LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Kamis, 20 April 2017

ORANG JAKARTA BELUM CERDAS SEPERTI YANG DIDUGA, TETAPI MASIH TERPENGARUH SARA

Hasil quick count sudah keluar, hasilnya pun tidak menggembirakan. Memang betul kalau quick count itu bukan hasil resmi, tapi bila hasil quick count semuanya kurang lebih sama ditambah data yang masuk sudah diatas 50%, biasanya hasil tersebut sudah pasti.
Saat tulisan ini dibuat, data LSI menunjukkan Ahok mendapatkan 44,32% sedangkan Anies 55,68% dimana data yang masuk sudah 67,14%. Data SMRC menunjukkan Ahok mendapatkan 41,54% sedangkan Anies 58,46% dimana data yang masuk sudah 52,36%. Data Polmark menunjukkan Ahok mendapatkan 43,37% sedangkan Anies 56,63% dimana data yang masuk sudah 58,95%

Perbedaan persentase suara sangat jauh, diatas 5%. Bisa dibilang hasil Pilkada DKI sudah fix, Anies menang. Quick count dengan persentase data masuk yang tinggi menandakan bahwa datanya sudah stabil. Tinggal menunggu hasil realcount KPU yang lebih akurat.
Ahok Kalah, Jakarta Yang Rugi
Kekalahan Ahok menandakan kekalahan besar bagi warga Jakarta. Gubernur suka kerja diganti dengan Gubernur suka berkata-kata. Gubernur yang anti korup diganti dengan Gubernur yang pendukungnya meragukan. Gubernur yang sudah terbukti diganti dengan Menteri hasil dipecat.
Alasan utama kekalahan Ahok pun sangat sangat disayangkan. Agama, hanya karena beda Agama Ahok diserang SARA sejak putaran pertama. Kemampuan dan kompetensi tidak lagi dipandang, mau korup tapi agama sama tidak masalah. Lihat saja spanduk-spanduk SARA yang bertebaran. Semuanya mengajak jangan memilih Ahok karena Agamanya.
Indonesia tidak akan pernah bisa maju bila Agama yang menjadi acuan untuk memilih kepala daerah. Lihat penghuni KPK, lihatlah agama mereka apa. Agama tidak menjadi acuan moral. Orang yang beragama A tidak akan lebih bermoral dibanding Agama B. Tidak ada studi yang membenarkan hal tersebut.
KPU DKI juga bermasalah dalam Pilkada DKI ini. Spanduk-spanduk SARA lambat sekali untuk ditindak. Bila ada kesulitan warga untuk memilih, sebagian besar kesulitan itu dialami oleh pemilih Ahok. Ini tidak mungkin kebetulan saja, masak putaran pertama dan putaran kedua yang kena selalu kubu Ahok?Pendukung Anies banyak yang memakai SARA. Herannya Anies sendiri tidak berusaha untuk menghentikan tindakan SARA pendukungnya. Kalau Ahok yang dirugikan tidak masalah, kalau diri sendiri mulai kena baru angkat bicara. Ini sesuai dengan kejadian mayat yang dipolitisasi.

Kalau dirugikan baru mulai merespon, kalau tidak rugi diamkan saja. Toh yang kena Ahok, masak rejeki ditolak? Masyarakat Jakarta sendiri pun mudah untuk dipengaruhi dengan isu Agama. Diajak memilih pemimpin hanya berdasarkan iman, bukan kemampuan.
Coba bayangkan bagaimana jadinya Jakarta beberapa tahun kemudian. Menyesal pun tidak berguna, pilihan sudah terjadi. Para pengurus masjid tidak perlu lagi berharam bisa naik haji gratis, Gubernurnya sudah ganti.
Akan ada proyek serupa UPS-UPS, Gubernur pelit sudah pergi. Sekarang yang ada Gubernur yang merangkul semua. Ormas aja bisa dijanjikan mendapatkan dana APBD, apalagi oknum oknum yang lain.
Ahok tidak kehilangan Jakarta, tapi Jakartalah yang kehilangan Ahok. Siap-siap Jakarta akan kembali seperti saat Jokowi belum menjadi Gubernur. Banjir surut hanya dalam waktu berjam-jam. Macet dimana-mana.
Pinggiran sungai tidak akan digusur, mau banjir tiap hari pun tidak masalah. Pasukan berwarna akan mudah dikongkalikong, Gubernur yang kejam dan teliti sudah hilang. Mau ngurus surat? Silahkan kasi uang rokok, tradisi lama kembali bersemi.
Tidak akan ada lagi kejadian Gubernur bersiteru dengan DPRD karena masalah APBD. Gubernur baru akan mesra dengan DPRD, toh akan dirangkul semua. Dana Pokir pun akan disetujui, meski tujuannya tidak jelas.
Sudahlah, warga Jakarta akan merasakan sendiri akibat pilihannya. Kalau mau protes, pikirkan dulu protes kemana. Tidak akan ada lagi Gubernur yang mau setiap pagi melayani warga di Balai Kota. Protes ya tinggal protes, persis seperti jaman sebelum Jokowi.
Akhir kata, menyesal itu selalu datang terlambat. Jangan nangis bila melihat Jakarta tidak lagi maju. Pilihan sudah diputuskan, sekarang terima hasilnya.

0 komentar:

Posting Komentar