LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Minggu, 26 Maret 2017

KEMATIAN & KEBANGKITAN LAZARUS

YOHANES 11:1-44


Yohanes 11:1-16
11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
11:5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.
11:6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;
Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
11:7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Mari kita kembali lagi ke Yudea."
11:8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?"
11:9 Jawab Yesus: "Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.
11:10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya."
11:11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya."
11:12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh."
11:13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;
11:15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."
11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia."

TUHAN YESUS MENUNDA KEDATANGANNYA KE BETANIA, MENGAPA?

Nama "Lazarus" (Yunani: Λάζαρος - LAZAROS). Nama tsb kemunginan adalah bentuk Yunani dari nama Ibrani: אֶלְעָזָר - 'ELEAZAR/ 'EL'AZAR, artinya adalah : "Allah ialah penolong"

Yohanes mencatat peristiwa tentang kematian Lazarus yang kemudian dibangkitkan, yang namanya berarti dalam bahasa Ibrani "Allah ialah penolong". Rasul Yohanes dalam ayat 5 secara khusus menulis bahwa Tuhan Yesus mengasihi Marta, Maria dan Lazarus (Yohanes 11:5). Namun demikian, mengapa Tuhan Yesus sengaja menunda keadatangan-Nya ke Betania?

Apa masalah sebenarnya?

    Image


A. Kristus di Bethania, Yohanes 11:17-32

      11:17 LAI TB, Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.17-19 BIS, Betania terletak di dekat Yerusalem, jauhnya kurang lebih tiga kilometer. Banyak orang datang mengunjungi Marta dan Maria untuk menghibur mereka karena kematian Lazarus. Ketika Yesus sampai di tempat itu, Lazarus sudah dikuburkan' selama empat hari. KJV, Then when Jesus came, he found that he had lain in the grave four days already. TR, ελθων ουν ο ιησους ευρεν αυτον τεσσαρας ημερας ηδη εχοντα εν τω μνημειωTranslit interlinear, elthôn {ketika tiba} oun {lalu} ho iêsous {Yesus} heuren {menemukan} auton {dia} tessaras {empat} hêmeras {hari2} êdê {setelah} ekhonta {berada} en {di dalam} tô mnêmeiô {kubur}

    Ayat di atas secara khusus menulis "Empat hari." Bahwa Tuhan Yesus datang di Betaniasetelah 4 hari kematian Lazarus. Kebanyakan orang-orang Yahudi percaya bahwa jiwa orang yang meninggal tetap tinggal dekat-dekat dengan jasadnya sampai 3 hari setelah kematian. Semasa itulah kalau-kalau masih bisa diharapkan jiwa orang mati itu kembali ke dalam jasadnya lagi. Selewat 3 hari tak akan mungkin orang mati bisa hiduplagi, Jadi dalam hal Lazarus, kematiannya yang sudah empat hari itu diyakini sebagai kematian final, mutlak, tak terubahkan! Namun Yesus ternyata berdiri diatas kemustahilan, lihat Yohanes 11:43. 

    Reff. Jerusalem Talmud, menulis: 
      For the first three days after death the soul floats above the body, thinking that it will return to the body. When the soul sees the body, that the appearance of the face has changed, it leaves the body and goes its way. (Yebamot 16:3)
      Selama tiga hari pertama setelah kematian, jiwa seseorang masih mengapung di atas tubuh, ada kemungkinan jiwa itu akan kembali ke tubuh. Ketika jiwa melihat pada tubuh, pada perubahan penampilan wajahnya, maka kemudian barulah ia pergi berjalan meninggalkan tubuh itu. (Yebamot 16: 3)


    Namun, apakah "Jerusalem Talmud" itu sudah ada pada zaman Yesus? Jawabannya adalah Ya!

    Dalam penemuan yang lumayan baru yaitu "penemuan sebuah batu kuno," ditemukan di lokasi geografis yang sama di mana beberapa "Gulungan Laut Mati" juga ditemukan, ada kalimat menarik yang dapat diterjemahkan sebagai: 

    Memang dalam "Gabriel's Revelation Stone"tidak menulis kisah mengenai Lazarus, namun demikian dari keterangan itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa "gagasan kebangkitan dalam waktu tiga hari" bukanlah konsep asing bagi pemikiran orang-orang Yahudi kuno.

    Maka, dari sini kita dapat memahami mengapa Tuhan Yesus sengaja menunggu sampai kepada hari ke-empat. (dituliskan bahwa Tuhan Yesus menunggu dua hari lagi), sehingga kelihatannya memang Tuhan Yesus sengaja menunda waktu kedatangannya sedemikian rupa sampai ia berada di Betania pada hari keempat - ketika "kebangkitan" dianggap tidak mungkin dilakukan lagi! 

      11:18 LAI TB, Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.KJV, Now Bethany was nigh unto Jerusalem, about fifteen furlongs off: TR, ην δε η βηθανια εγγυς των ιεροσολυμων ως απο σταδιων δεκαπεντεTranslit interlinear, ên {di} de {adapun} hê bêthania {betania} eggus {dekat} tôn hierosolumôn {yerusalem} hôs apo {kira2 berjarak} stadiôn {stadion} dekapente {lima belas} 

      11:19 LAI TB, Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.KJV, And many of the Jews came to Martha and Mary, to comfort them concerning their brother. TR, και πολλοι εκ των ιουδαιων εληλυθεισαν προς τας περι μαρθαν και μαριαν ινα παραμυθησωνται αυτας περι του αδελφου αυτωνTranslit interlinear, kai {dan} polloi {banyak} ek {dari} tôn ioudaiôn {orang2 yahudi} elêlutheisan {telah datang} pros {kepada} tas peri marthan {marta} kai {dan} marian {maria} hina {supaya} paramuthêsôntai {mereka akan menghibur} autas {mereka} peri {karena} tou adelphou {saudara dari} autôn {mereka}


    Setelah keputusan diambil, yakni bahwa Kristus akan kembali ke Yudea beserta dengan murid-murid-Nya, mereka pun memulai perjalanan mereka. Di perjalanan ini terjadi beberapa hal yang dicatat oleh penulis Injil lainnya. Misalnya, penyembuhan seorang buta di Yerikho dan pertobatan Zakheus. Kita tidak boleh berhenti berbuat baik sekalipun kita sedang ada dalam perjalanan. Kita juga tidak boleh begitu larut dalam sebuah pekerjaan baik sampai membuat tugas baik lainnya terbengkalai. 

    Akhirnya, Ia pun sampai ke dekat Betania, yang dikatakan berjarak kira-kira dua mil jauhnya dari Yerusalem (ayat 18). Hal itu dicatat di sini supaya nyata bahwa mujizat yang hendak dilakukan-Nya itu terjadi masih di sekitar Yerusalem dan dianggap terjadi di sana. Mujizat Kristus di Galilea memang lebih banyak, tetapi mujizat yang dilakukan-Nya di dalam dan sekitar kota Yerusalem lebih gemilang. Di sanalah Ia menyembuhkan seorang yang telah menderita penyakit selama tiga puluh delapan tahun, lalu seorang lagi yang terlahir buta, dan membangkitkan seorang yang telah mati selama empat hari, Maka datanglah Kristus ke Betania, dan perhatikanlah:


    I. Keadaaan yang tengah dialami kawan-kawan-Nya di sana. Saat Ia meninggalkan mereka sebelumnya. kemungkinan besar mereka dalam keadaan yang baik, sehat dan penuh sukacita. Akan tetapi, saat kita berpisah dengan kawan-kawan kita, kita tidak tahu (sekalipun Kristus tahu) perubahan apa yang akan menimpa diri kita atau mereka sebelum kita bertemu lagi dengan mereka. 

      1. Ia mendapati Lazarus sahabat-Nya itu telah terbaring di dalam kubur (ayat 17). Saat Ia sampai di dekat kota, kemungkinan dekat area pemakaman di kota itu, Ia diberi tahu oleh para tetangga atau orang-orang yang berpapasan dengan-Nya, bahwa Lazarus telah dikubur selama empat hari. Beberapa pihak berpendapat bahwa Lazarus mati pada hari yang sama ketika utusan itu datang kepada Yesus dengan kabar sakit penyakit yang menimpanya, dan karena itu diperhitungkan bahwa Ia tetap tinggal di tempat itu dua hari dan dua hari lainnya lagi untuk perjalanan-Nya ke Betania. Saya lebih cenderung berpendapat bahwa Lazarus mati tepat saat Yesus berkata, "Saudara kita itu telah tertidur, ia kini sudah jatuh tertidur," dan bahwa waktu antara kematian dan penguburan Lazarus (yang biasanya berlangsung dengan singkat di antara orang-orang Yahudi), termasuk empat hari terbaringnya ia di dalam kubur, dihabiskan Yesus dalam perjalanan-Nya itu. Kristus bepergian secara terang-terangan. seperti yang terlihat ketika Ia melalui Yerikho dan juga ketika Ia singgah di rumah Zakheus, yang pasti menyita waktu. Meskipun pasti akan terjadi, datangnya keselamatan yang telah dijanjikan sering lambat. (keterangan: Penjelasan tentang Mati-Tidur di tidur-dan-kematian-vt1639.html#p6395 )


      2. Ia mendapati kawan-kawan lainnya yang masih hidup sedang dalam kedukaan. Marta dan Maria begitu tenggelam dalam kesedihan akibat kematian saudara mereka, yang terlihat dari pernyataan bahwa banyak orang Yahudi telah datang untuk menghibur mereka

      Perhatikan: 

        (1) Biasanya, di mana ada kematian, di sana ada banyak orang yang meratap, terutama saat orang yang dekat dan begitu dikasihi dan yang telah berbuat banyak kebaikan bagi orang lain, dipanggil selamanya. Rumah di mana terjadi ke¬matian sering disebut rumah duka (Pengkhotbah 7:2). Saat manusia pergi ke rumahnya yang kekal, peratap-peratap berkeliarandi jalan (Pengkhotbah 12:5), atau mungkin memilih untuk duduk sendiri dan berdiam diri. Rumah Marta, sebuah rumah yang dipenuhi dengan rasa takut akan Allah dan diberkati oleh-Nya, kini menjadi rumah duka. Kasih karunia akan menjauhkan kedukaan dari hati (Yohanes 14:1), tetapi bukan dari rumah. 

        (2) Di mana ada peratap, di situ ada penghibur. Sudah menjadi kewajiban kita untuk berdukacita bersama-sama dengan mereka yang sedang berkabung, dan menghibur mereka. Sikap kita yang menunjukkan dukacita akan menjadi semacam penghiburan bagi mereka. Saat kita sedang diselimuti dukacita, kita cenderung melupakan hal-hal yang da-pat menghibur hati kita. Oleh sebab itulah kita membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita. Memiliki orang-orang seperti itu di saat kita sedang berkabung memang melegakan hati, dan itulah tugas kita kepada mereka yang sedang berdukacita. Alim ulama Yahudi juga menekankan pentingnya hal tersebut, sehingga mereka mewajibkan murid-murid mereka untuk menghibur mereka yang berduka setelah penguburan orang yang meninggal. Mereka pun menghibur Maria dan Marta berhubung dengan kematian saudaranya, yakni, dengan membicarakan tentang dia, bukan hanya mengenai nama baik yang telah ia tinggalkan, tetapi juga tentang keadaan bahagia yang kini telah ia masuki. Saat kenalan dan kawan kita yang saleh diambil dari kita. maka se sedih apa pun kita yang telah ditinggal pergi dan yang telah kehilangan mereka itu, kita boleh merasa terhibur bahwa mereka telah pergi mendahului kita untuk memasuki kebahagiaan sehingga mereka tidak membutuhkan kita lagi. Kunjungan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi kepada Marta dan Maria merupakan bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang terpandang dan penting. Meskipun mereka adalah pengikut Kristus, orang lain yang bahkan tidak menghormati Dia pun tetap memperlakukan mereka dengan baik, karena mereka selalu berlaku baik pada semua orang. Kehendak ilahi juga yang telah mengatur agar ada banyak sekali orang Yahudi, kemungkinan wanita-wanita Yahudi, yang datang berkumpul ke tempat itu, untuk menghibur mereka yang berduka. supaya ada saksi-saksi yang tak terbantahkan mengenai mujizat tersebut, dan juga supaya mereka bisa melihat bahwa sebagai penghibur, mereka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kristus. Biasanya Kristus tidak mengumpulkan saksi-saksi bagi mujizat-mujizat-Nya, tetapi untuk mujizat ini ada pengecualiannya. Dalam kebijaksanaan-Nya Allah pun mengatur supaya mereka ini semua datang ke sana bersama-sama pada waktu itu. untuk menyaksikan mujizat itu, sehingga ketidakpercayaan pun dibungkamkan.
    II. Percakapan yang terjadi antara Kristus dengan kawan-kawan-Nya yang masih hidup saat itu. Saat Kristus menunda kunjungan-Nya selama beberapa waktu. kunjungan-Nya itu menjadi lebih disambut dan ditunggu-tunggu. Demikian pula di sini. Kepergian-Nya membuat kepulangan-Nya semakin dinantikan, dan ketidakhadiran-Nya membuat kita belajar untuk lebih lagi menghargai kehadiran-Nya. 

      11:20 LAI TB, Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.BIS, Marta mendengar bahwa Yesus datang. Maka ia langsung pergi menemui-Nya, sedangkan Maria tinggal di rumah. KJV, Then Martha, as soon as she heard that Jesus was coming, went and met him: but Mary sat still in the house. TR, η ουν μαρθα ως ηκουσεν οτι ο ιησους ερχεται υπηντησεν αυτω μαρια δε εν τω οικω εκαθεζετοTranslit interlinear, hê oun {lalu} martha {marta} hôs {ketika} êkousen {ia mendengar} hoti {bahwa} ho iêsous {Yesus} erkhetai {datang} hupêntêsen {ia pergi menjumpai} autô {Dia} maria {maria} de {tetapi} en {dai dalam} tô oikô {rumah} ekathezeto {duduk}11:21 LAI TB, Maka kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.BIS, Marta berkata kepada Yesus, "Tuhan, kalaulah Engkau ada di sini pada waktu itu, tentulah saudaraku tidak meninggal! KJV, Then said Martha unto Jesus, Lord, if thou hadst been here, my brother had not died. TR, ειπεν ουν η μαρθα προς τον ιησουν κυριε ει ης ωδε ο αδελφος μου ουκ αν ετεθνηκειTranslit interlinear, eipen {berkata} oun {lalu} hê martha {marta} pros {kepada} ton iêsoun {Yesus} kurie {Tuhan} ei {jika} ês {Engkau ada} hôde {di sini} ho adelphos {saudara} mou {-ku} ouk an etethnêkei {pasti tidak akan mati}
        Catatan : 
        Kata-kata ini diulangi persis sama oleh Maria (ayat 32). Kenapa bisa persis sama? Agaknya selama kematian Lazarus, Marta dan Maria berulang kali saling mengutarakan penyesalannya terhadap ketidak-hadiran Tuhan Yesus. Dan itu diucapkan dengan kata-kata yang itu-itu lagi.


      11:22 LAI TB, Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."BIS, Meskipun begitu, saya tahu Allah akan tetap memberikan apa saja yang Engkau minta kepada-Nya." KJV, But I know, that even now, whatsoever thou wilt ask of God, God will give it thee. TR, αλλα και νυν οιδα οτι οσα αν αιτηση τον θεον δωσει σοι ο θεοςTranslit interlinear, alla {tetapi} kai {juga} nun {sekarang} oida {aku tahu} hoti {bahwa} hosa an {segala sesuatu yang} aitêsê {Engkau minta} ton theon {dari Allah} dôsei {akan memberikan} soi {kepada-Mu} ho theos {Allah}

      11:23 LAI TB, Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit."BIS, "Saudaramu akan hidup kembali," kata Yesus kepada Marta. KJV, λεγει αυτη ο ιησους αναστησεται ο αδελφος σουTR, Jesus saith unto her, Thy brother shall rise again. Translit interlinear, legei {Dia bersabda} autê {kepada-nya} ho iêsous {Yesus} anastêsetai {dia akan bangkit} ho adelphos {saudara} sou {-mu}

      11:24 LAI TB, Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman."BIS, Marta menjawab, "Saya tahu, Lazarus akan hidup kembali pada waktu orang-orang mati dibangkitkan pada hari kiamat." KJV, Martha saith unto him, I know that he shall rise again in the resurrection at the last day. TR, λεγει αυτω μαρθα οιδα οτι αναστησεται εν τη αναστασει εν τη εσχατη ημεραTranslit, legei {dia berkata} autô {kepada-Nya} martha {marta} oida {aku tahu} hoti {bahwa} anastêsetai {dia akan bangkit} en tê anastasei {ketika kebangkitan} en {pada} tê eskhatê {terakhir} hêmera {hari} 

      11:25 LAI TB, Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,BIS, Yesus berkata, "Akulah yang membangkitkan orang mati dan yang memberi hidup. Orang yang percaya kepada-Ku akan hidup, meskipun ia sudah mati. KJV, Jesus said unto her, I am the resurrection, and the life: he that believeth in me, though he were dead, yet shall he live: TR, ειπεν αυτη ο ιησους εγω ειμι η αναστασις και η ζωη ο πιστευων εις εμε καν αποθανη ζησεταιTranslit interlinear, eipen {Dia bersabda} autê {kepadanya} ho iêsous {Yesus} egô eimi {Akulah} hê anastasis {kebangkitan} kai {dan} hê zôê {hidup} ho pisteuôn {(orang yang) percaya} eis eme {kepada-Ku} kan {bahkan jika} apothanê {ia sudah mati} zêsetai {ia akan hidup}
        Catatan:
        Akulah yang membangkitkan orang mati dan yang memberi hidup
        Bentuk ungkapan keilahian "I AM", lihat Yohanes 8:12, lihat artikel AKULAH – I AM – ANI HU - EGÔ EIMI.
        Dialah Sang Hidup yang berhakekat mengalahkan kematian, dan memberikan kehidupan. Yesus tidak mengenal kematian kekal.
        Orang yang percaya ... akan hidup, meskipun ia sudah mati. Bila Tuhan Yesus itu Sang Hidup, Ia bukan saja hidup dalam dan untuk diri-Nya, tetapi juga memberi hidup kepada orang-orang yang percaya kepadaNya sehingga kematian tidak pemah menang terhadapNya. 
        Sebaliknya, mereka yang tidak percaya akan menerima kematian! (Yohanes 8:24). Alangkah dahsyatnya akhir dari sebuah ketidak-percayaan! Sebab beriman kepada Yesus adalah satu-satunya cara untuk terlepas dari penghukuman kekal dihari kiamat. 
        Artikel terkait : Akulah Kebangkitan dan Hidup, di akulah-i-am-ani-hu-ego-eimi-vt2829.html#p16016

      11:26 LAI TB, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"BIS, Setiap orang hidup yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau pada apa yang Kukatakan ini?"KJV, And whosoever liveth and believeth in me shall never die. Believest thou this? TR, και πας ο ζων και πιστευων εις εμε ου μη αποθανη εις τον αιωνα πιστευεις τουτοTranslit interlinear, kai {dan} pas {setiap} ho zôn {orang yang hidup} kai {dan} pisteuôn {yang percaya} eis eme {kepada-Ku} ou mê {pasti tidak} apothanê {mati} eis ton aiôna {selama2nya} pisteueis touto {engkau percaya akan hal2 ini}

      11:27 LAI TB, Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."BIS, Jawab Marta, "Ya, Tuhan, saya percaya Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang diharapkan datang ke dalam dunia."KJV, She saith unto him, Yea, Lord: I believe that thou art the Christ, the Son of God, which should come into the world. TR, λεγει αυτω ναι κυριε εγω πεπιστευκα οτι συ ει ο χριστος ο υιος του θεου ο εις τον κοσμον ερχομενοςTranslit interlinear, legei {dia berkata} autô {kepada-Nya} nai {benar} kurie {ya Tuhan} egô {aku} pepisteuka {percaya} hoti {bahwa} su {Engkau} ei ho khristos {adalah Mesias} ho huios {putera} tou theou {Allah} ho eis {ke dalam} ton kosmon {dunia} erkhomenos {akan datang} 
        Catatan:
        Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang diharapkan datang. Marta sungguh mempunyai pengetahuan yang tepat bahwa ketiga gelar itu adalah milik seseorang yang sama, yaitu Yesus! (Untuk gelar yang ke-3, yaitu "Dia (nabi) yang diharapkan datang", lihat Yohanes 5:46.)

      11:28 LAI TB, Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau."BIS, Sesudah berkata begitu, pergilah Marta memanggil Maria, saudaranya. "Guru ada di sini," bisik Marta, "Ia memanggil engkau."KJV, And when she had so said, she went her way, and called Mary her sister secretly, saying, The Master is come, and calleth for thee. TR, και ταυτα ειπουσα απηλθεν και εφωνησεν μαριαν την αδελφην αυτης λαθρα ειπουσα ο διδασκαλος παρεστιν και φωνει σεTranslit interlinear, kai {lalu} tauta {ini} eipousa {setelah mengatakan} apêlthen {ia pergi} kai {dan} ephônêsen {memanggil} marian {maria} tên adelphên {saudara perempuan} autês {-nya} lathra {sengan berbisik} eipousa {berkata} ho didaskalos {Guru} parestin {ada di sini} kai {dan} phônei {memanggil} se {engkau} 

      11:29 LAI TB, Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.BIS, Ketika Maria mendengar hal itu, ia pun bergegas bangun dan pergi menemui Yesus.KJV, As soon as she heard that, she arose quickly, and came unto him. TR, εκεινη ως ηκουσεν εγειρεται ταχυ και ερχεται προς αυτονTranslit interlinear, ekeinê {dia itu} hôs {ketika} êkousen {mendengar} egeiretai {bangkit} takhu {segera} kai {dan} erkhetai {pergi} pros {menuju} auton {kepada-Nya} 

      11:30 LAI TB, Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.BIS, Pada waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kota. Ia masih berada di tempat di mana Marta menyambut Dia. KJV, Now Jesus was not yet come into the town, but was in that place where Martha met him. TR, ουπω δε εληλυθει ο ιησους εις την κωμην αλλ ην εν τω τοπω οπου υπηντησεν αυτω η μαρθαTranslit interlinear, oupô {masih belum} de {adapun} elêluthei {datang} ho iêsous {Yesus} eis {ke dalam} tên kômên {kampung itu} all {tetapi} ên {berada} en {masih} tô topô {di tempat} hopou {di mana} hupêntêsen {pergi menjumpai} autô {Dia} hê martha {marta} 

      11:31 LAI TB, Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.BIS, Semua orang yang sedang menghibur Maria di rumahnya, melihat Maria berdiri dan cepat-cepat pergi ke luar. Maka mereka juga pergi, mengikuti dia, karena menduga bahwa Maria akan pergi ke kubur untuk menangis di sana.KJV, The Jews then which were with her in the house, and comforted her, when they saw Mary, that she rose up hastily and went out, followed her, saying, She goeth unto the grave to weep there. TR, οι ουν ιουδαιοι οι οντες μετ αυτης εν τη οικια και παραμυθουμενοι αυτην ιδοντες την μαριαν οτι ταχεως ανεστη και εξηλθεν ηκολουθησαν αυτη λεγοντες οτι υπαγει εις το μνημειον ινα κλαυση εκειTranslit interlinear, hoi oun {maka} ioudaioi {orang2 yahudi} hoi {yang} ontes {bersama} met autês {dia} en {di} tê oikia {rumahnya} kai {dan} paramuthoumenoi {menghibur} autên {-nya} idontes {ketika melihat} tên marian {maria} hoti {bahwa} takheôs {segera} anestê {ia bangkit bersiri} kai {lalu} exêlthen {pergi ke luar} êkolouthêsan {mengikuti} autê {nya} legontes {ia berkata} hoti {bahwa} hupagei {ia pergi} eis {ke dalam} to mnêmeion {kubur} hina {untuk} klausê {menangis} ekei {di situ}

      11:32 LAI TB, Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."BIS, Ketika Maria melihat Yesus, ia bersujud di depan kaki Yesus dan berkata, "Tuhan, kalaulah Engkau ada di sini pada waktu itu, tentulah saudaraku tidak meninggal!" KJV, Then when Mary was come where Jesus was, and saw him, she fell down at his feet, saying unto him, Lord, if thou hadst been here, my brother had not died. TR, η ουν μαρια ως ηλθεν οπου ην ο ιησους ιδουσα αυτον επεσεν εις τους ποδας αυτου λεγουσα αυτω κυριε ει ης ωδε ουκ αν απεθανεν μου ο αδελφοςTranslit interlinear, hê oun {lalu} maria {maria} hôs {ketika} êlthen {datang} hopou {di mana} ên {berada} ho iêsous {Yesus} idousa {setelah melihat} auton {-Nya} epesen {sujud} eis tous podas autou {di kaki-kaki-Nya} legousa {ia berkata} autô {kepada-Nya} kurie {ya Tuhan} ei ês {jika Engkau ada} hôde {di sini} ouk {pasti tidak} an apethanen {mati} mou {-ku} ho adelphos {saudara} 
        Catatan: 
        Bandingkan ucapan Maria ini yang persis sama dengan ucapan Marta pada ayat 21, lihat Yohanes 11:21.


    Di sini terdapat: 


    1. Percakapan antara Kristus dan Marta. 

    (1) Diceritakan bahwa ia pergi mendapatkan-Nya (ayat 20). 

      [1] Kelihatannya Marta benar-benar menunggu dan mengharap-harapkan kedatangan Kristus. Mungkin saja dia telah mengutus orang untuk memberitahukannya jika Kristus telah datang, atau mungkin dia sering kali bertanya, "Apakah kamu melihat jantung hatiku?", sehingga orang pertama yang melihat Kristus datang segera berlari menemui Marta untuk memberitahukan kabar baik itu. Apa pun itu. Marta sudah mendengar tentang kedatangan Kristus bahkan sebelum Dia benar-benar sampai ke sana. Marta telah menunggu begitu lama dan sering kali bertanya, "Sudahkah Ia datang?" tetapi tidak kunjung mendengar kabar berita tentang Dia. Namun akhirnya, yang telah lama dinanti-nantikan itu datang juga. Pada akhirnya. penglihatan pun akan berbicara, tanpa berdusta

      [2] Begitu mendengar kabar baik bahwa Yesus akan segera datang, Marta pun meninggalkan segalanya dan pergi mendapatkan-Nya, untuk menyambut Dia dengan sungguh hati. Dia mengabaikan semua tata krama dan sikap hormat terhadap orang-orang Yahudi yang sedang melayat ke rumahnya, dan bergegas pergi untuk menemui Yesus. Perhatikan, saat Allah melawat kita melalui anu¬gerah atau pemeliharaan-Nya untuk menunjukkan belas kasihan dan menghibur kita, kita pun harus maju dalam iman, pengharapan dan doa untuk menemuiNya. Beberapa orang berpendapat bahwa Marta pergi ke luar kota untuk menemui Yesus supaya ia dapat memberitahukan-Nya bahwa di rumah mereka kini ada beberapa orang Yahudi yang mungkin tidak menyukai Yesus, sehingga kalau Yesus mau, la pun bisa menghindar untuk datang ke sana. 

      [3] Saat Marta pergi untuk menemui Yesus, Maria tinggal di rumah. Beberapa orang berpendapat bahwa mungkin Maria tidak mendengar kabar itu sebab ia menarik diri ke dalam kamarnya, sambil menerima kunjungan belasungkawa orang-orang, sementara Marta yang menyibukkan diri dalam urusan rumah tangga mendengar kabar itu dengan segera. Mungkin saja Marta tidak mau memberi tahu saudarinya bahwa Kristus hampir tiba, sebab ia ingin mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang menyambut-Nya. Sancta est prudentia clam fratribus clam parentibus ad Christum esse conferre - Kesigapan yang kudus membimbing kita kepada Kristus, sementara saudara dan orangtua bahkan tidak mengetahui apa yang kita lakukan. - Maldonat, in locum. Ada beberapa pihak lain juga berpendapat bahwa Maria mendengar kabar bahwa Kristus datang, tetapi terlalu tenggelam dalam kesedihannya sehingga dia tidak mau bergerak sedikit pun, dan memilih untuk terus larut dalam kesedihannya itu, dengan duduk diam sambil terus memikirkan dukacitanya, sambil berkata, "Selayaknyalah aku berkabung." Dengan membandingkan kisah ini dengan kisah yang dicatat dalam Lukas 10:38 dan seterusnya, kita dapat melihat perbedaan sifat di antara kedua saudari itu, beserta dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Sifat temperamen Marta adalah giat dan selalu sibuk. Dia senang mondar-mandir untuk membereskan segala sesuatu. Sifatnya ini telah menjadi perangkap baginya, karena bukan saja membuatnya menjadi cemas dan khawatir mengenai segala sesuatu, tetapi juga menghalanginya untuk men¬jalankan ibadahnya. Tetapi kini, di masa sulit seperti ini, sifat giatnya itu justru membawa kebaikan baginya, karena dapat menghalau kedukaan dalam hatinya dan membuatnya begitu bersemangat untuk bertemu dengan Kristus. Dan ia pun lebih cepat memperoleh penghiburan dari-Nya. Sebaliknya, sifat Maria adalah lebih pemikir dan menahan diri. Sifat ini merupakan keuntungan baginya sebelum ini, karena membuatnya duduk di bawah kaki Kristus untuk mendengar firman-Nya, dan memungkinkannya lebih memperhatikan Kristus tanpa harus terganggu oleh tetek bengek yang merisaukan Marta. Tetapi kini di saat yang sulit ini, Sifatnya itu menjadi suatu perangkap baginya, membuatnya sulit untuk melepaskan diri dari kesedihannya sehingga ia pun terus menerus terlarut di dalamnya: Tetapi Maria tinggal di rumah. Lihatlah di sini bagaimana kita benar-benar harus berhikmat dalam berjaga-jaga terhadap berbagai godaan, dan memanfaatkan sebaik-baiknya sifat temperamen kita untuk keuntungan kita.


    (2) Di sini terdapat cerita lengkap mengenai percakapan yang terjadi antara Kristus dan Marta. 

      [1] Perkataan Marta terhadap Kristus (ayat 21-22). 

      Pertama, ia mengeluhkan lamanya ketidakhadiran Kristus dan kedatangan-Nya yang tertunda. Dia mengatakan hal itu bukan saja dengan kepedihan karena kematian kakaknya, tetapi juga menyiratkan sedikit sakit hati karena tindakan Guru yang kelihatannya tidak baik itu: Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudara¬ku pasti tidak mati

      Di sini terdapat: 

        1. Suatu bukti imannya. Marta percaya kepada kuasa Kristus. yaitu, meskipun penyakit kakaknya itu sungguh berat, Dia pasti sanggup menyembuhkan¬nya dan mencegah kematiannya. Marta juga memercayai belas kasih-Nya. yaitu. jika saja Ia melihat Lazarus dalam kesakitannya yang luar biasa itu. dan bagaimana semua kenalan Lazarus menangis melihat penderitaannya itu. Kristus pasti akan merasa iba dan mencegah terjadinya kesedihan itu. sebab belas kasihan-Nya tidak sia-sia. Tetapi. 

        2. Di sini ada gambaran ketidakpercayaannya. Iman Marta memang tulus, tetapi lemah seperti sebatang buluh yang terkulai, sebab ia membatasi kuasa Kristus dengan berkata, sekiranya Engkau ada di sini. Padahal dia seharusnya tahu bahwa Kristus sanggup menyembuhkan orang dari jarak jauh. dan bahwa cara kerja-Nya yang penuh anugerah itu tidak terbatas oleh kehadiran tubuh jasmani-Nya. Dia juga berpikiran serupa mengenai hikmat dan kebaikan Kristus, yaitu bahwa Dia tidak bergegas mendapati mereka saat mereka memanggil-Nya, seolah-olah la tidak mengatur kegiatan-Nya dengan baik. dan malah tetap tinggal di tempat-Nya semula dan tidak segera datang, dan sekarang kedatangan-Nya sudah terlambat. Marta juga sudah tidak terpikir lagi untuk meminta pertolongan apa pun saat itu.


      Kedua, Marta kemudian meralat dan menghibur dirinya sendiri dengan memikirkan kebaikan yang Kristus sediakan di sorga. Setidaknya. kini dia menyalahkan dirinya sendiri karena tadi telah mempersalahkan Gurunya dan menyiratkan bahwa kedatangan-Nya itu sudah terlambat: Tetapi sekarang pun aku tahu, separah apa pun keadaannya, Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya. 

      Perhatikanlah: 

        1. Betapa berserahnya pengharapannya itu. Meski ia tidak punya nyali untuk meminta Yesus membangkitkan Lazarus. sebab pada waktu itu belum pernah ada orang yang telah lama mati dibangkitkan lagi, namun, layaknya seorang pemohon yang rendah hati, Marta bersedia menaruh perkara tersebut dalam kehendak Tuhan Yesus. sesuai dengan belas kasihan dan hikmat-Nya. Saat kita tidak tahu hal apa yang seharusnya kita minta atau harapkan. biarlah kita berserah diri kepada Allah dan membiarkan-Nya melakukan yang terbaik. Judicii tui est. non prcesumptionis mece - Aku menyerahkan hal itu pada keputusan-Mu. dan bukan pada pertimbanganku - Aug. in locum. Saat kita tidak tahu apa yang harus kita doakan. kita bisa merasa terhibur karena Sang Perantara Agung selalu tahu apa yang harus Ia mintakan bagi kita. dan doa-Nya itu selalu didengar. 

        2. Betapa lemahnya iman Marta itu. Seharusnya dia berkata. "Tuhan. Engkau dapat melakukan apa saja yang Engkau mau;" tetapi dia hanya berkata. "Engkau bisa mendapatkan apa saja yang Kau minta dalam doa-Mu." Dia sudah lupa bahwa Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, bahwa Ia melakukan mujizat-mujizat dengan kuasa-Nya sendiri. Akan tetapi, dua pertimbangan berikut harus diingat dalam mendorong iman dan pengharapan kita. dan satu pun tidak boleh diabaikan: Kuasa Kristus atas seluruh bumi dan hak serta pengantaraan-Nya di sorga. Dia memegang tongkat emas di satu tangan-Nya. sementara tangan yang satunya lagi memegang ukupan emas. Kuasa-Nya selalu unggul, pengantaraan-Nya selalu berhasil.



      [2] Kata-kata penghiburan yang diucapkan Kristus kepada Marta. sebagai jawaban terhadap pernyataannya yang menyedihkan tadi (ayat 23): Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." Dalam keluhannya. Marta menoleh ke belakang dan merenung dengan rasa sesal bahwa Kristus tidak ada di sana waktu itu, sebab pikirnya. "kalau saja Ia ada, pastilah saudaraku masih hi¬dup sekarang." Dalam keadaan seperti itu. kita memang sering kali tergoda untuk menambah kesengsaraan kita sendiri dengan mengandai-andaikan hal berbeda yang mungkin bisa terjadi. "Jika saja cara yang itu yang diterapkan, atau tabib itu yang dipanggil, pasti temanku tidak mati." Kalimat-kalimat seperti ini sebenarnya adalah sesuatu yang ada di luar jangkauan pengetahuan kita, jadi apa gunanya berkata seperti itu? Saat kehendak Allah telah terjadi, tugas kita hanyalah berserah kepada-Nya saja. Kristus membimbing Marta (dan melalui itu juga membimbing kita), untuk memandang ke depan dan memikirkan apa yang akan terjadi; sebab di sanalah terletak kepastian dan penghiburan: "Saudaramu akan bangkit." 

      Pertama, perkataan ini benar bagi Lazarus dalam arti khusus. bahwa sebentar lagi ia akan dibangkitkan. Tetapi Kristus menyatakan hal itu dalam arti yang lebih umum, yaitu sebagai sesuatu yang nanti akan terjadi, yang bukan akan dilakukan-Nya sendiri. Begitulah. betapa rendah hatinya Kristus ketika berbicara mengenai apa yang dilakukan-Nya. Kristus juga mengucapkan perkataan itu dengan makna ganda, yang membuat Marta pada mulanya merasa tidak yakin dengan maksud-Nya. apakah Ia hendak membangkitkan Lazarus sebentar lagi atau menunggu sampai akhir zaman. supaya dengan demikian Ia dapat menguji iman dan kesabarannya. 

      Kedua, perkataan Kristus itu berlaku bagi semua orang kudus dan kebangkitan mereka pada akhir zaman. Perhatikan, merupakan penghiburan bagi kita bila saat kita menguburkan teman dan kenalan kita yang saleh. kita tahu bahwa mereka akan bangkit lagi. Sebagaimana jiwa tidak hilang saat kematian, melainkan hanya pergi, begitu juga tubuh tidak lenyap, melainkan hanya dibaringkan saja. Bayangkanlah dirimu mendengar Kristus berkata. "Orangtuamu, anakmu, teman sepenanggunganmu, akan bangkit lagi, tulang-tulang yang kering itu akan hidup lagi." 


      [3] Iman Marta yang bercampur dengan perkataan Kristus itu. dan ketidakpercayaan yang bercampur dengan imannya itu (ayat 24).

      Pertama, Marta menganggapnya sebagai perkataan yang harus diimani, yaitu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman. Meski ajaran mengenai kebangkitan itu baru benar-benar terbukti penuh dengan terjadinya kebangkitan Kristus. tetapi sebagaimana terlihat di sini, Marta telah mempercayainya dengan teguh (Kisah 24:15), yaitu: 

        1. Bahwa akan ada akhir zaman. saat seluruh hari dan waktu akan dihitung dan dihentikan. 

        2. Bahwa akan terjadi kebangkitan besar pada saat itu, yaitu ketika bumi dan laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya. 

        3. Bahwa akan ada kebangkitan pribadi bagi setiap orang: "Aku tahu bahwa aku akan bangkit lagi, begitu pula semua orang-orang yang kukasihi." Sebagaimana tulang-tulang akan kembali bertemu satu sama lain pada hari itu, begitu pula seorang teman dengan temannya yang lain.

      Kedua, Meski begitu, kelihatannya Marta masih berpikir bahwa perkataan itu tidaklah seberharga kenyataannya: "Aku tahu ia akan bangkit pada akhir zaman, tetapi kami sekarang tidak merasa lebih baik karenanya," seolah-olah penghiburan yang ada dalam kebangkitan menuju hidup yang kekal itu tidak ada gunanya diperbincangkan pada saat itu, atau tidak membantunya meringankan kesedihannya. Lihatlah kelemahan dan kebodohan kita. Kita membiarkan hal-hal indrawi sekarang ini terpatri dalam-dalam pada diri kita, baik itu duka maupun suka. dibandingkan dengan hal-hal yang menjadi sasaran iman kita. Aku tahu ia akan bangkit pada akhir zaman, apakah itu belum cukup? Sepertinya, memang belum cukup bagi Marta. Dengan demikian, ketidakpuasan kita akan salib yang harus kita pikul sekarang dapat membuat kita meremehkan pengharapan kita akan masa depan. seolah-olah pengharapan itu tidak layak untuk diindahkan.


      [4] Arahan dan peneguhan lebih lanjut yang diberikan Kristus kepada Marta. sebab Ia tidak akan memadamkan batang pohon yang terbakar ataupun mematahkan buluh yang terkulai. Kata Yesus kepadanya, Akulah kebangkitan dan hidup (ayat 25-26). Ada dua hal yang Kristus tekankan supaya Marta percaya, berkenaan dengan kesulitan yang sedang dialaminya. Kedua hal itu juga merupakan sesuatu yang harus kita iman i saat menghadapi perkara serupa.

      Pertama, Kuasa Kristus. kuasa-Nya yang berdaulat: 
      Akulah kebangkitan dan hidup, sumber kehidupan, pemimpin dan pelaku kebangkitan. Marta percaya bahwa melalui doa-Nya. Allah akan memberikan apa saja. tetapi Kristus hendak memberitahukannya bahwa melalui perkataan-Nya, la dapat melakukan apa saja. Marta mengimani kebangkitan di akhir zaman. tetapi Kristus memberitahukannya bahwa Ia memiliki kuasa di tangan-Nya. sehingga orang-orang mati pun akan mendengar suara-Nya (Yohanes 5:25). Dengan demikian, mudah saja untuk menyimpulkan bahwa Dia yang dapat membangkitkan seisi dunia orang yang telah mati berabad-abad lamanya di dunia ini. pasti dapat pula melakukan hal yang sama terhadap satu orang yang telah mati selama empat hari saja. 
      Perhatikan. kebenaran mengenai Yesus Kristus sebagai kebangkitan dan hidup merupakan penghiburan yang tidak terucapkan bagi seluruh orang Kristen yang saleh. Kebangkitan adalah kembali kepada kehidupan. Kristus adalah pencipta kebangkitan dan kehidupan dari kembalinya orang kepada hidup itu. Kita menanti-nantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan dunia yang akan datang. Kristus adalah keduanya, yaitu pencipta dan dasar dari kedua hal tersebut, dan juga dasar pengharapan kita akan keduanya. 

      Kedua, janji-janji yang terkandung dalam kovenan yang baru itu. yang memperdalam pengharapan kita bahwa kita akan hidup. 

      Perhatikanlah: 

      a. Untuk siapa janji-janji tersebut dibuat, yaitu bagi semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. bagi semua orang yang mengakui dan percaya Yesus Kristus sebagai satu-satunya Perantara dalam pendamaian dan persekutuan antara Allah dan manusia. yang menerima pernyataan yang telah diberikan Allah melalui firman-Nya mengenai Anak-Nya. dan secara tulus menaatinya dan berlaku sesuai dengan maksud-maksud agung yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian. syarat dari janji yang terakhir itu dapat diungkapkan demikian: Setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, yang bisa saja diartikan sebagai: 

        (a) Kehidupan jasmani: Setiap orang yang hidup di dunia ini, tidak masalah apakah dia orang Yahudi atau bukan-Yahudi. di mana pun dia tinggal, jika ia percaya kepada Kristus. maka ia akan hidup karena-Nya. Akan tetapi, pengertian ini memiliki keterbatasan waktu: Setiap orang selama ia hidup. selama dia ada di dalam masa ujian di dunia ini, percaya kepada-Ku, akan berbahagia di dalam-Ku, namun setelah kematian. segalanya sudah terlambat. Setiap orang yang hidup dan percaya, yaitu, yang hidup oleh iman (Galatia 2:20), memiliki iman yang mempengaruhi perilakunya. Atau juga. 

        (b) Kehidupan rohani: Orang yang hidup dan yang percaya adalah orang yang dilahirkan kembali melalui iman ke dalam kehidupan sorgawi dan ilahi. Bagi orang demikian. hidup adalah Kristus. yaitu menjadikan Kristus sebagai kehidupan jiwanya.


      b. Hal-hal yang dijanjikan adalah (ayat 25): Ia akan hidup walaupun ia sudah mati. bahkan, tidak akan mati selama-lamanya (ayat 26). Manusia terdiri atas raga dan jiwa, dan kebahagiaan telah disediakan bagi keduanya. 

        (a) Bagi raga: Inilah janji kebangkitan yang membahagiakan itu. Meskipun tubuh akan mati karena dosa (dan tidak ada obat yang bisa mencegah kematian itu). namun tubuh itu akan hidup lagi. Di sini, seluruh kesulitan yang menyertai kemati¬an tidak dipersoalkan. dan dianggap tidak ada apa-apanya. Meskipun hukuman mati itu adil, meskipun akibat kematian itu menakutkan, meskipun belenggu kematian begitu kencang, meskipun orang akan mati dan dikuburkan, mati dan membusuk, dan meskipun abu jasadnya akan bercampur dengan debu lainnya sampai tidak ada seorang pun yang dapat membedakannya lagi. apalagi memisahkannya, dan Anda bisa saja memikirkan hal-hal terburuk lainnya dari sisi gelap seperti itu, tetapi kita bisa yakin bahwa ia akan hidup lagi: ia akan dibangkitkan lagi sebagai tubuh yang penuh kemuliaan. 

        (b) Bagi jiwa: Inilah janji dari kekekalan yang membahagiakan. Orang yang hidup dan percaya, yang setelah bersatu dengan Kristus melalui iman, kehidupan rohaninya disokong oleh persekutuan itu, ia tidak akan mati selama-lamanya. Kehidupan rohani itu tidak akan pernah memudar, melainkan disempurnakan dalam kehidupan yang kekal. Menurut sifat rohaninya sendiri, jiwa itu tidak bisa mati. Karena itu, jika dengan iman jiwa itu menjalankan kehidupan yang rohani. sejalan dengan sifatnya tadi. maka kebahagiaan nya juga akan abadi. Jiwa seperti itu tidak akan pernah mati, tidak akan merasakan apa pun lagi selain kenyamanan dan kebahagiaan, dan kehidupannya tidak akan terganggu ataupun terhenti sebagaimana kehidupan tubuh jasmani. Tubuh yang fana itu akhirnya akan ditelan oleh hidup, tetapi kehidupan jiwa yang percaya akan segera ditelan oleh kekekalan setelah dia mati. Dia tidak akan mati, eis ton aiona, selama-lamanya - Non morietur in cetemum. seperti yang dikutip oleh Cyprianus (seorang martir abad ketiga Masehi pen.). Tubuh tidak akan selamanya mati di dalam kubur, tetapi hanya mati (seperti kedua saksi itu) untuk sesaat saja, untuk sementara waktu, dan bila waktu itu sudah tidak ada lagi dan semua pembagiannya dihitung dan diakhiri, maka masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalamnya. Tetapi bukan itu saja, jiwa-jiwa itu tidak akan menderita kematian yang kekal, tidak akan mati selama-lamanya. Berbahagia dan kuduslah, artinya. terberkati dan berbahagialah ia yang melalui imannya mendapat bagian dalam kebangkitan pertama, mendapat bagian dalam Kristus yang merupakan kebangkitan itu sendiri, sebab kematian kedua, yang merupakan kematian kekal, tidak berkuasa lagi atas mereka (Yohanes 6:40). Kristus pun bertanya kepada Marta, "Percayakah engkau akan hal ini? Dapatkah engkau mengimaninya dan berlaku seturut imanmu itu? Percayakah engkau akan perkataan-Ku tadi?" Perhatikan. setelah kita membaca atau mendengarkan firman Kristus mengenai hal-hal besar di dunia yang akan datang, hendaknya kita bersungguh-sungguh menanyakannya kepada diri kita sendiri, "Percayakah kita akan hal ini, khususnya kebenaran ini, kebenaran ini yang disertai dengan begitu banyak kesukaran. yang sesuai dengan perkara yang sedang kuhadapi ini? Apakah imanku akan kebenaran itu nyata bagiku sehingga jiwaku pun diyakinkan mengenainya, sehingga aku tidak hanya dapat berkata, aku percaya akan hal itu, tetapi juga, karena itulah aku percaya akan hal itu?" Marta ingin sekali saudaranya dibangkitkan di dunia ini. Sebelum Kristus memberinya harapan akan hal itu. Ia sudah mengarahkan pikirannya ke kehidupan lain di dunia yang lain: "Lupakan lah dulu yang satu itu, tetapi percayakah engkau akan hal yang Kukata-kan padamu tentang kehidupan di masa yang akan datang ini?" Salib yang kita pikul dan kenyamanan yang kita nikmati pada masa kini sebenarnya tidak akan begitu tertanam kuat dalam diri kita jika saja kita mempercayai hal-hal kekekalan sebagaimana yang seharusnya kita perbuat.


      [5] Kesetujuan Marta yang tulus mengenai perkataan Kristus itu (ayat 27). Di sini kita mendapati pernyataan iman Marta. pengakuan saleh yang diutarakannya, sama seperti pengakuan Petrus yang membuatnya menerima pujian (Matius 16:16-17), dan pengakuannya itu merupakan kesimpulan akhir dari seluruh perkara itu

      Pertama, inilah tuntunan imannya, yaitu firman Kristus: tanpa embel-embel. pengecualian. ataupun pra syarat tertentu. Marta menerima apa yang dikatakan Kristus seluruhnya: Ya. Tuhan. Perkat.aan ini menunjukkan bagaimana Marta mengimani segenap kebenaran dan bagian-bagiannya yang telah dijanjikan Kristus. sesuai dengan apa yang dimaksudkan-Nya: Apa pun itu. Iman adalah gaung terhadap pewahyuan ilahi, yakni menggemakan perkataan yang sama dan bertekad untuk melakukannya: Ya, Tuhan, aku percaya dan mengimaninya sebagaimana yang dikatakan oleh firman, kata Ratu Elizabeth. 

      Kedua, dasar iman Marta. yaitu wewenang Kristus. la mempercayai hal itu karena dia percaya bahwa yang mengatakannya adalah Kristus. Marta telah memiliki dasar yang teguh untuk menyokong hal-hal besar, Aku percaya. pepisteuka, "Aku sudah percaya bahwa Engkau adalah Kristus, dan karena itulah aku percaya akan apa yang Kaukatakan tadi." 

      Perhatikanlah di sini: 

      a. Apa yang dia percayai dan akui mengenai Yesus, Ada tiga hal, dan semuanya sama pentingnya: 

        (a) Bahwa Ia adalah Kristus. atau Mesias. yang dijanjikan dan dinantikan dalam nama dan gagasan ini: Yang Diurapi

        (b) Bahwa Ia adalah Anak Allah. Demikianlah Mesias dipanggil (Mazmur 2:7), bukan hanya dengan nama jabatan-Nya saja. tetapi juga dengan watak-Nya. 

        (c) Bahwa Dia-lah yang akan datang ke dalam dunia. sang ho erkhomenos. Berkat dari segala berkat yang telah dinanti-nantikan Gereja selama berabad-abad lamanya sebagai berkat di masa depan itu kini diterima Marta sebagai berkat masa kini.

      b. Apa yang Marta maksudkan dalam perkataannya tadi. dan bagaimana dia menerapkannya. Jika dia mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. maka tidak sulit lagi untuk percaya bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Sebab, jika Ia benar-benar Kristus, maka: 

        (a) Dia adalah sumber cahaya dan kebenaran, dan kita dapat meyakini bahwa semua perkataan dan janji-Nya itu setia dan ilahi. Jika Ia benar adalah Kristus, maka Dia-lah nabi yang harus kita indahkan dalam segala hal

        (b) Dia adalah sumber kehidupan dan keberkatan, dan karena itulah kita dapat bergantung pada kesanggupan-Nya serta juga pada kenyataan bahwa Dia penuh dengan kebenaran. Bagaimana mungkin tubuh yang sudah kembali menjadi debu bisa hidup lagi? Bagaimana mungkin jiwa yang gelap dan muram seperti jiwa kita, akan hidup untuk selama-lamanya? Kita tidak akan bisa mempercayai itu semua, kecuali jika kita percaya bahwa yang melakukannya adalah Anak Allah yang memiliki hidup di dalam diri-Nya sendiri, dan yang memilikinya untuk diberikan kepada kita.


    2. Percakapan antara Kristus dan Maria, saudari yang satunya lagi. 

    Perhatikanlah di sini: 

    (1) Kabar yang diberitahukan Marta kepadanya mengenai kedatangan Kristus (ayat 28): Sesudah berkata demikian, seperti orang yang tidak perlu berkata apa-apa lagi. ia pergi, dengan hati yang tenang, dan memanggil saudarinya Maria

      [1] Setelah mendapat bimbingan dan penghiburan dari 
      Kristus secara langsung, Marta pun memanggil saudari¬nya untuk berbagi dengannya. Suatu ketika memang Marta pernah menginginkan Maria untuk menjauh dari Kristus dan membantunya yang sibuk sekali melayani (Lukas 10:40), tetapi kini. untuk menebus kesalahannya itu, ia justru hendak mendorong Maria untuk mendekat kepada Kristus. 

      [2] Ia memanggil Maria secara diam-diam, berbisik di telinganya, sebab saat itu mereka sedang dikelilingi oleh orang-orang Yahudi yang tidak ramah terhadap Kristus. Para orang kudus dipanggil ke dalam persekutuan dengan Yesus Kristus melalui sebuah ajakan yang bersifat rahasia dan istimewa, yang diberikan khusus bagi mereka dan tidak bagi yang lainnya. Mereka memiliki makanan untuk dimakan yang tidak dikenal dunia, dan sukacita yang tidak pemah dirasakan oleh orang asing lain. 

      [3] Dia memanggil Maria atas suruhan Kristus. Ia menyuruh Marta pergi dan memanggil saudarinya. Panggilan yang menggugah seperti itu, siapa pun yang mengabarkannya, pastilah diutus oleh Kristus. Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau

      Pertama, Marta memanggil Kristus dengan sebutan Guru, didaskalos, Tuan Pengajar. gelar yang olehnya Ia biasa dipanggil dan dikenal di antara kedua bersaudara itu. Tuan George Herbert (seorang theolog Inggris abad ketujuh belas - pen.) senang sekali menyebut Kristus Guruku

      Kedua, Marta amat bergirang dengan kedatangan-Nya itu: Guru ada di sana (KJV: "Guru sudah datang" pen.). Dia telah lama dinanti-nantikan dan dirindukan, dan kini Ia telah datang, Ia telah datang. Kedatangan-Nya ini terasa menyejukkan dalam situasi kedukaan seperti saat itu. "Lazarus telah pergi, dan penghiburan kita di dalam dia pun ikut pergi. Tetapi Guru telah datang, dan Ia lebih baik daripada seorang teman terkasih sekalipun, dan Ia pasti sanggup menggantikan segenap rasa kehilangan yang kini kita derita. Guru kita telah datang, dan Ia akan mengajari kita untuk melewati kesedihan kita (Mazmur 44:12). Ia akan mengajar dan menghibur kita dengan ajaran-Nya itu." 

      Ketiga, Marta mengajak Maria untuk pergi dan menemui Kristus: "Ia memanggil engkau, menanyakan kabarmu dan ingin supaya engkau menemui-Nya." Perhatikan. saat Kristus Guru kita datang, Ia akan memanggil kita. Dia datang melalui firman dan kegiatan-kegiatan ibadah, memanggil kita untuk datang menghadirinya dan memanggil kita menemui-Nya. Dia khusus memanggilmu, memanggilmu dengan namamu (Mazmur 27:8), dan jika Ia memanggilmu, maka Ia pun akan memulihkan dan menghiburmu.


    (2) Bergegasnya Maria menemui Kristus ketika diberi tahu mengenai hal itu (ayat 29): Mendengar itu, yaitu kabar baik bahwa Guru telah datang, Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus, Tidak terpikir oleh Maria betapa dekatnya Kristus dengannya saat itu, sebab Ia sering kali berada lebih dekat dengan mereka yang sedang berkabung di Sion daripada yang kita sadari. Tetapi, saat Maria mengetahui bahwa Kristus begitu dekat. ia pun mulai berlari dengan gembira untuk mendapatkan-Nya. Sedikit kabar saja mengenai mendekatnya Kristus yang penuh rahmat itu sudah cukup bagi iman yang giat, yang selalu siap menyam-but kabar itu dan menjawab panggilan pertama saat itu juga. 

    Ketika Kristus datang: 

      [1] Maria tidak lagi memikirkan tata krama dalam perkabungan itu. Sebaliknya, dengan mengabaikan segala tata eara dan adat kebiasaan dalam situasi seperti itu, ia pun berlari melalui kota untuk mendapati Kristus. Biarlah tidak ada satu aturan yang menentukan kehormatan atau kedudukan menghalangi kita dari kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Kristus. 

      [2] Maria juga tidak meminta pendapat para tetangganya, yaitu orang-orang Yahudi yang saat itu ada bersama-sama dengannya untuk menghiburkannya. Dia meninggalkan mereka semuanya untuk datang kepada Kristus. Ia bukan saja tidak meminta nasihat mereka, tetapi juga tidak punya waktu untuk berpamitan atau meminta maaf atas kekasarannya itu.



    (3) Di sini kita diberi tahu (ayat 30) di mana Maria menemukan Gurunya. Kristus belum sampai ke Betania, tetapi sudah tiba di ujung kampung itu, di tempat Marta menjumpai-Nya. 

    Lihatlah di sini: 

      [1] Betapa Kristus mencintai pekerjaan-Nya. Dia berada dekat-dekat kuburan itu supaya la siap untuk menuju ke sana. Dia tidak mau masuk ke dalam kampung untuk beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan itu. kecuali la telah selesai menunaikan tugas yang membawa-Nya ke sana. Dia juga tidak mau pergi ke dalam kampung. supaya jangan sampai tindakan-Nya itu tampak seperti mau pamer dan sengaja untuk menarik kerumunan orang untuk menonton mujizat-Nya itu. 

      [2] Kasih Maria terhadap Kristus. Masih saja besar kasihnya itu. Meskipun Kristus tampaknya kurang berbaik hati dengan menunda kunjungan-Nya itu. Maria tidak menyalahkan Dia sama sekali. Karena itu, biarlah kita juga pergi kepada Kristus di luar perkemahan (Ibrani 13:13).


    (4) Kesalahpahaman orang-orang Yahudi yang sedang bersama-sama dengan Maria sewaktu ia bergegas pergi ke luar (ayat 31): Mereka berkata, ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. Marta lebih tabah dalam menghadapi kesedihan dibandingkan Maria, sebab Maria adalah seorang wanita yang berhati lembut dan mudah terhanyut dalam kesedihan. Orang-orang seperti Maria perlu berjaga-jaga dalam menghadapi kedukaan dan memerlukan banyak belas kasihan dan sokongan. Para pelayat mendapati Maria sama sekali tidak terhibur dengan segala tata cara penghiburan yang mereka lakukan. sebab dia terus saja berkubang dalam kesedihannya. Karena itulah. saat Maria pergi ke luar dan menuju arah kuburan. mereka pun mengira ia hendak pergi ke kubur untuk meratap di situ

    Lihatlah: 

      [1] Kebodohan dan kesalahan yang biasanya didapati dalam diri orang yang sedang berkabung. Mereka seringkali sengaja memperparah kesedihan mereka dan memperburuk keadaan. Dalam situasi seperti itu, biasanya kita cenderung berkutat dalam kepedihan hati sambil berkata, sudah selayaknya kita terus berduka, bahkan sampai mati. Kita cenderung enggan melepaskan hal-hal yang sebenamya menambah kesedihan kita. Padahal. apa gunanya hal itu bagi kita. saat kita justru seharusnya berserah pada kehendak Allah dalam segala kesusahan itu? Mengapa orang-orang yang berkabung pergi ke kubur untuk meratap di situ. padahal mereka tidak perlu berduka seperti orang yang tidak punya pengharapan? Kesedihan itu sendiri sudah menyusahkan hati. mengapa kita harus menjadikannya lebih sulit lagi? 

      [2] Hikmat dan kewajiban para pelayat, yaitu sedapat mungkin mencegah kembalinya perasaan sedih orang yang sedang berkabung dan berusaha untuk mengalih¬kan perhatian mereka dari kepedihan yang mendalam itu. Karena itulah orang-orang Yahudi yang mengikuti Maria juga dituntun kepada Kristus dan menjadi saksi salah satu mujizat-Nya yang gemilang. Setia menemani kawan-kawan Kristus saat mereka berduka merupakan hal yang baik, sebab dengan begitu. kita dapat lebih dalam lagi mengenal Kristus.



    (5) Sambutan Maria terhadap Tuhan Yesus kita (ayat 32): Dia datang dengan diikuti oleh para pelayat lain. lalu tersungkurlah ia di depan kaki-Nya, sebagai seorang yang sedang diselimuti kedukaan yang amat besar. dan berkata dengan air mata bercucuran (seperti yang terlihat dalam ayat 33), "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati," seperti yang pernah dikatakan Marta sebelumnya, sebab mereka telah sering mengatakan hal tersebut satu sama lain.

    Di sini kita dapati: 

      [1] Sikap Maria yang merendahkan dirinya dan berserah: Tersungkurlah ia di depan kaki-Nya, lebih daripada yang Marta lakukan, sebab dukacita Maria lebih dalam. Dia tersungkur bukan sebagai peratap yang kehilangan asa. namun tersungkur di kaki Kristus sebagai seorang pemohon yang merendahkan dirinya. Maria ini jugalah yang dulunya duduk dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya (Lukas 10:39), dan kini kita mendapatinya lagi dalam posisi yang sama dengan tujuan berbeda. Perhatikan, orang yang sewaktu keadaannya sedang damai menempatkan dirinya di kaki Kristus untuk dibimbing oleh-Nya, dia juga dapat dengan rasa terhibur dan yakin datang lagi ke kaki-Nya sewaktu keadaannya sulit, untuk mencari pertolongan dari-Nya. Maria tersungkur di depan kaki-Nya, sebagai seorang yang berserah pada kehendak-Nya di dalam segala peristiwa yang telah terjadi, dan menyambut maksud baik-Nya melalui apa pun yang kini akan terjadi. Saat kita sedang bersusah hati, kita harus merendahkan diri kita di kaki Kristus dengan dukacita pertobatan dan kebencian terhadap dosa, serta memasrahkan diri kita dengan sabar terhadap kehendak Allah. Tersungkurnya Maria di kaki Kristus menandakan rasa hormat dan pemujaannya yang mendalam terhadap Kristus. Demikianlah yang biasanya dilakukan rakyat jelata dalam menyatakan rasa hormat terhadap raja dan pangeran mereka, tetapi Tuhan kita Yesus tidak berpenampilan agung secara duniawi seperti halnya penguasa di bumi ini, sehingga orang yang menyatakan rasa hormat kepada-Nya dengan sikap seperti itu berarti memandang-Nya lebih daripada seorang manusia biasa, dan dengan begitu, bermaksud memberi-Nya kehormatan ilahi. Dengan begitu Maria mengakui iman Kristen sebagaimana yang telah dilakukan Marta, dan pada intinya mengatakan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias. Bertekuk lutut di hadapan Kristus dan mengakui-Nya dengan lidah, dianggap sama artinya (Roma 14:11; Filipi 2:10-11). Dia melakukan hal itu di hadapan orang-orang Yahudi yang mengikutinya, yang meskipun merupakan kawan-kawan baginya dan keluarganya, mereka juga sangat memusuhi Kristus. Akan tetapi, di hadapan mereka Maria tetap jatuh tersungkur di kaki Kristus, sebagai seorang yang tidak merasa malu untuk mengakui betapa ia memuja-Nya, juga tidak merasa takut kehilangan kawan-kawan dan tetangganya karena itu. Dia tetap tersungkur di kaki-Nya tanpa peduli bila mereka merasa tersinggung karena itu. Dan jika tindakan itu menjadikannya hina, dia bahkan rela menjadi lebih hina lagi (Kidung 8:1). Kita melayani seorang Tuan yang membuat kita tidak perlu malu akan Dia. Penerimaan-Nya akan segala pelayanan kita cukup untuk mengimbangi semua penghinaan dan cacian manusia. 

      [2] Perkataan Maria sangat mengharukan: Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Penundaan yang dilakukan Kristus dimaksudkan untuk mendatangkan sesuatu yang terbaik, dan memang terbukti demikian. Akan tetapi, kedua bersaudari itu melontarkan perkataan yang sama, yang sebenarnya tidak sopan terhadap-Nya, sebab perkataan mereka menyiratkan bahwa mereka mempersalahkan-Nya atas kematian saudara mereka. Kristus bisa saja menjadi tersinggung dengan perkataan mereka yang diulang-ulang itu, dan berkata pada mereka bahwa Ia pun memiliki pekerjaan lain, dan tidak harus selalu menuruti permintaan mereka dan melayani mereka. Dia baru dapat datang setelah urusan-Nya selesai. Namun, Dia justru tidak mengatakan apa-apa. Kristus memahami keadaan mereka yang sedang susah itu, dan bahwa orang-orang yang sedang kehilangan itu berpikir bahwa mereka layak bicara seperti itu, sehingga Ia pun memaafkan ketidaksopanan mereka dalam menyambut-Nya. Dengan begitu, Kristus memberi kita sebuah teladan untuk bersikap lembut dan lunak di saat-saat seperti itu. Maria tidak menambahkan kata-kata lain seperti Marta, tetapi dari apa yang terjadi sesudahnya, tampaknya apa yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata, ia ungkapkan dengan air mata. Ia tidak berbicara sebanyak Marta, tetapi lebih banyak menangis. Dan air mata yang tercurah karena kasih sayang yang mendalam terdengar seperti suara nyaring di telinga Kristus. Tiada seni berbicara yang hebat seperti ini.


B. Kristus di Kubur Lazarus: Kebangkitan Lazarus
Yohanes 11: 33-44



      11:33 LAI TB, Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:BIS, Yesus melihat Maria menangis dan orang-orang Yahudi yang bersama dia juga menangis. Yesus sangat terharu dan sedih hati. KJV, When Jesus therefore saw her weeping, and the Jews also weeping which came with her, he groaned in the spirit, and was troubled. TR, ιησους ουν ως ειδεν αυτην κλαιουσαν και τους συνελθοντας αυτη ιουδαιους κλαιοντας ενεβριμησατο τω πνευματι και εταραξεν εαυτονTranslit, iêsous oun hôs eiden autên klaiousan kai tous sunelthontas autê ioudaious klaiontas enebrimêsato tô pneumati kai etaraxen heauton11:34 LAI TB, "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!"BIS, Ia bertanya, "Di mana kalian mengubur dia?" Jawab mereka, "Tuhan, marilah lihat." KJV, And said, Where have ye laid him? They said unto him, Lord, come and see. TR, και ειπεν που τεθεικατε αυτον λεγουσιν αυτω κυριε ερχου και ιδεTranslit, kai eipen pou tetheikate auton legousin autô kurie erkhou kai ide11:35 LAI TB, Maka menangislah Yesus.BIS, Dan Yesus menangis. KJV, Jesus wept. TR, εδακρυσεν ο ιησουςTranslit, edakrusen ho iêsous11:36 LAI TB, Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!"BIS, Orang-orang Yahudi berkata, "Lihat, betapa Ia mencintai Lazarus!" KJV, Then said the Jews, Behold how he loved him! TR, ελεγον ουν οι ιουδαιοι ιδε πως εφιλει αυτονTranslit, elegon oun hoi ioudaioi ide pôs ephilei auton 

      11:37 LAI TB, Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?"BIS, Namun ada yang berkata, "Ia sudah membuat orang buta melihat; bukankah Ia dapat pula menghindarkan Lazarus dari kematian?"KJV, And some of them said, Could not this man, which opened the eyes of the blind, have caused that even this man should not have died? TR, τινες δε εξ αυτων ειπον ουκ ηδυνατο ουτος ο ανοιξας τους οφθαλμους του τυφλου ποιησαι ινα και ουτος μη αποθανηTranslit, tines de ex autôn eipon ouk êdunato houtos ho anoixas tous ophthalmous tou tuphlou poiêsai hina kai houtos mê apothanê



    Disini terdapat:

    I. Rasa simpati yang lembut yang dimiliki Kristus atas teman-teman-Nya yang sedang bersusah, dan bagaimana Ia turut merasakan kesedihan mereka, yang terlihat nyata melalui tiga hal: 

    1. Batin-Nya yang terharu dan hati-Nya yang menjadi masygul (ayat 33): Yesus melihat Maria menangis karena kehilangan saudara yang sangat dikasihinya. dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia menangisi perginya seorang tetangga dan kawan yang baik hati. Saat Kristus menyaksikan betapa menyedihkannya bochim, tempat berkumpulnya para peratap itu. maka masygullah hati-Nya dan Ia sangat terharu

    Lihatlah di sini: 

      (1) Dukacita anak-anak manusia yang digambarkan oleh air mata Maria dan kawan-kawannya. Cucuran air mata mereka itu menjadi lambang yang amat tepat bagi kedukaan di dunia ini. Secara alami, kita memang telah belajar untuk meratapi kawan-kawan kita yang terkasih sewaktu mereka direnggut oleh kematian. Demikianlah. pemeliharaan Allah juga melibatkan hari-hari tangis perkabungan. Mungkin saja kekayaan Lazarus kini jatuh ke tangan saudari-saudarinya itu dan merupakan tambahan besar atas nasib baik mereka. Di zaman sekarang. dalam keadaan seperti itu. biasanya orang-orang tidak menginginkan kerabat mereka hidup kembali. sekalipun tentu saja mereka tidak mengharapkan kematian mereka (setidaknya, mereka tidak mengatakan demikian). Namun. kedua bersaudari ini sungguh-sungguh menginginkan Lazarus hidup kembali. tanpa peduli sebesar apa pun kekayaan yang akan mereka terima setelah ia mati. Agama mengajarkan kita seperti ini, untuk menangis dengan orang yang menangis. sebagaimana orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama Maria itu juga menangis. mengingat kita ini satu tubuh dengan yang lainnya. Orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi kawan-kawan mereka tentu akan selalu berbagi dengan mereka dalam suka dan duka. sebab. apakah itu persahabatan selain daripada saling menunjukkan kasih sayang satu sama lainnya? (Ayub 16:5). 

      (2) Kasih karunia dan belas kasihan Anak Allah terhadap mereka yang ada dalam kesengsaraan. Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka (Yesaya 63:9; Hakim 10: 16. KJV: "Dialah yang menderita dalam segala kesesakan mereka" - pen.). 
      Saat Kristus melihat mereka semua berlinang air mata: 

        [1] Masygullah hati-Nya. Ia merelakan diri-Nya untuk dicobai (seperti kita saat sedang dirundung kesesakan besar), hanya saja Ia tidak berbuat dosa. Kemasygulan hati-Nya itu merupakan ungkapan. 

        Pertama, dari ketidaksenangan-Nya terhadap dukacita yang kacau balau dari orang-orang di sekeliling-Nya (seperti dalam Markus 5:39): "Mengapa kamu ribut dan menangis? Betapa kacaunya keadaan di sini! Beginikah sikap orang yang percaya kepada Allah. sorga dan dunia lain?" Atau, 

        Kedua, dari perasaan-Nya mengenai kehidupan manusia yang penuh dengan bencana dan takluk pada kuasa maut yang telah menjatuhkan manusia berdosa. Kini. Kristus harus menyerang maut dan kubur sehingga la pun mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran itu. Ia mengenakan pakaian pembalasan, dan kemarahan-Nya itu menguatkan Dia. sehingga semakin diteguhkan untuk mengambil bagian dalam penderitaan
        kita yang sangat besar, dan dalam pemulihan kita dari segala kedukaan itu. Dengan senang hati Kristus menempatkan diri-Nya untuk menanggung beban itu, sehingga hati-Nya pun merjadi masygul karenanya. Atau, 

        Ketiga, sikap Kristus tersebut merupakan ungkapan dari rasa simpati terhadap teman-teman-Nya yang sedang berduka. Inilah hati yang tergerak dan kasih sayang yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh gereja yang sedang menderita (Yesaya 63:15). Kristus tidak saja terlihat prihatin, tetapi juga menjadi masygul hati-Nya. Dia benar-benar tergugah karena kejadian itu dalam batin-Nya. Kawan-kawan palsu Daud berpura-pura tergugah untuk menyembunyikan kejahatan mereka (Mazmur 41:7), tetapi kita harus belajar dari Kristus supaya memberikan kasih sayang dan rasa simpati kita tanpa berpura-pura. Keluhan Kristus benar-benar tulus dan mendalam. 

        [2] Ia menjadi sangat terharu. Ia membiarkan diri-Nya menjadi terharu, begitulah arti sebenarnya dari kalimat itu. Kristus memiliki segala perasaan dan rasa kasih yang ada dalam sifat manusia, sebab di dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, tetapi Kristus dapat mengendalikan semua perasaan itu, yang dapat hanya bila dan ketika Ia kehendaki. la tidak pernah terharu, tetapi membiarkan diri-Nya terharu, saat Ia menyaksikan perkara tertentu. Kristus sering kali membiarkan diri-Nya tergugah oleh kesesakan, tetapi tidak pernah direpotkan atau dikacaukan oleh kesesakan itu. Dengan kehendak-Nya sendiri Dia memperlihatkan perasan dan belas kasihan-Nya. Ia berkuasa meletakkan dukacita-Nya dan berkuasa pula untuk mengambilnya kembali.




    2. Keprihatinan-Nya terhadap mereka, yang terlihat melalui pertanyaan-Nya yang lembut mengenai jasad almarhum kawan-Nya itu (ayat 34): Di manakah dia kamu baringkan? Dia tetap menanyakan itu walaupun Ia tahu betul di mana Lazarus dibaringkan, sebab:

      (1) Ia hendak menunjukkan diri-Nya sebagai manusia, bahkan saat Ia hendak mengadakan kuasa Allah. Karena mengambil rupa sebagai manusia, la pun menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan cara anak-anak manusia: Non tiescii, sed quasi nescit - Dia bukannya tidak tahu, melainkan berbuat seolah-seolah begitu, kata Augustinus. 

      (2) Dia menanyakan letak kuburan Lazarus, supaya orang-orang Yahudi yang tidak mau percaya itu tidak akan memiliki alasan untuk mencurigai bahwa la telah bersekongkol dengan Lazarus, seandainya Ia langsung pergi menuju kuburan yang letaknya sudah Ia ketahui melalui hikmat-Nya. Banyak para penafsir mengamati hal ini dari pendapat Krisostom (seorang bapa gereja abad keempat - pen.). 

      (3) Dengan demikian Ia hendak mengalihkan perhatian sahabat-sahabat-Nya yang sedang berdukacita itu, dengan membangkitkan harapan mereka akan sesuatu yang hebat. Seolah-olah Ia berkata, "Aku tidak datang kemari untuk berbelasungkawa dan mencucurkan air mata yang tidak bermanfaat apa-apa seperti yang kamu lakukan. Tidak, aku punya pekerjaan lain. Marilah kita pergi ke kubur dan menyelesaikan perkara ini." Perhatikan, memusatkan perhatian kita kepada pekerjaan kita merupakan obat ampuh untuk melawan kesedihan yang berlebihan. 

      (4) Dengan berkata begitu Kristus hendak menegaskan kepada kita bahwa Ia selalu memperhatikan jasad para orang kudus yang terbaring di kuburan. Dia memperhatikan di mana mereka dibaringkan dan akan menjaga mereka. Tidak saja terdapat kovenan dengan debu, melainkan juga ada penjagaan terhadapnya.



    3. Air mata-Nya yang berlinang. Orang-orang di sekeliling-Nya tidak memberitahu-Nya di mana jasad Lazarus dibaringkan, tetapi mereka ingin supaya Ia datang dan melihatnya sendiri. Jadi mereka pun langsung membawa-Nya ke kubur itu supaya apa yang Ia lihat dengan mata-Nya akan menggugah hati-Nya lebih dalam lagi. 

      (1) Sementara berjalan ke kubur, menangislah Yesus (ayat 35), seolah-olah Ia sedang mengantar mayat itu ke sana. Ayat itu memang amat pendek, tetapi mengandung banyak petunjuk: 

        [1] Bahwa Yesus Kristus itu benar-benar manusia yang serupa dengan anak-anak manusia, bukan saja dalam darah dan daging. tetapi juga dalam jiwa-Nya yang juga dapat tergugah oleh rasa sukacita. dukacita. dan perasaan-perasaan lainnya. Sebelum Ia menunjukkan bukti keilahian-Nya dalam membangkitkan Lazarus. Kristus membuktikan kemanusiaan-Nya atau jati diri-Nya sebagai manusia dalam dua pengertian, yaitu, sebagai manusia, Ia bisa menangis. dan sebagai manusia yang berbelas kasihan, Ia akan menangis

        [2] Bahwa Ia adalah seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. sebagaimana telah dinubuatkan sebelumnya (Yesaya 53:3). Kita tidak pemah membaca bahwa Ia tertawa, tetapi lebih dari sekali kita mendapati-Nya berlinang air mata. Dengan begitu. Ia menunjukkan bahwa keadaan yang menyedihkan bukan saja beriringan dengan kasih Allah, tetapi juga barangsiapa yang menabur di dalam Roh harus juga menabur dalam cucuran air mata. 

        [3] Air mata belas kasihan layak menjadi bagian dari orang Kristen, dan menjadikan mereka lebih menyerupai Kristus. Sangatlah melegakan bagi orang-orang yang berduka saat kawan-kawan mereka turut bersimpati dengan mereka. apalagi jika kawan itu adalah orang yang seperti Tuhan Yesus.


      (2) Anggapan yang berbeda-beda terhadap tangisan Kristus itu. 

        [1] Beberapa orang mengartikannya baik dan tulus. dan sudah sewajarnya (ayat 36): Kata orang-orang Yahudi, lihatlah. betapa kasih-Nya kepadanya! Kelihatannya mereka heran melihat Kristus begitu mengasihi seorang yang sama sekali tidak punya hubungan saudara apa-apa dengan-Nya, dan belum begitu lama dikenal-Nya. sebab Kristus menghabiskan kebanyakan waktu-Nya di daerah Galilea yang terletak amat jauh dari Betania. Seperti yang telah diteladankan oleh Kristus. kita juga harus memperlihatkan kasih kita kepada kawan-kawan kita. baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Kita harus turut berdukacita bagi saudara-saudara kita yang telah tertidur di dalam Yesus sebagaimana orang-orang yang penuh dengan kasih. meskipun tidak berarti kita telah kehilangan harapan, seperti orang-orang saleh yang menguburkan mayat Stefanus (Kisah 8:2). Air mata kita tidak membawa manfaat apa-apa bagi orang yang meninggal itu. namun tetap dapat mengawetkan kenangan kita akan mereka. Air mata itulah yang menjadi tanda kasih istimewa Kristus terhadap Lazarus. tetapi Kristus juga telah menunjukkan bukti yang tak kalah kuatnya mengenai kasih-Nya terhadap semua orang kudus. yaitu dengan mati bagi mereka. Saat Kristus hanya meneteskan air mata-Nya bagi Lazarus. mereka berkata. Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya! Jadi, terlebih lagi kita memiliki alasan lebih banyak untuk berkata demikian mengenai Dia yang te-lah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita: lihatlah, betapa kasih-Nya kepada kita! Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seperti itu

        [2] Beberapa orang lainnya memberikan penilaian yang keliru mengenai tangisan Kristus. seolah-olah air mata-Nya itu menandakan ketidakmampuan-Nya untuk menolong teman-Nya (ayat 37): Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak untuk mencegah kematian Lazarus? Di sini tersirat secara licik,

        Pertama, bahwa kematian Lazarus menjadi kedukaan yang besar bagi Kristus (seperti yang terlihat melalui air mata-Nya), karena jika Ia sanggup mencegah kematiannya, maka Ia pun pasti telah melakukannya, tetapi sekarang karena Ia tidak melakukan hal itu, maka mereka berkesimpulan bahwa Ia memang tidak mampu mencegah kematian Lazarus. Ini sama seperti yang mereka simpulkan saat Ia akan mati di kayu salib, bahwa karena Dia tidak menyelamatkan diri-Nya dengan turun dari salib itu. maka itu berarti Dia tidak sanggup menyelamatkan diri-Nya sendiri. Mereka tidak ingat bahwa kuasa ilahi selalu dikerahkan berdasarkan hikmat ilahi dan tidak semata oleh keinginan-Nya saja. tetapi berda¬sarkan hikmat dari kehendak-Nya itu. Kenyataan inilah yang harus kita terima. Jika kawan-kawan Kristus yang dikasihi-Nya mati. dan jika gereja yang dikasihi-Nya dianiaya dan mengalami kesukaran, kita tidak boleh lantas menyimpulkan bahwa hal itu disebabkan karena ada cacat dalam kuasa maupun kasih-Nya. tetapi harus tetap percaya bahwa semua itu terjadi karena ada maksud-Nya yang terbaik. 

        Kedua, mereka masih meragu-ragukan apakah Kristus telah benar-benar mencelikkan mata orang buta. Artinya, bagi mereka itu hanya suatu rekayasa. Jika kini la tidak melakukan mujizat, maka mereka pikir hal itu cukup untuk meragukan mujizat yang telah Ia perbuat sebelumnya. Setidaknya. hal itu menunjukkan bahwa la memiliki kuasa yang terbatas, dan karena itu, bukan kuasa ilahi. Kristus pun segera meyakinkan para penyebar fitnah itu dengan membangkitkan Lazarus dari kematiannya, yang merupakan perbuatan yang lebih besar lagi. Dia bisa saja mencegah kematian Lazarus. tetapi tidak melakukannya karena Ia hendak menunjukkan kemuliaan-Nya dengan cara yang lebih gemilang.

    II. Kristus menghampiri kuburan dan mempersiapkan segala yang diperlukan sebelum Ia membuat mujizat itu. 


      11:38 LAI TB, Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.BIS, Yesus sangat bersedih hati. Maka pergilah Ia ke kuburan. Kubur Lazarus adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu besar. KJV, Jesus therefore again groaning in himself cometh to the grave. It was a cave, and a stone lay upon it. TR, ιησους ουν παλιν εμβριμωμενος εν εαυτω ερχεται εις το μνημειον ην δε σπηλαιον και λιθος επεκειτο επ αυτωTranslit, iêsous oun palin embrimômenos en eautô erkhetai eis to mnêmeion ên de spêlaion kai lithos epekeito ep autô11:39 LAI TB, Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati."BIS, Kemudian Yesus berkata, "Singkirkan batu itu." Marta, saudara orang yang meninggal itu pun menjawab, "Tetapi Tuhan, ia sudah empat hari dikubur. Tentu sudah berbau busuk!" KJV, Jesus said, Take ye away the stone. Martha, the sister of him that was dead, saith unto him, Lord, by this time he stinketh: for he hath been dead four days. TR, λεγει ο ιησους αρατε τον λιθον λεγει αυτω η αδελφη του τεθνηκοτος μαρθα κυριε ηδη οζει τεταρταιος γαρ εστινTranslit, legei ho iêsous arate ton lithon legei autô hê adelphê tou tethnêkotos martha kurie êdê ozei tetartaios gar estin11:40 LAI TB, Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"BIS, Yesus berkata kepada Marta, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?" KJV, Jesus saith unto her, Said I not unto thee, that, if thou wouldest believe, thou shouldest see the glory of God? TR, λεγει αυτη ο ιησους ουκ ειπον σοι οτι εαν πιστευσης οψει την δοξαν του θεουTranslit, legei autê ho iêsous ouk eipon soi hoti ean pisteusês opsei tên doxan tou theou11:41 LAI TB, Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Yesus menengadah ke langit dan berkata, "Bapa, Aku bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. BIS, Jadi mereka pun menyingkirkan batu itu. KemudianKJV, Then they took away the stone from the place where the dead was laid. And Jesus lifted up his eyes, and said, Father, I thank thee that thou hast heard me. TR, ηραν ουν τον λιθον ου ην ο τεθνηκως κειμενος ο δε ιησους ηρεν τους οφθαλμους ανω και ειπεν πατερ ευχαριστω σοι οτι ηκουσας μουTranslit, êran oun ton lithon ou ên ho tethnêkôs keimenos ho de iêsous êren tous ophthalmous anô kai eipen pater eukharistô soi hoti êkousas mou


    1. Kristus sekali lagi merasa masygul. sewaktu la mendekati kuburan itu (ayat 38): Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu

    Dia merasa masygul: 

      (1) Karena tidak senang melihat ketidakpercayaan orang-orang yang begitu meragukan kuasa-Nya, dan mempersalahkanNya karena tidak mencegah kematian Lazarus. Ia berduka-cita karena kedegilan mereka. Dosa dan kebodohan manusia, terutama yang Ia dapati di Yerusalem (Matius 23:37). membuatnya merasa masygul. lebih dari kemasygulan yang ditimbulkan oleh kesukaran atau kesengsaraan yang ditimpakan kepada-Nya.

      (2) Karena Ia begitu tergugah dengan ratapan-ratapan di sekitar-Nya, yang sepertinya keluar dari mulut kedua bersaudari itu saat mereka hampir sampai di kuburan, ratapan yang semakin lama semakin nyaring dan menyedihkan daripada sebelumnya, sehingga hati-Nya yang lembut pun tersentuh oleh tangisan mereka itu. 

      (3) Beberapa orang beranggapan bahwa hati-Nya menjadi masygul karena demi memuaskan keinginan kawan-kawan-Nya itu, la akan membangkitkan Lazarus ke dalam dunia yang penuh dengan dosa dan masalah ini, dari peristirahatan yang baru saja ia masuki. Kebangkitannya itu memang merupakan kebaikan bagi Marta dan Maria, tetapi bagi Lazarus sendiri, hal itu seperti melemparkan kembali seseorang ke dalam lautan yang mengamuk setelah ia baru saja mendarat dengan selamat di pelabuhan yang tenang dan aman. Jika Lazarus dibiarkan di dunia lain. Kristus akan segera menyusul-Nya ke sana. tetapi kini, setelah ia dihidupkan kembali, ia malah akan ditinggalkan oleh Kristus di dunia ini. 

      (4) Kristus menjadi masygul seperti seseorang yang tergugah oleh keadaan manusia yang berdosa dan celaka dan yang takluk kepada maut. Dari keadaan inilah la kini hendak mengangkat Lazarus keluar. Karena itulah la menguatkan diri untuk berpegang teguh kepada Allah melalui doa yang kini hendak la panjatkan, supaya Ia dapat mempersembahkan doa itu dengan ratap tangis (Ibrani 5:7). Saat diutus memberitakan Injil untuk membangkitkan jiwa-jiwa yang telah mati, para hamba Tuhan juga harus tergugah oleh keadaan menyedihkan dari orang-orang yang mereka khotbahi dan doakan itu. Hati mereka juga harus menjadi masygul saat memikirkan keadaan orang-orang itu.



    2. Kuburan di mana Lazarus terbaring digambarkan demikian: 
    Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kuburan orang biasa mungkin digali sebagaimana kuburan kita saat ini, tetapi orang-orang yang terhormat dimakamkan dalam sebuah ruang makam yang tertutup baik, seperti juga kita. Demikian juga Lazarus, dan kuburan tempat Kristus dikuburkan. Mungkin saja kebiasaan itu dipertahankan di antara orang-orang Yahudi untuk meniru leluhur mereka yang menguburkan jasad orang mati di dalarn gua Makhpela (Kejadian 23:19). Perhatian besar yang mereka tunjukkan dalam mengurusi jasad kawan-kawan mereka menegaskan pengharapan mereka akan kebangkitan. Mereka menganggap seluruh upacara penguburan selesai dilakukan bila sebuah batu besar telah digulingkan untuk menutupi kubur itu. atau seperti dalam kasus ini, diletakkan di sana, seperti batu yang diletakkan di mulut gua singa tempat Daniel dilemparkan (Daniel 6:18), supaya tidak dapat dibuat perubahan apa-apa. Hal ini menunjukkan bahwa orang mati dipisahkan dari orang hidup. dan bahwa mereka telah pergi ke tempat lain dan tidak akan kembali lagi. Batu itu mungkin saja batu nisan dengan sebuah tulisan yang terpatri di atasnya, yang disebut orang Yunani dengan mnêmeion - sebuah peringatan, karena merupakan kenangan akan orang yang telah tiada itu, sekaligus juga peringatan bagi yang masih hidup, untuk mengingatkan mereka akan apa yang perlu diingat oleh kita semua. Orang Latin menyebut batu itu Monumentum, a monendo, sebab memberikan peringatan. 


    3. Perintah untuk menyingkirkan batu itu (ayat 39): Angkat batu itu! Kristus ingin supaya batu itu disingkirkan supaya semua orang yang menonton dapat melihat jasad Lazarus terbaring kaku di dalam makam, dan supaya jalan keluar dari makam itu terbuka sehingga Lazarus dapat keluar dari sana. Juga, supaya tampak bahwa yang keluar itu adalah benar-benar tubuh manusia dan bukannya hantu atau makhluk halus. Kristus ingin supaya beberapa hamba menyingkirkan batu itu sehingga mereka menjadi saksi-saksi yang mencium bau tubuhnya yang membusuk, yang menandakan bahwa tubuh itu memang benar-benar telah mati. Menyingkirkan batu merupakan sebuah langkah awal yang bagus untuk membangkitkan sebuah jiwa ke dalam kehidupan rohani, yaitu saat prasangka disingkirkan dan sirna, dan sebuah jalan terbuka untuk firman masuk ke dalam hati dan bekerja di sana serta mengatakan apa yang harus disampaikannya. 


    4. Marta keberatan untuk membuka kubur itu: Tuhan, ia sudah berbau, atau menjadi busuk, sebab sudah empat hari ia matitetartaios gar esti, quatriduanus est. telah empat hari lamanya ia ada di dunia lain, menjadi warga dan penghuni kubur selama empat hari. Mungkin saja Marta telah mencium bau busuk itu saat mereka sedang menyingkirkan batu itu, sehingga ia pun berseru begitu.

      (1) Dengan demikian, mudah saja mengamati sifat alami tubuh manusia: empat hari tidaklah begitu lama, tetapi perubahan yang terjadi terhadap tubuh manusia itu selama waktu tersebut amatlah besar, jika tubuh itu begitu lamanya tidak menyentuh makanan, apalagi jika ada begitu lama tanpa kehidupan! Menurut Dr. Hammond, mayat manusia biasanya membusuk dalam kurun waktu tujuh puluh dua jam. Orang Yahudi juga berpendapat bahwa pada hari keempat setelah kematian, mayat manusia akan sangat berubah sehingga tidak dapat dikenali lagi sebagai manusia, Begitulah pendapat Maimonides (seorang filsuf Yahudi - pen.) yang dikutip oleh Lightfoot. Kristus bangkit pada hari ketiga karena Dia tidak akan melihat kebinasaan

      (2) Tidak mudah menerka mengapa Marta berkata demikian. 

        [1] Beberapa orang berpendapat bahwa ia mengatakan itu dengan kelembutan dan rasa hormat yang seharusnya dimiliki terhadap jasad seseorang. Karena kini jasad itu sudah mulai membusuk. Marta pun tidak mau jasad saudaranya itu dipertontonkan di hadapan orang banyak. 

        [2] Yang lain lagi berpendapat bahwa Marta mengatakan itu demi kebaikan Kristus, kalau-kalau bau busuk itu akan mengganggu-Nya. Demikianlah sesuatu yang berbau busuk digambarkan dengan kubur yang menganga (Mazmur 5:10). Jika ada sesuatu yang berbau busuk, maka Marta tidak mau Sang Guru mendekatinya. Namun. Dia tidaklah halus dan rapuh sampai tidak bisa tahan terhadap bau tidak sedap. Jika Ia seperti itu. pastilah Ia tidak akan sudi datang ke dunia manusia ini. yang telah dibuat dosa menjadi tumpukan kotoran dan berbau busuk (semuanya telah menjadi bejat) (Mazmur 14:3). 

        [3] Tetapi dari jawaban yang diberikan Kristus, kelihatannya perkataan Martha itu menggambarkan ketidakpercayaan dan keraguan Marta: "Tuhan, sekarang sudah terlambat untuk menolong Lazarus. Tubuhnya sudah mulai membusuk dan mustahil rasanya bahwa jasadnya yang telah bau itu dapat hidup kembali." Marta telah patah arang dan kehilangan harapan bahwa Lazarus bisa bangkit kembali. sebab belum pemah terjadi. baik belakangan ini maupun sebelumnya. ada orang yang telah mati dan membusuk bisa hidup lagi. Saat tulang-tulang kita telah menjadi kering, kita pun lantas berkata bahwa pengharapan kita sudah lenyap. Akan tetapi, ketidakpercayaan Marta itu membuat mujizat ini semakin terbukti nyata dan gemilang. sebab melalui perkataannya tadi. terbukti bahwa Lazarus memang telah benar-benar mati, dan bukannya hanya sekadar mati suri. sebab. sekalipun sosok orang mati dapat dibuat-buat, namun tidak demikian halnya dengan baunya. Anggapan Marta bahwa kebangkitan itu benar¬benar mustahil untuk dilakukan lebih membawa kehormatan kepada Kristus yang melakukannya.


    5. Teguran lembut yang diucapkan Kristus terhadap Marta (ayat 40), "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" Perkataan Kristus kepada Marta ini tidak dicatat sebelumnya. mungkin saja la telah berkata hal yang sama saat Marta menjawab (ayat 27). Ya, Tuhan, aku percaya, sehingga cukup dicatat sekali saja di sini saat Kristus mengulanginya lagi. 

    Perhatikan: 

      (1) Tuhan Yesus kita telah memberi jaminan penuh bahwa iman yang sejati pada akhimya akan dikaruniai dengan penglihatan yang penuh rahmat: "Jikalau engkau percaya. engkau akan melihat kemuliaan Allah tampak padamu. baik di dunia ini maupun di dunia lain." Jika kita mempercayai firman Kristus itu dan bergantung pada kuasa dan kesetiaan-Nya. kita pun akan melihat kemuliaan Allah dan berbahagia dengan penglihatan itu. 

      (2) Kita sering perlu diingatkan terus-menerus mengenai belas kasihan yang pasti ini, yang dipakai oleh Yesus Tuhan kita untuk mendorong kita. Kristus tidak memberikan jawaban langsung terhadap perkataan Marta ataupun berjanji untuk melakukan sesuatu. melainkan menyuruhnya untuk berpegang teguh pada jaminan yang telah la berikan secara umum: Percaya sajalah. Kita sering kali lupa tentang apa yang telah Kristus katakan sehingga kita memerlukan-Nya untuk selalu mengingatkan kita akan hal itu melalui Roh¬Nya. "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu begini begitu? Jadi masakan kini engkau berpikir bahwa Aku akan membatalkan apa yang sudah kukatakan itu?"



    6. Kubur itu akhirnya dibuka juga untuk mematuhi perintah Kristus. meskipun Marta berkeberatan (ayat 41): Maka mereka mengangkat batu itu. Setelah Marta merasa yakin dan menyingkirkan keberatannya itu. mereka pun melanjutkan membuka kubur itu. Jika kita hendak melihat kemuliaan Allah. kita harus membiarkan Kristus bertindak dengan cara-Nya sendiri. dan tidak boleh memaksakan keinginan kita. melainkan berserah kepada-Nya. Mereka mengangkat batu itu, dan hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Hanya Kristus saja yang dapat menganugerahkan kehidupan. Apa yang dapat diperbuat manusia hanyalah mempersiapkan jalan bagi Tuhan, menimbun lembah dan meratakan bukit, dan seperti di sini, mengangkat batu itu.

    III. Bagaimana mujizat itu dilakukan. Tertarik dengan diangkatnya batu itu, para penonton yang mengelilingi kuburan itu. bukan untuk menyaksikan debu kembali ke debu, tanah kembali ke tanah, melainkan untuk menyambut debu dari debu. dan tanah dari tanah lagi. Setelah harapan mereka bangkit lagi. Tuhan Yesus kita pun mulai melakukan pekerjaan-Nya. 


      11:42 LAI TB, Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."BIS, Aku tahu, Engkau selalu mendengarkan Aku. Namun Aku mengatakan ini, demi kepentingan orang-orang yang ada di sini; supaya mereka percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku." KJV, And I knew that thou hearest me always: but because of the people which stand by I said it, that they may believe that thou hast sent me. TR, εγω δε ηδειν οτι παντοτε μου ακουεις αλλα δια τον οχλον τον περιεστωτα ειπον ινα πιστευσωσιν οτι συ με απεστειλαςTranslit, egô de êdein hoti pantote mou akoueis alla dia ton okhlon ton periestôta eipon hina pisteusôsin hoti su me apesteilas11:43 LAI TB, Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah ke luar!"BIS, Sesudah berkata begitu, Yesus berseru dengan suara keras, "Lazarus, keluar!" KJV, And when he thus had spoken, he cried with a loud voice, Lazarus, come forth. TR, και ταυτα ειπων φωνη μεγαλη εκραυγασεν λαζαρε δευρο εξωTranslit, kai tauta eipôn phônê megalê ekraugasen lazare deuro exô 
        Catatan:
        Lazarus, keluar! Pembangkitan Lazarus menjadi "tanda" bahwa Yesus mengalahkan kematian; dan "tanda" bahwa Ia dapat memberi hidup bagi orang yang percaya; dan "tanda" bahwa Dia-lah Yang Diutus (seperti yang dimaksudkan ayat 42, lihat keterangan dalam Yohanes 3:2); dan juga sekaligus "tanda" bagi kebangkitan diriNya yang akan terjadi tidak berapa lama lagi.

      11:44 LAI TB, Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."BIS, Kemudian keluarlah orang yang sudah mati itu. Kaki dan tangannya masih terbungkus kain kafan, sedangkan mukanya tertutup kain penutup. "Lepaskan kain kafannya dan biarkan ia bebas berjalan," kata Yesus kepada orang-orang di situ.KJV, And he that was dead came forth, bound hand and foot with graveclothes: and his face was bound about with a napkin. Jesus saith unto them, Loose him, and let him go. TR, και εξηλθεν ο τεθνηκως δεδεμενος τους ποδας και τας χειρας κειριαις και η οψις αυτου σουδαριω περιεδεδετο λεγει αυτοις ο ιησους λυσατε αυτον και αφετε υπαγεινTranslit, kai exêlthen ho tethnêkôs dedemenos tous podas kai tas kheiras keiriais kai hê opsis autou soudariô periededeto legei autois ho iêsous lusate auton kai aphete hupagein


    1. Ia mengarahkan diri-Nya sendiri kepada Bapa-Nya yang hidup di sorga. demikianlah Ia memanggil-Nya (Yohanes 5:17), dan mengarahkan mata-Nya kepada-Nya. 

      (1) Sikap tubuh yang ditunjukkan-Nya mengandung makna yang mendalam: Ia menengadah ke atas, sebuah sikap jasmani yang menunjukkan pengangkatan pikiran. untuk menunjukkan kepada semua orang di sekeliling-Nya dari mana kuasa-Nya berasal, dan juga untuk memberikan sebuah teladan bagi kita. Sikap tubuh seperti inilah yang harus kita lakukan (Yohanes 17:1). Orang-orang duniawi akan menertawakan hal ini, tetapi di sini yang hendak ditekankan secara khusus kepada kita adalah untuk mengangkat hati kita kepada Allah yang ada di sorga. Sebab, apakah doa itu, selain mengangkat jiwa kepada Allah dan mengarahkan kasih sayang dan perasaan kita ke sorga? Kristus menengadah ke atas, melihat ke atas, melihat jauh melampaui kubur di mana Lazarus terbaring, dan mengatasi segala kesulitan yang terbentang di hadapan-Nya, supaya dengan teguh la dapat mengarahkan mata-Nya kepada Kemahakuasaan ilahi. Dengan ini Ia hendak mengajari kita supaya berlaku seperti Abraham, yang imannya tidak menjadi lemah, walaupun Ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Abraham sama sekali tidak mempedulikan semua itu, sehingga ia pun memperoleh tingkat iman yang tinggi sampai tidak menjadi bimbang karena ketidakpercayaan (Roma 4:20). 


      (2) Kristus memalingkan hati-Nya kepada Allah dengan keyakinan dan kepercayaan yang sangat besar: Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku

        [1] Melalui teladan-Nya itu, di sini la hendak mengajarkan kita,

        Pertama, supaya memanggil Allah sebagai Bapa dalam doa kita. dan untuk menghampiri-Nya sebagaimana anak-anak menghampiri ayah mereka, dengan sikap hormat dan rendah hati, namun dengan keberanian yang kudus. 

        Kedua, supaya memuji Bapa dalam doa-doa kita dan mengucap syukur kepada-Nya atas pertolongan yang telah Ia berikan kepada kita sebelumnya, saat kita datang untuk memohon belas kasihan yang lain. Pengucapan syukur yang diarahkan bagi kemuliaan Allah (dan bukannya kemuliaan untuk diri kita sendiri seperti perkataan Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, yang terlontar dari mulut orang Farisi), merupakan sarana yang layak untuk mengalaskan segala permintaan kita. 

        [2] Tetapi, pengucapan syukur Sang Juruselamat kita di sini dimaksudkan untuk mengungkapkan keyakinan-Nya yang tidak tergoyahkan dalam keberhasilan mujizat yang hendak dilakukan-Nya sebentar lagi, yang diperbuat melalui kuasa-Nya dengan persetujuan Bapa-Nya:

        "Bapa. Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena kehendak-Ku dan kehendak-Mu, seperti yang selalu demikian. sejalan dalam perkara ini." Elia dan Elisa juga membangkitkan orang mati, tetapi sebagai hamba-hamba Allah saja, melalui permohonan mereka yang tulus. Akan tetapi, Kristus melakukannya sebagai seorang Anak. melalui wewenang-Nya sendiri sebagai seorang yang memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri, dan kuasa untuk membangkitkan siapa pun yang Ia kehendaki, dan la menyatakan ini sebagai perbuatan-Nya sendiri (ayat 11): Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya. Walaupun begitu. Ia tetap berkata seolah-olah Ia memperoleh kuasa itu melalui doa, sebab Bapa-Nya mendengarkan Dia: mungkin saja Ia telah mendoakan hal itu saat hati-Nya masygul, lagi dan lagi (ayat 33, 38), melalui sebuah doa di dalam relung hati, dengan kemasygulan yang tidak terucapkan

        Pertama, Kristus menyebut mujizat ini sebagai jawaban dari sebuah doa: 

        1. Untuk merendahkan diri-Nya. Meskipun Ia adalah Sang Anak, Ia tetap belajar untuk taat, untuk meminta dan menerima. Mahkota-Nya sebagai Sang Perantara dikaruniakan kepada-Nya melalui sebuah permintaan, walaupun itu adalah hak-Nya (Mazmur 2:8; Yohanes 17:5). Dia berdoa bagi kemuliaan yang te¬lah la miliki sebelum dunia ada, sekalipun Dia bisa saja menuntut-Nya karena Ia tidak pemah kehi¬langan hak atas kemuliaan itu. 

        2. Oleh karena la berkenan untuk menghormati doa, dan menjadikannya kunci untuk membuka peti harta yang berisikan kuasa dan kasih karunia ilahi. Dengan demikian, Ia hendak mengajari kita untuk masuk ke dalam tempat kudus melalui doa dan penerapan iman kita yang sungguh-sungguh. 

        Kedua, dengan penuh keyakinan bahwa doa-Nya telah dijawab. 

        Kristus pun menyatakan: 

        a. Pengabulan jawaban doa-Nya itu dengan penuh rasa syukur: Aku mengucap syukur kepada-Mu. karena Engkau telah mendengarkan Aku. Sekalipun mujizat itu sendiri belum dilakukan, tetapi doa itu sudah terjawab dan Kristus pun bersuka ria sebelum kemenangan-Nya terjadi. Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-ngaku memiliki keyakinan sebesar Kristus itu. Namun demikian, melalui iman akan janji Allah. kita pun dapat memperoleh belas kasihan sebelum hal itu benar-benar diberikan, dan bersukacita serta bersyukur kepada Allah walaupun belum memperoleh belas kasihan itu. Dalam renungan-renungan Daud. mazmur yang sama yang diawali dengan doa untuk mohon belas kasihan selalu ditutup dengan pengucapan syukur atasnya. 

        Perhatikan: 

          (a) Belas kasihan yang diberikan sebagai jawaban doa harus diakui dengan cara istimewa melalui pengucapan syukur. Selain belas kasihan itu sendiri. kita pun harus menghargai pengabulan doa itu sendiri sebagai sebuah kebaikan besar karena doa -doa kita yang sederhana telah didengar. 

          (b) Kita harus menyambut penampakan awal atas jawaban doa kita dengan pengucapan syukur sedini mungkin. Sebagaimana Allah menjawab kita dengan belas kasihan-Nya, bahkan sebelum kita memanggil- Nya, dan mendengarkan kita bahkan ketika kita masih berbicara, begitu pula kita harus menjawab Dia dengan pujian bahkan sebelum Ia mengaruniakan belas kasihan-Nya itu. dan mengucap syukur kepada-Nya sementara Ia tengah menyampaikan kabar baik dan perkataan yang menghibur.

        b. Keyakinan-Nya yang penuh keceriaan akan jawaban atas doa-Nya di setiap waktu (ayat 42): Aku tahu. bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku. Janganlah ada orang yang berpikir bahwa ini hanyalah sebuah kebaikan luar biasa yang hendak diberikan kepadaNya sekarang. sesuatu yang tidak pemah Ia peroleh sebelumnya. dan yang tidak akan lagi Ia miliki setelah itu. Tidak, Dia selalu memiliki kuasa ilahi yang sama, yang menyertai-Nya dalam setiap pekerjaan yang Ia lakukan, dan Ia selalu mengerjakan apa yang seturut dengan hikmat Allah. "Aku mengucap syukur" (kata-Nya) "sebab dalam perkara ini pun Engkau mendengarkan-Ku. sebab Aku yakin selalu didengar dalam segala hal." 

        Lihatlah di sini: 

          (a) Betapa pentingnya kedudukan Tuhan Yesus di sorga. Bapa selalu mendengar-Nya, dan la selalu dapat menghampiri-Nya setiap waktu. dan berhasil dalam menunaikan setiap tugas yang diemban-Nya. Dan kita juga dapat yakin bahwa kedudukan pentingnya itu tidak berkurang dengan kepergian-Nya ke sorga, dan karena itu kita dapat tetap berteguh untuk menggantungkan diri pada doa-doa syafaat-Nya dan menaruh semua permohonan kita ke dalam tangan-Nya. sebab kita yakin bahwa Bapa selalu mendengar-Nya. 

          (b) Keyakinan-Nya akan kedudukan-Nya yang penting itu: Aku tahu. Ia sama sekali tidak pemah meragukan hal itu, tetapi benar-benar merasa puas dalam pikiran-Nya sendiri akan perkenanan Bapa-Nya terhadap Dia dan akan kesesuaian Bapa dengan Dia dalam segala hal. Kita tidak dapat memiliki keyakinan seteguh yang dimiliki Yesus, tetapi kita tahu bahwa Ia akan mengabulkan apa saja yang kita minta menurut kehendak-Nya (l Yohanes 5:14-15).

        Ketiga, namun, mengapa Kristus harus menunjukkan di depan khalayak ramai bahwa Ia memperoleh kuasa untuk melakukan mujizat itu melalui doa? Ia pun menambahkan, "Karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku," Sebab, doa juga dapat dipakai untuk berkhotbah.

          1. Hal itu dimaksudkan untuk menghapuskan keberatan dan tuduhan para musuh-Nya. Orang-orang Farisi dan antek-antek mereka telah menghujat Dia melakukan mujizat dengan bantuan Iblis, Sekarang, untuk membuktikan sebaliknya. kini Ia pun terang-terangan memohon kepada Allah melalui doa-doa, bukan mantera-mantera, bukan bisik-bisik dan komat-kamit seperti orang-orang yang meminta petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal (Yesaya 8:19), tetapi dengan pandangan yang menengadah dan suara yang menyatakan hubungan dan ketergantungan-Nya pada sorga. 

          2. Hal itu dimaksudkan untuk meneguhkan iman orang-orang yang berpihak kepada-Nya: supaya mereka percaya. bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, bukan untuk membinasakan hidup manusia, melainkan untuk menyelamatkan mereka, Untuk membuktikan bahwa Allah-lah yang mengutusnya, Musa membuat tanah terbelah dan menelan orang-orang (Bilangan 16:31). sedangkan Elia membuktikan dirinya diutus Allah dengan membuat api turun dari langit dan memusnahkan manusia. Demikianlah, hukum Taurat adalah tata aturan yang memberi penghukuman dan kematian. tetapi Kristus membuktikan amanat-Nya dengan membangkitkan hidup orang yang telah mati. Beberapa orang mengartikannya demikian: Seandainya Kristus secara terbuka mengumumkan bahwa mujizat-Nya itu dilakukan dengan kuasa-Nya sendiri, beberapa murid-Nya yang beriman lemah, yang belum memahami sifat keilahian-Nya, mungkin akan mengira bahwa Ia terlalu menyombongkan diri-Nya, sehingga mereka bisa saja tersandung karena itu, Bayi-bayi seperti mereka belum sanggup diberi makanan keras seperti itu. sehingga Ia pun memilih untuk menyatakan bahwa kuasa-Nya itu Ia peroleh dan terima dari Allah. Dengan begitu, Ia menyangkal diri-Nya. su-paya Dia dapat berbicara dengan lebih jelas kepada kita. Non ita respexit ad swam dignitatem atque ad nostram salutem - Dalam apa pun yang Ia katakan. Ia lebih mementingkan keselamatan kita daripada kehormatan-Nya sendiri. - Jansenius (seorang theolog Belanda abad keenam belas - pen.).



    2. Kini Ia mengalihkan perhatian-Nya kepada kawan-Nya yang sudah terbujur kaku di dalam tanah. Berserulah Ia dengan suara keras: Lazarus. marilah ke luar! 

    (1) Kristus bisa saja membangkitkan Lazarus dengan mengerahkan kuasa dan kehendak-Nya secara diam-diam, dan bekerja tanpa terlihat melalui Roh kehidupan. Namun demikian. Ia melakukannya melalui sebuah panggilan yang nyaring, 

      [1] Untuk memaknai kuasa yang dikerahkan dalam membangkitkan Lazarus, bagaimana Ia menciptakan hal yang baru ini. Dia berfirman, dan hal itu pun terjadi. Ia berseru dengan suara nyaring, untuk menandakan kebesaran pekerjaan itu dan kebesaran kuasa yang di-gunakan. dan untuk menyemangati diri-Nya sendiri bahwa seolah-olah Ia sedang menyerang gerbang maut, bagaikan para serdadu yang menyerang sambil berseru nyaring. Untuk memanggil Lazarus, memang selayaknya dilakukan dengan seruan nyaring, sebab. 

      Pertama, jiwa Lazarus yang hendak dipanggil kembali berada di tempat yang jauh. Jiwanya tidak berkeliaran di sekitar kubur sebagaimana yang dibayangkan orang-orang Yahudi, melainkan telah dipindahkan ke Hades (dunia orang mati). dunia roh, Jadi. wajar saja untuk berseru nyaring saat kita memanggil seorang yang sudah jauh. 

      Kedua, tubuh Lazarus yang hendak dipanggil itu kini telah tertidur, dan kita memang biasa berseru nyaring saat hendak membangunkan seseorang dari tidurnya. Kristus berseru dengan suara nyaring supaya tergenapilah firman Allah (Yesaya 45:19): Tidak pemah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap


      [2] Untuk menjadikannya sebagai perlambang atau gambaran akan pekerjaan ajaib lainnya, terutama kebangkitan-kebangkitan lain yang hendak diperbuat Kristus dengan mengerahkan kuasa-Nya. Seruan nyaring itu menjadi gambaran dari,

      Pertama, panggilan Injil, yang melaluinya jiwa-jiwa yang mati dibangkitkan dari kuburan dosa. Inilah kebangkitan yang dibicarakan oleh Kristus itu (Yohanes 5:25), dan yang dimaksudkan oleh perkataan-Nya itu (Yohanes 6:63). Kini, melalui peristiwa Lazarus ini la pun memberikan contoh tentang kebangkitan itu. Melalui firman-Nya, Ia berkata kepada jiwa-jiwa itu, "Engkau harus hidup" (Yehezkiel 16:6), "Bangkitlah dari antara orang mati" (Efesus 5:14). Roh kehidupan dari Allah memasuki orang-orang yang telah mati dan kering tulang belulangnya, ketika Yehezkiel bernubuat tentang mereka (Yehezkiel 37:10). Orang-orang yang berkesimpulan atas dasar perintah untuk berbalik dan hidup tersebut, bahwa Dia memiliki kuasa dalam diri-Nya sendiri untuk mengubahkan dan menanamkan hidup yang baru, juga dapat menyimpulkan atas dasar panggilan terhadap Lazarus, bahwa la juga memiliki kuasa untuk membangkitkan diri-Nya sendiri. 

      Kedua, peristiwa kebangkitan Lazarus itu merupakan gambaran dari suara sangkakala penghulu malaikat pada akhir zaman, yang membangunkan orang-orang yang sedang terlelap dalam debu dan mengum¬pulkan mereka ke depan pengadilan agung, saat Kristus akan turun dengan sebuah seruan, panggilan, atau perintah seperti di sini, marilah ke luar (Mazmur 50:4). Ia berseru, baik kepada langit di atas untuk memanggil jiwa-jiwa mereka, maupun kepada bumi untuk memanggil tubuh-tubuh mereka, supaya Ia dapat mengadili umat-Nya.


    (2) Seruan yang nyaring ini singkat saja, tetapi dahsyat melalui kekuatan Allah untuk mengguncangkan benteng pertahanan kubur itu. 

      [1] Kristus memanggilnya dengan namanya sendiri, "Lazarus," seperti jika kita memanggil nama orang yang sedang tertidur untuk membangunkannya. Untuk menunjukkan penyertaan-Nya. Allah berkata kepada Musa, "Aku mengenal namamu." Panggilan dengan memakai nama itu menandakan bahwa orang yang sama yang sudah mati itu akan bangkit lagi di akhir zaman. Ia yang menamai bintang-bintang juga dapat membedakan nama-nama bintang-Nya yang bertaburan seperti debu jika dilihat dari bumi, dan tidak akan kehilangan satu pun dari antara mereka. 

      [2] Ia memanggil Lazarus supaya keluar dari dalam kubur. berkata kepadanya seolah-olah ia telah hidup lagi dan tidak punya tugas lain selain keluar dari kuburannya itu. Kristus tidak mengatakan kepadanya, hiduplah, sebab Kristus sendirilah yang harus memberikan hidup itu. Sebaliknya, Ia berkata padanya, bergeraklah, karena kita memang wajib untuk bergerak saat kehidupan rohani kita dibangkitkan oleh kasih karunia Kristus. Kubur dosa dan dunia ini bukanlah tempat bagi orang-orang yang telah dihidupkan oleh Kristus, dan karena itulah mereka harus keluar dari sana

      [3] Peristiwa itu berlangsung sebagaimana yang telah dimaksudkan: Orang yang telah mati itu datang ke luar (ayat 44). Kuasa mengikuti Firman Kristus untuk menyatukan jiwa dan raga Lazarus, dan ia pun datang ke luar. Mujizat tersebut digambarkan tidak dengan merincikan asal muasalnya yang tidak kelihatan supaya rasa penasaran kita terjawab, tetapi melalui hasilnya yang tampak, supaya iman kita boleh diteguhkan karenanya. Apakah ada orang yang bertanya di mana jiwa Lazarus berada selama empat hari saat terpisah dari raganya? Kita tidak diberi tahu mengenai hal itu. tetapi kita memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa jiwanya ada di firdaus, dalam sukacita dan kegembiraan. Tetapi kini Anda mungkin ingin berkata, "Bukankah itu menjadi sebuah hal yang tidak menyenangkan bagi Lazarus karena menyebabkan jiwanya kembali lagi ke dalam penjara tubuh jasmani?" Sekalipun demikian, hal itu terjadi demi kehormatan Kristus dan kepentingan kerajaan-Nya, sehingga bagi Lazarus, hal itu pun tidak lebih dari siksaan yang harus dialami oleh Rasul Paulus yang harus terus merasakan duri dalam dagingnya saat ia tahu bahwa pergi menghadap Kristus tentunya akan jauh lebih menyenangkan. Jika ada yang bertanya ke¬pada Lazarus setelah ia dibangkitkan, apakah ia dapat menceritakan atau menggambarkan bagaimana jiwanya keluar atau bersatu kembali dengan tubuhnya, atau apa yang dilihatnya di dunia lain, saya kira perubahan-perubahan itu tidaklah dapat dijelaskan oleh dia, sehingga ia pun akan setuju dengan pernyataan Paulus. "Entah di dalam tubuh, entah di luar tubuh. aku tidak tahu." Juga, apa yang ia lihat dan dengar, mungkin saja hal itu memang tidak diperbolehkan atau tidak mungkin diungkapkan. Dalam dunia yang penuh dengan logika, kita tidak bisa memahami gagasan-gagasan yang memadai mengenai dunia roh dan perkara yang terjadi di dalamnya, apalagi menyampaikannya kepada orang lain. Biarlah kita tidak menjadi terlalu bernafsu untuk mengetahui lebih dari apa yang telah dicatatkan bagi kita mengenai kebangkitan Lazarus. selain bahwa orang yang telah mati itu datang ke luar. Sebagian orang mengamati bahwa sekalipun kita dapat membaca kisah tentang banyak orang yang dibangkitkan dari kematian, yang tidak diragukan lagi bergaul karib dengan orang lain setelah mereka bangkit, Kitab Suci tidak mencatatkan satu pun perkataan yang mereka ucapkan setelah kejadian itu, selain yang terlontar dari mulut Tuhan Yesus sendiri.


    (3) Mujizat itu dilaksanakan: 

      [1] Dengan segera. Tidak ada apa pun yang terjadi di antara seruan marilah ke luar dengan hasilnya, ia datang ke luarDictum factum - segera terjadi setelah dikatakan. Biarlah kehidupan datang, dan kehidupan pun benar-benar datang. Demikianlah perubahan akibat kebangkitan itu akan terjadi dalam sekejap mata (1 Korintus 15:52). Kuasa mahabesar yang sanggup melakukan hal itu sanggup juga melakukannya dalam sekejap: maka Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut. Aku akan datang saat dipanggil, sebagaimana Lazarus, ya, Tuhan

      [2] Dengan sempurna. Tubuh Lazarus dibangkitkan secara menyeluruh sampai-sampai ia bangun dari kuburnya dalam keadaan yang sehat walafiat, seolah-olah ia baru saja bangun dari ranjangnya. Dia bukan saja kembali menjadi hidup, tetapi juga dalam keadaan bugar. Dia tidak dibangkitkan dalam keadaan sakit seperti dulu, melainkan untuk hidup sebagaimana orang-orang lain-nya. 

      [3] Dengan diiringi mujizat tambahan lain ini, sebagaimana yang dipikirkan beberapa orang, yaitu bahwa Lazarus keluar dari kuburnya sekalipun ia masih terbebat kain kapan, yang mengikat kaki dan tangannya, dan mukanya tertutup dengan kain peluh (sebab demikianlah cara orang Yahudi menguburkan orang mati). Lazarus pun keluar dalam balutan yang sama yang ia pakai saat ia dikuburkan, supaya nyata bahwa dia memang benar-benar Lazarus dan bukan orang lain, dan bahwa ia bukan saja hidup, tetapi juga sehat dan mampu berjalan, sekalipun ia masih terbebat kain kapan. Kain peluh yang menutupi mukanya juga membuktikan bahwa ia telah benar-benar mati, sebab jika tidak demikian, pasti ia juga tidak akan bertahan hidup karena kain itu telah membekapnya selama beberapa hari. Orang-orang yang menonton di sana membuka ikatan kain itu dan mengurusinya, dan dapat melihat bahwa itu benar-benar Lazarus, sehingga mereka pun menjadi saksi dari mujizat itu. 

      Lihatlah di sini: 

      Pertama, betapa sedikitnya yang kita bawa bersama-sama dengan kita saat kita meninggalkan dunia ini, hanya sehelai lilitan kain dan sebuah peti mati. Tidak perlu berganti pakaian dalam kubur, hanya perlu sehelai kain kafan saja. 

      Kedua, bagaimana keadaan kita nanti di dalam kubur. Hikmat atau rupa seperti apakah yang kiranya terdapat di tempat di mana kita menutup mata. dan apalah gunanya tangan dan kaki yang terbebat? Begitulah yang akan terjadi dalam kubur, tempat yang kita tuju itu. Saat Lazarus keluar dengan tersandung-sandung dan merasa malu berada dalam balutan kain kapan itu, kita mungkin dapat membayangkan betapa takut dan terkejutnya orang-orang yang ada di sana melihat hal itu. Kita pun akan merasa demikian bila melihat seorang yang mati hidup lagi. Tetapi Kristus, untuk mencairkan suasana, menyuruh mereka untuk segera bekerja: "Bukalah kain-kain itu, longgarkan ikatan kain kafan yang membebatnya supaya ia dapat memakainya seperti pakaian biasa sampai ia tiba di rumahnya sendiri. Ia akan pergi sendiri ke sana dengan pakaian itu. tanpa harus diantar atau dituntun siapa pun." Sebagaimana dalam Perjanjian Lama, pengangkatan Henokh dan Elia merupakan penggambaran dari keadaan di masa depan yang masih kabur - yang satu diangkat di tengah-tengah zaman nenek moyang dulu. dan yang satunya lagi semasa pemerintahan Musa, demikian pula kebangkitan Lazarus dalam Perjanjian Baru dimaksudkan untuk meneguhkan ajaran mengenai kebangkitan.

0 komentar:

Posting Komentar