LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Senin, 06 Maret 2017

BISIKAN MBAH PRIOK DAN TERPILIHNYA GUBERNUR DKI JAKARTA

Membahas hal-hal mistis di era modern ini merupakan kesangsian tersendiri untuk saya. Apalagi jika ini dikait-kaitkan dengan politik. Ini seperti omong kosong yang terlahir dari igauan di siang bolong. Mengapa? Sebab, hitung-hitungan politik tidak memberikan ruang kepada hal mistis sebagai salah satu faktor penentunya.

Ahok dan Habib Sting
Tapi. Untuk hal mistis yang satu ini,  sebaiknya kita berprasangka baik dulu. Saya pun awalnya tidak mau mengangkat hal ini, tapi kejadian sekarang ini bukan peristiwa pertama. Sudah ada peristiwa yang mendahuluinya. Dan itu kejadian.
Pembaca tidak harus percaya dengan apa yang akan saya sampaikan nanti. Tapi, berkaitan dengan “keyakinan”, ada hal-hal yang memang sulit dicerna akal sehat, tapi itu bisa terjadi, dan mungkin akan terjadi lagi.Yang jelas, ini tidak seperti 7 juta manusia yang bisa berkumpul di Monas.  Yang akan saya ceritakan lebih bisa dicerna ketimbang kasus 7 juta manusia tadi.
Saya akan mulai dengan sebuah cerita, 15 tahun yang lalu, saat Pengadilan Negeri memutuskan bahwa tanah seluas 5,4 hektar di areal makam Mbah Priok, sah sebagai milik Pelindo 2, sebagai bagian dari HPL tanah pelabuhan. Meski Pelindo 2 sudah menang, tapi eksekusi lahan tidak bisa juga dijalankan. Sebab, ribuan santri selalu mengunjungi makam tersebut.
Tiap harinya, ratusan santri melakukan ritual “nyekar” atau tabur bunga sambil berdoa, meminta petunjuk. Orang-orang percaya, jika ritual nyekar dilakukan dengan sungguh-sungguh maka seseorang akan mendapat semacam “bisikan ghaib” dari Mbah Priok (Habib Hasan).
Pada tahun 2005, penjaga makam Mbah Priok, yakni cucunya sendiri, Habib Abdullah Alaydrus, atau Habib Sting, mendapatkan bisikan ghaib dari Habib Hasan/Mbah Priok. Pesan ghaib tersebut ditujukan kepada Fauzi Bowo (Foke) yang saat itu menjabat sebagai Wagub DKI. Dikirimlah utusan untuk menyampaikan amanah tersebut kepada Foke. Disampaikan, Foke ada pesan dari Mbah Priok, kamu dipilih oleh Habib (Mbah Priok) untuk menjaga makam Mbah Priok.
Foke bingung, kenapa harus saya, katanya. Saya kan cuma Wakil. Utusan tersebut mengatakan, amanah tersebut hanya untuk anda. Foke hanya bisa tersenyum mendengar hal itu.
Ini memang terdengar seperti lelucon. Sebab, politik tidak sesederhana kabar ghaib tersebut. Banyak hal yang menjadi faktor penentunya. Anehnya. Pada tahun 2007. Foke terpilih menjadi Gubernur DKI. Dan ramalan tersebut memang benar.
Apa yang Foke lakukan terhadap makam Mbah Priok setelah terpilih menjadi Gubernur? Ia mendadak lupa. Tapi, memang ia tidak berjanji juga. Apalagi, posisi makam tersebut sedang bermasalah dimana pengadilan memenangkan Pelindo sebagai pemiliknya.
Setelah 3 tahun Foke bertugas. Ia malah mau menggusur makam Mbah Priok. Tepatnya pada 14 April 2010. Sebuah peristiwa berdarah terjadi. Saat itu, Foke pun sedang mendapat musibah, ayahnya meninggal, persis di hari yang sama.
Ribuan umat Islam berkumpul di makam Mbah Priok dengan persenjataan lengkap. Salah satu dari mereka ada juga FPI. FPI punya peran penting dalam menjaga makam Mbah Priok ini. Jadi, kalau setelah saya menceritakan ini, FPI macam-macam dengan Ahok, itu sama saja FPI bunuh diri. Sejarah yang akan menyadarkan mereka.
Bentrokan berdarah tak dapat dihindari. Puluhan orang luka berat. 3 orang tewas. Kerugian materil sudah tak terhitung lagi. Semua di luar perhitungan Foke. Masa yang seakan-akan mendapat dukungan ghaib begitu kalap hingga tak merasakan ketakutan berhadapan dengan Satpol PP dan apara lagi.
Foke dianggap ingkar dengan amanah yang telah diberikan oleh Mbah Priok. Foke selesai. Tahun 2012, akhirnya Foke tumbang sebagai Petahana. Kalah menghadapi Jokowi-Ahok. Padahal, dukungan partai kepadanya cukup banyak. Apalagi sebagai petahana, ia bisa bermain di lingkungan birokrasi seperti KPUD.
Warga makam Mbah Priok sudah memprediksi bahwa Foke akan kalah, sebab ia tidak menepati amanah yang telah dibebankan kepadanya. Masuk akal? Tentu tidak. Tapi, itulah keyakinan. Dan itu terjadi. Dan itu bisa saja bukan karena Jokowi Populer. Tapi, memang terlalu rumit jika faktor “ghaib” dimasukkan ke dalam hitung-hitungan politik.
Saat Jokowi memimpin sebagai gubernur, kabar ghaib dari Mbah Priok belum juga muncul. Mungkin, Jokowi bukan orang yang dipilih Habib Hasan. 12 tahun setelah kabar ghaib sebelumnya, tepatnya di pertengan Januari 2017 kemarin, sebuah kabar ghaib diterima lagi oleh Habib Sting. Kabar ghaib dari Habib Hasan tentang ada sebuah “amanah” untuk seseorang yang terpilih.

Dan. Orang yang mendapatkan amanah tersebut adalah Ahok. Saat kabar ghaib itu datang, Ahok sedang sibuk-sibuknya kampanye. Tapi, ahli waris ingin bertemu untuk menyampaikan pesan tersebut. Padahal, saat itu Ahok sedang dihajar habis-habisan dengan isu “penistaan agama”.
Ahok tidak percaya kepada yang begitu-begituan. Tiga kali dibuat jadwal bertemu, tapi semuanya gagal. Tapi, ahli waris tetap setia menunggu Ahok untuk berkunjung ke makam Mbah Priok. Ada pertentangan di hati kecil Ahok. Sebab, ini sangat sensitif sekali. Ini sudah berkaitan dengan “keyakinan” orang kepadanya.
Akhirnya, Ahok setuju untuk bertemu secara diam-diam. Jam 3 pagi Ahok sudah bersiap-siap mengunjungi makam Mbah Priok, ini untuk menghindari peliputan media.
Tapi. Kunjungan Ahok tersebut tergolong nekat. Mengapa? Ahok kan belum kenal sama orang-orang disana. Apalagi, isu penistaan agama masih melekat kuat di dirinya. Malah, Ahok tidak membawa ajudan ataupun orang menemaninya.
Ahok sendiri sadar bahwa kunjungannya di pagi buta saat itu tidak masuk akal. Tapi aneh bin ajaib, ada sesuatu yang memanggilnya. Ada sesuatu yang menggerakkannya untuk pergi ke makam Mbah Priok. Duhh.. lagi-lagi ini terus mengundang tanya ke kita. Sebab, memang semuanya sulit dicerna akal sehat.
Ahok pun tiba di makam Mbah Priok. Ahok menunggu jamaah shalat Subuh dulu. Usai shalat. Ahok diajak ke makam Mbah Priok bersama Habib Sting dan para jamaah. Ini merupakan peristiwa yang langka, sebab jarang terjadi non-muslim diajak mengunjungi makam.
Habib Sting mengatakan kepada Ahok bahwa ia telah mendapat kabar dari Mbah Priok untuk membela Ahok. Sebab, Ahok orang yang benar. Tidak ada amanah dari Mbah Priok sebagaimana Foke dulu. Ini sungguh aneh.
Habib Sting juga menyampaikan pesan dari Mbah Priok ke Ahok bahwa ia akan menjadi pemimpin negeri ini kelak. Dari sini Habib Sting katakan, bahwa siapapun umat Islam di Jakarta yang menentang bisikan  Habib Hasan berarti musuh mereka.
Setelah berdoa di pemakaman, Ahok diajak berkeliling. Saat itu, Ahok mengatakan bahwa setelah cuti, saya akan benahi semua ini. Ahok seperti yang yakin “bisa aktif” lagi sebagai gubernur, padahal banyak pihak yang menolak keaktifannya sebagai gubernur.
Ternyata. Keyakinan tersebut terbukti. 3 hari sebelum pencoblosan, Ahok resmi aktif kembali sebagai gubernur DKI, meski disenggol kanan-kiri. Dan sehari sebelum pencoblosan Ahok mendatangi makam Mbah Priok  lagi bersama direksi Pelindo 2.
Ahok datang dengan membawa sebuah kabar gembira bagi para warga di areal makam Mbah Priok. Bahwa lahan seluas 5,4 hektar tersebut akan dihibahkan oleh Pelindo 2 yang akan dijadikan sebagai cagar budaya wisata religi.
Luar biasa. Sengketa tanah yang telah memakan korban jiwa dan telah berlarut-larut penyelesaiannya ini, dapat diselesaikan Ahok hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja.
Saya sebagai seorang muslim bangga, seorang non-muslim seperti Ahok ini dapat menyelesaikan masalah umat Islam. Tapi banyak orang yang menutupi kisah mengharukan ini dengan hingar-bingar “penistaan agama”. Kita harusnya malu, masa umat lain yang menyelesaikan masalah umat Islam.
Kalau ada yang protes, loh itu kan sudah tugas gubernur untuk menyelesaikannya. Saya hanya bisa menjawab, mengapa Foke enggak bisa selesaikan? Secara, ia muslim. Ia orang betawi. Mengapa harus Ahok yang non-muslim dan China yang menyelesaikannya?
Ahok sempat marah saat ada yang usul bagaimana Habib Sting dijadikan relawan untuk kampanye Ahok-Djarot. Ahok mengatakan, Demi Allah, saya membantu mengurus makam Mbah Priok karena saya mau, jika saya pamrih, Habib Hasan pasti akan tahu. Lanjut Ahok, kalian jangan mengajari saya berbuat sesuatu  yang akan hilang manfaatnya, jika saya pamrih, maka yang akan saya lakukan akan susah nantinya.
Tiba juga kita pada sebuah hipotesis yang mungkin agak-agak mistis. Apakah dengan serangkaian kejadian ini, itu pertanda, bahwa Ahok-Djarot akan kembali memimpin Jakarta? Tentunya, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Seword.com 

0 komentar:

Posting Komentar