LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Senin, 15 Mei 2017

Terkait Konflik Horisontal Gus Mus : Jika Aparat Lamban Jangan Salahkan Ansor Banser yang Mengambil Tindakan

Pemerintah harus Ambil Langkah Taktis Tangani Potensi Konflik Horisontal

SAAT ini negara dalam kondisi kritis yang ditandai dengan adanya konflik kepentingan dan golongan yang mengkooptasi seluruh aspek kehidupan bernegara hingga menyentuh titik sensitif yang mengancam konflik horizontal. Untuk itu, berbagai pihak menyerukan agar aparat dan pemerintah secepatnya mengambil langkah taktis dan strategis untuk menghentikan semua ini.

Demikian benang merah dari pendapat ulama dan pemerhati sosial seputar suasana kebangsaan saat ini yang tengah mengalami benturan dan konflik masyarakat yang berlarut-larut akibat peristiwa politik. "Konflik yang ada saat ini sekaligus membentuk garis demargasi yang saling berlawanan antara satu sama lain. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari beberapa ulama agar aparat dan pemerintah secepatnya mengambil langkah taktis dan strategis untuk menghentikan semua ini," ujar KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/5).

Hari itu juga Gus Mus menerima kunjungan pengurus Ansor Sidoarjo di kediamannya, Rembang Jawa Tengah. "Ansor dan Banser untuk peka terhadap gerakan sekitar yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ansor dan Banser diharapkan selalu kordinasi dengan aparat dalam setiap langkah untuk mengambil tindakan," ujarnya.

Menurut Gus Mus, jika aparat lamban jangan salahkan Ansor Banser yang mengambil tindakan. Kepada Ansor, kyai kharismatik yang juga dikenal dengan sosok budayawan ini menyampaikan bahwa jika pemerintah tidak secepatnya ambil langkah dan lamban mengatasi masalah maka Ansor dan Banser Sidoarjo harus siap bertindak berada digarda terdepan mengawal keutuhan NKRI.

Terpisah, pengamat politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Arie Sujito berharap ketegangan yang berkaitan dengan agama dan etnisitas harus segera diakhiri. "Elite politik pun juga harus belajar sejarah ke-Indonesiaan yang majemuk ini. Kita menjadi negara demokrasi besar karena kemampuan mengelola kemajemukan. Jangan sampai kita mundur hanya karena gagal mengelola kemajemukan ini," ujar Arie saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (14/5).

Menurutnya. sebagian besar rakyat indonesia sebenarnya mampu memegang kerukunan sosial. Oleh karena itu, pihaknya berharap rakyat tidak terprovokasi dalam benturan identitas. Ia juga berharap elite politik tidak memanfaatkan situasi ini untuk modal Pemilu 2019.

"Prinsipnya, di masyarakat menengah dan bawah tidak masuk pusaran konflik pasca Pilkada. Sebagian elite politik menjadi bagian dari masalah, jadi itu yang harus segera diiingatkan. Jangan memanfaatkan situasi ini untuk modal Pemilu 2019. Ini yang harus dicegah," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar