LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Senin, 22 Mei 2017

Afi Anak SMA yang Memberi Ceramah Kebangsaan Di Hadapan Mahasiswa, Dosen Dan Profesor

PEMIKIRAN dan gagasan Asa Firda Inayah, 19, siswi SMAN 1 Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang dituangkan dalam tulisan tentang kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, dan toleransi kini menjadi populer. Apalagi, setelah akun Facebook-nya dengan nama pena Afi Nihaya Faradisa sempat di-suspend dan diduga lantaran banyak laporan yang tidak menyukai tulisan putri sulung Imam Wahyudi dan Sumartin tersebut.

Gadis kelahiran Juli 1998 itu mendapatkan kesempatan berbicara pada Sarasehan Kebangkitan Nasional di Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang, Jawa Timur, Sabtu (20/5). Ia duduk satu podium bersama Akbar Tandjung, Ali Maschan Moesa, dan Bambang Budiono.

Dalam pidato sekitar 15 menit di depan ribuan mahasiswa dan akademisi, ia mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersatu mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Saya menulis karena prihatin. Indonesia yang sangat beragam ini dituntut memiliki toleransi yang sangat tinggi atas keragaman tersebut. Namun, realitasnya, Indonesia sangat mudah dipicu isu SARA agar tercerai-berai,” tegasnya.

Pemikiran yang dituangkan dalam tulisan berjudul Warisan pada 15 Mei di akun Facebook, Afi mendapatkan reaksi beragam dari netizen. Dalam waktu seminggu, sudah disukai sekitar 90 ribu orang dan dibagikan lebih dari 50 ribu kali.

“Saya mencintai NKRI, saya bukan siapa-siapa. Saya adalah murid SMAN 1 Gambiran, Banyuwangi, yang baru bulan ini lulus. Ayah saya seorang pedagang kaki lima,” ujarnya.

Afi menyebut dirinya menulis karena memiliki semangat cinta Tanah Air.

Tulisan yang viral tersebut saya ketik dengan menggunakan handphone seharga Rp600 ribu. Saya melakukan itu karena mencintai NKRI, peduli bangsa, melakukan sesuatu yang saya bisa,” katanya yang disambut tepuk tangan mahasiswa dan akademisi.

Anak penjual cilok (makanan ringan untuk anak-anak) itu prihatin lantaran Indonesia masih sangat sensitif dan mudah dipicu oleh isu SARA.

“Saya hanya bisa menulis. Jika tulisan itu menggugah generasi saya dan banyak yang membacanya, saya sangat senang. Saya menggunakan nama pena karena tidak mengharap keuntungan dari melambungnya nama saya.”

Di sisi lain, setelah tulisannya menjadi viral, muncul reaksi pro-kontra. Banyak netizen yang memuji, tetapi tidak sedikit yang menentang. Bahkan ada yang melontarkan ancaman melalui Facebook dan SMS di telepon selulernya.

“Ancaman itu fisik sampai bullying, tetapi saya tidak takut,” tegasnya.

Saat menutup pidatonya, ia juga mengungkapkan kegigihan aktivis pendidikan dan perempuan dari Pakistan, Malala Yousafzai, yang berjuang demi keutuhan negara di usia yang masih belia.

0 komentar:

Posting Komentar