PERANG BRUTAL AKAN BERLANGSUNG, SAAT KORUT PERANG LAWAN AS

Washington, DC - Menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat, Presiden Donald Trump berkoar ia akan membawa masalah nuklir Korea Utara ke lawan berbicaranya itu.
Trump mengatakan, jika China bergeming, AS akan turun tangan sendiri mengatasi perilaku rezim Pyongyang.
Tak lama setelah Donald Trump mengeluarkan pernyataan tersebut -- AS, Korea Selatan dan Jepang menggelar latihan Angkatan Laut bersama. Menurut Kementerian Pertahanan Korsel, kegiatan itu bertujuan untuk melawan ancaman rudal kapal selam Korea Utara.
Latihan pada 3 April 2017, dilakukan di pesisir selatan Korea Selatan, di dekat Jepang. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah kapal penghancur dan helikopter anti-kapal selam.
Melihat keseriusan AS dan sekutunya terhadap Korut serta tak acuhnya Pyongyang terhadap seruan dunia internasional agar menghentikan uji coba nuklir, banyak pihak meramalkan perang bakal pecah antara AS --beserta koalisi di kawasan-- melawan Korut.
Salah satu yang 'meramalkan' hal itu adalah mantan menteri pertahanan AS masa Barack Obama, Ash Carter.
Tak tanggung-tanggung, Carter meramal perang bakalan lebih brutal dibandingkan dengan konflik yang pernah ada selama puluhan tahun terakhir.
Melansir News.com.au pada Selasa (4/4/2017) mengutip wawancara ABC News dengan Carter, mantan menteri itu mengatakan skenario pertama perang Korut adalah Kim Jong-un menginvasi Korea Selatan.
"Sangat mungkin perang dimulai dengan invasi ke Korea Selatan," kata Carter kepada pembawa acara Martha Raddatz dalam program This Week.
Carter yakin AS akan melawan dengan kekuatan maksimal sehingga perang akan lebih intensif dan brutal.
"Tapi saya juga yakin, Korea Utara akan kalah," lanjutnya lagi.
Namun, ia mewanti-wanti, perang ini akan lebih parah jika dibandingkan dengan Perang Korea pada era 1950-an.
Carter yang juga ahli fisika serta mantan Profesor Sains dan Hubungan Internasional di Harvard University telah memberikan peringatan skenario apa saja yang mungkin akan diambil oleh Korea Utara.
"Seoul dekat dengan perbatasan DMZ (demilitary zone). Meskipun hasilnya sudah jelas (Korut kalah), tapi kerusakan akibat perang begitu parah. Oleh sebab itu, jangan gegabah untuk memutuskan," lanjutnya.
Carter mengatakan semasa pemerintahan Obama, mereka menggunakan pengaruh China untuk mengakhiri program nuklir Korut.
Meski demikian, Carter mengakui dari dulu China enggan melakukannya. Karena jika perang terjadi dan Korut runtuh, akan menghasilkan unifikasi Korea -- bersama sekutunya, AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru