan itu.

Sementara itu, Presiden Korsel Moon Jae-in memerintahkan pertemuan dewan keamanan nasional untuk meneliti peluncuran.


Hal itu diungkapkan Kementerian Pertahanan Korsel.
"Utara selalu mengulang provokasi setelah inaugurasi kepemimpinan baru kami. Itu merupakan tantangan langsung untuk kedamaian dan denuklirisasi di Semenanjung Korea," imbuh Kementerian Luar Negeri Korsel.

Di lain sisi, Tiongkok, yang merupakan sekutu dagang utama Korut, memberikan pernyataan jelas untuk mendorong penyelesaian dengan pembicaraan diplomatik ketimbang memberikan sanksi lebih keras terhadap Pyongyang.

Sejauh ini, enam sanksi telah dijatuhkan Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menekan Korut sejak pengujian pertama pada 2006 dengan keputusan dua sanksi terjadi pada tahun lalu.

Bukan ancaman
Berbagai uji coba itu dilakukan Korut dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka untuk menciptakan rudal balistik antarbenua yang bisa mencapai wilayah AS.

Meski Trump sudah memperingatkan soal kemungkinan intervensi militer, Sekretaris Pertahanan AS James Mattis mengatakan perang dengan Korut akan menimbulkan bencana.
"Rezim Korea Utara memiliki ratusan meriam artileri dan peluncur roket yang menjangkau salah satu kota terpadat di bumi, Korea Selatan. Mereka juga ancaman bagi Jepang dan dapat membahayakan Tiongkok juga Rusia," jelasnya.

"Namun, dasarnya, itu akan menjadi malapetaka jika terjadi perang dan kita tidak mampu mengatasi situasi secara diplomatis," imbuhnya.

Mattis enggan mengatakan jenis aksi yang dianggap melanggar batas oleh AS dan mengatakan pemerintah memerlukan ruang manuver politik.


Komando Pasifik AS menegaskan Korut meluncurkan rudal balistik jarak pendek dari dekat Wonsan Airfield, dilacak selama 6 menit sampai mendarat di Laut Jepang.
Itu tidak dianggap sebagai ancaman bagi Amerika Utara.

0 komentar:

Posting Komentar