Kejutan-Kejutan Yang Sangat Mungkin Terjadi Di Hasil Pilkada DKI Putaran Kedua

Pada putaran pertama Pilkada DKI, kita dikejutkan dengan hasil akhir yang menempatkan Agus di posisi buncit. Padahal secara logika, logistik, survey dan sentimen, seharusnya Anies yang paling buruk. Jadi menteri dipecat kok sekarang mau jadi Gubernur? Pede amet! Logistik juga hanya mengandalkan dari Sandiaga. Survey selalu terendah. Tak punya basis pendukung loyal selain PKS.
Tapi ternyata Anies Sandi melejit jauh di atas Agus. Beberapa analisis kemudian harus kita sepakati bahwa ini berkat FPI dan ormas-ormas radikal lainnya yang berbalik arah mendukung Anies. Dukungan mereka sangat jelas dan nyata. 7 juta jiwa berkumpul di Monas dalam rangka demo berjilid-jilid, datang dari berbagai daerah hanya untuk berdakwah serta meyakinkan seluruh masyarakat Jakarta, bahwa memilih Ahok haram hukumnya, masuk neraka. Memilih Ahok dilarang oleh Alquran dan Islam. Ini soal aqidah dan kutil babi, kata mereka.
Selain faktor membelotnya FPI dari Cikeas ke Cendana, faktor krusial lainnya adalah penampilan Agus saat debat resmi KPU. Berkali-kali mangkir dari debat nonresmi, Agus menjadi sorotan dan ditunggu-tunggu. Publik sudah terlanjur berkesimpulan Agus tidak bisa berdebat, takut. Dan benar saja, setelah beberapa kali hadir di acara debat, publik menyimpulkan bahwa Agus menghafal. Bahkan Ahok di atas panggung debat, secara terbuka mengatakan “untuk jadi Gubernur itu ga cukup dengan hafalan dan teori.” Maksudnya hafalan untuk Agus dan teori untuk Anies.
Agus kalah di lapangan, babak belur di media. Sementara Anies terselamatkan. Karena pada prinsipnya, kalau kita tidak bisa menang dengan cara menjadi lebih baik, buatlah lawannya jadi lebih buruk. Agus tersungkur, Anies mendapat limpahan suara. Sentimen negatif anak Pepo yang tidak bisa apa-apa dan bahkan debatpun harus menghafal, berhasil menutup keburukan seorang Anies yang merupakan orang gagal, dipecat dari Menteri Pendidikan.
Sehingga dengan faktor dan cerita singkat inilah kemudian menghasilkan persentase suara yang cukup mengejutkan. Agus yang dalam survey selalu unggul, atau minimal bisa masuk putaran kedua, ternyata hanya meraih posisi terbawah.
Adakah kejutan putaran kedua?
Kemenangan Ahok di putaran pertama, pun sebenarnya mengejutkan. Sebab Ahok sudah jadi tersangka, kampanyenya tidak maksimal karena harus keluar masuk ruang sidang. Sentimennya sangat negatif. Tapi ternyata rakyat Jakarta lebih mengedepankan akal sehatnya, dibanding takut dengan ancaman neraka oleh sekelompok orang yang tidak tau apa-apa tentang neraka.
Ahok menang di Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. Kalah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Tipis memang, tapi tetap luar biasa untuk seorang Cagub yang sudah menyandang status tersangka dan didemo agar digantung serta dibunuh oleh 7 juta jiwa.
Berkaca pada putaran pertama dengan hasil yang mengejutkan tersebut, saya ingin membuat analisis atau prediksi kemungkinan hasil akhir pada putaran kedua nanti.
Pada putaran pertama, Ahok benar-benar menjadi bulan-bulanan ormas agama yang mengajak Tuhan berkampanye. Sekilas Ahok nampak tak berdaya melawan mereka yang mengatasnamakan kelompok agama mayoritas di Indonesia. Rizieq bisa berteriak kafir dan bebas bernyanyi gantung-gantung-gantung si Ahok. Bebas berorasi bunuh-bunuh-bunuh si Ahok sekarang juga. Sementara sidang kasus rekayasa politik “penistaan agama” juga belum menemukan titik terang. Belum banyak yang bersaksi, terlalu dini untuk menyimpulkan.
Tapi di putaran kedua ini, Rizieq yang merupakan imam besar FPI sudah tak bisa berkutik. Kasus chat mesumnya sudah beredar luas dan tidak ada yang mampu menjelaskan atau menjawab dengan tegas. Sementara televisi tabung dan seprei putih berhasil menjelaskan lebih transparan dari foto Firza. Suara Firza yang curhat dengan Kak Emma pun tak ada yang bisa membantahnya. Suara tersebut benar suara Firza. Suara yang menceritakan pengakuan telah membombardir Rizieq. Entah apanya apa anunya. Saya juga kurang tau.

Saksi-saksi ahli juga sudah banyak yang menyuarakan kebenaran. Prof Hamka Haq, anggota dewan penasehat MUI memberikan contoh hukum yang mustahil bisa ditolak akal sehat.
“KUHP mengatakan, pencuri itu dipenjara, tidak ada dalam KUHP mengatakan pencuri itu dihukum berdasarkan syariat agamanya. Begitupun dengan Pilkada DKI, tidak ada undang-undang dalam Pilkada yang menyatakan bahwa Pilkada sah kalau dilaksanakan menurut syariat agama masing-masing. Negara kita negara hukum, negara Pancasila, ada UUD 1945, ada turunannya UU, kepres, dan tidak ada fatwa masuk ke dalamnya.”
Sahiron Syamsudin, yang merupakan Pakar Hermeneutika (Islam) mengatakan “Pak Ahok dalam posisi ini mengkritik para politisi yang menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 untuk kepentingan politik tertentu.”
Gus Ishom, wakil ketua komisi fatwa MUI sekaligus Rais Syuriah NU juga menyuarakan kebenaran tentang kasus rekayasa politik bernama penistaan agama ini. Bahwa fatwa MUI menjadi pemicu konflik. Terlebih tidak adanya proses tabayyun, membuat fatwa tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Melihat alur cerita jelang putaran kedua ini, Anies sepertinya akan senasib dengan Agus. Saat ini Anies sudah tak punya kekuatan massa dan basis pemilih loyal mengingat Rizieq sudah tak berkutik. Anies juga babak belur di media karena debat terakhirnya di Mata Najwa berhasil membuatnya terlihat sangat bodoh sekali dengan ide rumah DP nol rupiah. Sehingga saat diundang acara debat lagi, Anies memilih absen. Karena kalau datang, akan semakin menghancurkan elektabilitasnya.
Sementara di sisi lain kasus rekayasa politik yang ditujukan pada Ahok sudah mulai menemukan titik terang. Saksi-saksi dari kelompok bumi datar berhasil membuat kita tertawa karena kebodohannya yang super. Semakin menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tak paham apa-apa tentang agama Islam.
Pemandangan kebencian penuh SARA kini sudah nyaris tak terlihat lagi. Demo 313 yang merupakan lanjutan dari 411 dan 212 adalah contoh kongkrit, betapa rakyat Indonesia sudah banyak yang sadar. Mereka sadar bahwa selama ini telah dibodoh-bodohi atas nama agama dan aqidah, padahal semua hanya untuk kepentingan politik semata. Lihat saja jumlah pendemo 313, hanya tinggal beberapa ekor saja, dari sekelompok makhluk yang menggadaikan otaknya di partai-partai sapi terdekat.
Dengan semua cerita-cerita ini, saya memprediksi pada putaran kedua nanti akan ada kejutan berupa kemenangan telak untuk Ahok. Faktor-faktor pendukungnya sudah ada. Rakyat Jakarta lebih rasional dalam memilih Gubernur, buktinya Ahok menang di putaran pertama. Rakyat Indonesia secara keseluruhan juga sudah banyak yang sadar, sehingga jumlah massa demonya berkurang, ini juga akan semakin menguatkan rakyat Jakarta bahwa memilih Ahok itu tidak otomatis masuk neraka. FPI tak berkutik. Media membombardir ide bodoh DP nol persen, netizen sepakat membantah bahwa tidak ada jutaan unit rumah seharga 350 juta rupiah. Dan yang paling kongkrit adalah, sekalipun dituduh menistakan Agama, Ahok berhasil menang lebih dari 90 persen di 480 TPS.
Ini semua adalah modal untuk memberikan kejutan pada hasil akhir Pilkada DKI. Tinggal sekarang tugas teman-teman tim sukses adalah mengamankan TPS. Jangan sampai skenario warga tidak bisa mencoblos pada putaran pertama terulang lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru