SBY YANG BAPER DAN YANG CAPER

Bukan SBY namanya bila tidak baper dan caper setiap kali ada peristiwa yang menyangkut namanya. Kali terakhir adalah saat kuasa hukum Ahok menyebut Ma’ruf Amien melakukan percakapan yang berujung pada pengeluaran fatwa terhadap Ahok.
Tentu saja tidak perlu waktu lama bagi SBY untuk melakukan klarifikasi agar masalah ini menjadi ‘jelas’.
“Tidak ada kaitan dengan kasus Pak Ahok, dengan tugas MUI, dengan tugas mengeluarkan fatwa.” SBY berkilah bahwa percakapan tersebut hanya ingin menanyakan kabar SBY.
Ini ngeles, timingnya terlalu pas. Selang beberapa waktu saja tiba-tiba keluar fatwa Ahok menistakan Al-Qur’an dan ulama. Kita tahu sendiri Ma’ruf Amien pernah menjadi Watimpres SBY. Mungkinkah kita bisa percaya tidak ada udang dibalik bakwan atas kebetulan-kebetulan ini?
Fakta Menurut SBY
Mari kita simak terlebih dahulu apa yang dikatakan SBY.
“Mereka (pengurus PBNU) yang lengkap mengira saya ikut. Saya bilang, tidak mungkin, Agus sudah mandiri, nanti dibilang di bawah bayang-bayang ayahnya”
Kita semua bisa ngakak terguling-guling mendengar kata-kata ‘Agus sudah mandiri’ dari mulut SBY. Mandiri bagaimana? Mandi Sendiri iya. Agus yang tidak punya pengalaman apapun di bidang pemerintahan apakah mungkin tiba-tiba dengan kemauan sendiri akan melamar menjadi Calon Gubernur?
Sudah jelas ini adalah keinginan Pepo, agar anaknya bisa meneruskan nama Yudhoyono di kancah politik Indonesia. Gaya bicara Agus pun sangat mirip dengan SBY, penuh kata-kata bahasa inggris dan menjanjikan hal-hal yang mengapung. Progam Agus pun terkesan dari hasil sugesti pepo, BLT dan santunan.
Mandiri? Wah, ini sudah namanya menghina Anies dan Ahok yang jelas-jelas menjadi Calon Gubernur karena kemauan sendiri. Saya ulangi lagi, atas kemauan SENDIRI. Agus yang sedang latihan militer di Australia tidak mungkin tiba-tiba mendapatkan inspirasi untuk menjadi gubernur. Ini seperti orang yang sedang mengerjakan tugas tapi tiba-tiba mau jadi presiden, tidak nyambung.
Sudah jelas, kata-kata ‘Agus sudah mandiri’ merupakan pernyataan ngeles, tidak mengaku bahwa memang SBY-lah yang mendorong agar anaknya masuk ke politik.
SBY sendiri pun sudah mengakui bahwa percakapan dengan Ma’ruf memang ada, tapi tidak tentang fatwa. Ini merupakan sebuah keanehan, Ma’ruf mengaku tidak ada percakapan beliau dengan SBY.
Malahan setelah kuasa hukum menyatakan akan memberikan bukti komunikasi Ma’ruf dengan SBY, SBY langsung mengaku memang ada percakapan. Ini sungguh merupakan kebetulan luar biasa. Bila memang ada percakapan mengapa Ma’ruf tidak mau mengaku bahwa memang beliau berkomunikasi dengan SBY?
Apa yang ingin disembunyikan? Bukankah seorang saksi tidak boleh menyembunyikan sesuatu dalam sidang?
“Silakan ditanyakan apakah pendapat keagamaan MUI itu lahir di bawah tekanan SBY atau di bawah tekanan siapa pun. Saya kira mudah sekali, daripada nanti saya dikira defensif, silakan tanya langsung,”
Wah, pernyataan ini seolah-olah bahwa SBY tidak terlibat sama sekali. Seolah-olah FPI yang begitu ngotot Ahok menistakan Agama bukan pendukung Agus.
Bila memang bukan karena SBY yang menelepon sehingga keluar fatwa tersebut, mengapa Ma’ruf menutup-tutupi kejadian percakapan tersebut? Sisanya kita bisa simpulkan sendiri.
Panik?
Melihat begitu cepatnya SBY mengeluarkan pernyataan setelah kuasa hukum Ahok menyatakan akan membeberkan bukti komunikasi SBY dengan Ma’ruf, tentu saja membuat kita semua berspekulasi. Kok cepat sekali? Bahkan SBY sesumbar bahwa ini merupakan penyadapan.
“Jadi, jangan mengambil kesimpulan sendiri. Memang kita bilang rekaman? Kan tidak ada. Kenapa dibilang rekaman,” kata Humprey Djemat
Ini merupakan balasan dari kuasa hukun Ahok. Memang, dalam sidang kuasa hukum Ahok mempermasalahkan komunikasi dan tidak menyatakan memiliki rekaman. Ini sudah merupakan blunder SBY, kok seakan-akan takut disadap? Apa memang ada hal yang harus disembunyikan dalam percakapan antara SBY dengan Ma’ruf?
SBY bahkan merasa hak dirinya sudah diinjak-injak. Ini lebay, seakan-akan SBY merupakan korban sesuatu yang besar. Bukti percakan sendiri tidak perlu penyadapan, bisa menjadi saksi yang melihat seseorang menelepon saja.
Melihat mantan presiden kita yang berperilaku seperti ini, tentu saja kita sulit untuk menaruh hormat kepadanya. Proyek mangkrak dan negara auto-pilot diwariskan kepada penerusnya. Malah ikut mengurui saat ada masalah di negeri ini.
Semoga saja akan ada kejelasan, sebenarnya memang percakapan tersebut isinya apa. Sungguh aneh bila percakapan tersebut hanya tentang menanyakan kabar, setelah itu keluar fatwa. Atau bila memang SBY merasa tidak bersalah, keluaran sendiri rekaman percakapan anda dengan Ma’ruf Amien.
Kita semua ingin tahu bagaimana cara seorang ketua MUI menanyakan kabar kepada seorang mantan presiden. (01/02/2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru