JOKOWI ITU IBARAT OBAT MERAH, AHOK ITU ALKOHOLNYA

Ada 2 bisnis di Indonesia yang rasa-rasanya lebih besar dari bisnis rokok, properti, perkebunan atau tambang yang banyak mengantarkan orang-orang memuncaki daftar orang terkaya Indonesia, versi majalah Forbes. Kenapa saya berpikir lebih besar? Karena bisnis ini menyangkut uang 2000 trilliun lebih dan bisnis ini yang seringkali menjadi penentu banyak bisnis lainnya di Indonesia.
Bisnis Birokrasi
Menjadi Pegawai Negri sempat pernah (dan mungkin masih) menjadi cita-cita banyak orang di negri ini. Bagaimana imunitas birokrat akan pemecatan dan iming-iming pensiun menjadi “madu” yang menarik untuk banyak orang. Ini membuat banyak motivasi awal seorang PNS adalah “madu” tersebut, bukannya melayani. Belum lagi dalam proses penerimaannya, sering terdengar adanya praktik suap dan nepotisme.
Orang-orang yang diterima dengan tidak profesional seperti itu, sudah memiliki bibit KKN dalam dirinya. apalagi kalau biaya masuknya tinggi. Kebutuhan mengembalikan uang investasi yang tak mungkin mereka dapat dengan gaji pas-pasan akan mendorong mereka melakukan tindakan KKN selanjutnya. Bahkan mungkin dengan memeras calon aparatur selanjutnya. Dan terjadilah, sebuah siklus KKN dalam birokrasi membelenggu bangsa ini.
  • Bisnis Politik
Apakah anda tahu siapakah yang mengatur para birokrat di Indonesia? Merekalah para politikus. Orang-orang yang menduduki jabatan kepala daerah dan anggota dewan perwakilan rakyat akan jadi bos dan mitra kerja para birokrat tadi, dalam menggerakan roda negara ini.
Kekuasaan yang dekat dengan tahta, harta dan wanita, membuat banyak orang tamak bercita-cita menjadi politikus.Dan karena seorang politikus dapat berkuasa jika rakyat memilih, maka tindakan “suap” pada rakyat sering dilakukan, apalagi di masa pilkada. Tindakan yang tidak memakan biaya sedikit, sebuah “investasi” yang perlu dipikirkan bagaimana balik modalnya kelak. Sebuah siklus kekonyolan 5 tahun sekali.
Orang miskin jangan lawan orang kaya, gak mungkin menang. Orang kaya jangan nantang pejabat, bonyok kamu ( Indera Tjahja Purnama / Kim Nam )
Kedua bisnis itulah luka yang sudah menjadi borok Indonesia. Pelayanan masyarakat yang menjelema jadi bisnis menggiurkan, sebuah sistem yang kacau terterapkan di negri demokrasi ini. Luka lama KKN dengan nanah bobroknya birokrasi dan kotornya sistem politik ini terus menghambat tumbuh kembangnya Indonesia. Siklus yang berulang setiap ada penerimaan PNS / kepolisian, dan setiap jelangan pemilihan. Para pejabat bermental korup, atau para pejabat baik yang tak bisa melawan keroposnya pengelolaan negara ini, menduduki kursi-kursi empuk tersebut, membuat kita tak kemana-mana selama puluhan tahun.
Parahnya lagi, budaya KKN tersebut sudah menular dan mungkin sudah menjadi identitas banyak orang Indonesia.Banyak sektor swasta memilih pekerjanya karena kenal atau saudara. Banyak timbul praktik suap dan pungli dalam masyarakat. Sistem komisi, dan pemalsuan nota di perusahaan-perusahaanpun sudah bukan hal asing lagi. Membuat daya saing kita menjadi rendah. Sebuah alaram buat eksistensi Indonesia dalam persaingan global ini
Jadi walaupun Indonesia walaupun memiliki jumlah penduduk ke 4 terbanyak di dunia, jangan aneh kalau negara ini sulit memenangkan gelar bergengsi di ajang olahraga dunia, dan sangat jarang perusahaan asal Indonesia untuk bisa ekspansi dan menguasai pasar di negara lain, apalagi menembus Fortune 500.
Bicara mengenai luka, saya jadi teringat saat masih belia dulu. Di lab kimia, saya pernah mengalami cidera di jempol. Saya lupa lukanya akibat apa, yang saya ingat hanyalah darah yang mengalir begitu banyak sampai membuat saya tertegun cukup lama. Maklum sebelumnya tak pernah dapat luka sedalam itu.
Tapi namanya cowok, harus tetep jaim dong ya, malu juga kalau kelihatan kesakitan. Akhirnya saya minta izin ke toilet untuk membersihkan lukanya, untuk nantinya saya obati pakai obat merah. Eh.. bukannya di izinkan, malah tangan saya ditarik oleh Pak Guru dan disiramkanlah alkohol 90% ke jempol kesayangan saya itu.. Sakitnya luar biasa, sampai jempol unyu-unyu saya jadi nyut-nyutan. Disitu saya baru tau kalau alkohol dapat membuat luka sangat cepat kering. Infeksi kuman-kumanpun dapat diminimalisir karena kuman tidak suka alkohol.
Itulah yang mengingatkan saya pada 2 tokoh yang sedang berusaha mengobati luka lama yang borokan tadi. Pak Jokowi dan Pak Ahok. 2 orang yang membuat saya tertarik jadi pengamat politik serabutan ini seperti obat merah dan alkohol buat Indonesia. Entah mana obat yang lebih cocok, tetapi kehadiran mereka memberi harapan baru untuk masa depan.
Jokowi seperti obat merah yang dengan “Jawa” nya mencoba memberikan visi dan motivasi untuk merubah nasib negara ini. Perubahan yang semakin memperlihatkan titik terang, walau pelan tapi pasti, sudah terasa. Cara halus dengan konsolidasi politik, motto kerja kerja kerja, dan pergerakan-pergerakan simbolis Sang Kepala Negara semakin memotivasi para birokrat dan memberikan harapan baru untuk rakyat.
Sedang Ahok, seperti alkohol 90%, apalagi di kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI kemarin. 2 Tahun spektakuler, karena dapat merevolusi kinerja birokrat DKI, dari birokrat yang terkenal akan KKNnya, menjadi jajaran pelayan yang profesional. 2 tahun ajaib yang membebaskan momok banjir untuk wilayah yang 40%nya berada di bawah muka laut padahal sedang musim la nina, hujan sepanjang tahunJangan lupa juga usahanya untuk maju tanpa partai, supaya merevolusi perpotitikan Indonesia, walau akhirnya harus kandas karena jegalan undang-undang verifikasi dari kumpulan partai ketakutan di DPR itu.
Tapi namanya Ahokhol 90% diteteskan ke borok bernanah, pastinya bakal membuat shock. Apalagi untuk yang biasa berkubang dalam nanah-nanah tersebut. Reaksi penolakan dari bakteri-bakteri jahat dan kegelisahan banyak masyarakat untuk berubah ke arah yang lebih baik secara tiba-tiba sempat mewarnai media Tanah Air. Mungkin reaksi-reaksi selama ini dapat melunakan Ahokhol 90% jadi Basuki dengan alkohol 70% saja supaya tidak terlalu membuat shock. Walaupun saya pribadi tidak ingin Beliau berubah, karena ingin rasanya melihat luka lama ini cepat sembuh.
Tapi sadarlah manusia-manusia DKI, alkohol itu cuma sakit dan bikin kaget di awal saja, setelah itu kita dapat langsung mendapati luka yang telah kering dan tinggal menunggu untuk sembuh. Tidak butuh tensoplas atau perban lagi. Belajarlah buat tahan rasa sakit itu sebentar, sambil tiup-tiup lukanya, supaya sensasi adem alkohol itu bisa kita nikmati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru