Rela Tinggalkan Kenyamanan Demi Anak-anak Papua



Daniel Alexander adalah orang biasa dengan karya luar biasa lewat pengabdian hidup dan cintanya demi anak-anak di Bumi Cendrawasih. Pria sederhana ini hadir menjadi figur seorang ayah bagi ribuan anak-anak Papua sejak tahun 90-an.
Pengabdiannya ini bukan tanpa alasan. Ketaatannya kepada Tuhan adalah titik awal keberanian Daniel masuk ke daerah terpencil seperti Sugapa Intan Jaya, Papua. “Iman itu datang karena Tuhan yang berbicara. Ketika saya mendengar Tuhan menuntun, logika saya berkata nggak mungkin. Saya kalahkan logika. Saya jalan dengan iman. Yang penting bertindak, asal Tuhan yang menyuruh jangan nekat. Kalau Tuhan nggak menyuruh bertindak itu namanya terjun tanpa sayap,” ucap Daniel.
Daniel mengaku, Tuhan sendiri yang menuntunnya memilih daerah terpencil Sugapa sebagai daerah dimana ia menetap dan memberi diri untuk pendidikan anak-anak Papua. Kala itu, ia sudah memantapkan hati untuk meninggalkan segala kenyamanan hidup sebelumnya, baik pengalamannya mengelilingi lebih dari 40 negara dan serta kenyamanan hidup saat berada di Negeri Kanguru. Dan lebih memilih menikmati kenyamanan hidup untuk melayani orang-orang Papua yang memerlukan kasih Tuhan. “Saya bisa ketemu orang-orang yang perlu kasih Tuhan. Itu nyamannya beda”.
Daniel menuturkan bagaimana titik balik dirinya memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Papua. Buku From Jerusalem to Irian Jaya karangan Ruth A Tucker yang pernah ia baca menyadarkannya bahwa Irian Jaya adalah ujung buminya Indonesia. “Tahun 90 bulan April, pertama kali saya tiba di Jayapura, langsung ke Wamena. Nah, dari situ panggilan Tuhan kuat saya harus kembali ke Indonesia dan tinggal di Papua”.
Kendati telah kehilangan figur seorang ayah sejak usia 9 tahun, namun kebesaran hati Daniel menjadi figur ayah bagi anak-anak Papua merupakan bentuk kasih yang ia terima dari sosok Tuhan yang ia percayai. Begitu pula ketika dirinya bertemu dengan tiga sosok ayah yang telah mengajarkannya tentang kasih.
Bersama dengan sang istri, Lucy Luise Tanudjaja, Daniel menjalankan misi pendidikan anak-anak di Papua. Dari tangan keduanya, ribuan anak sudah mendapatkan pendidikan yang lebih baik. “Sudah enam doktor yang kami luluskan dari tangan kami sendiri. 48 S-2 (Magister) dan sekian ratus S-1 (Sarjana). Kami ingin anak-anak itu maju”.
Teladan yang diberikan Daniel Alexander sangat membekas bagi orang-orang di sekitarnya. Tak hanya sebagai sosok yang taat dengan panggilan Tuhan, namun dirinya juga telah menjadi sosok inspirator bagi banyak orang. Pengorbanan dan hati Bapa yang ada dalam dirinya telah membuahkan hasil yang begitu nyata bagi anak-anak Papua. Yayasan Anak Indonesia dan SMA Anak Panahm di Nabire adalah hasil pekerjaan tangan yang telah mereka lakukan di Papua yang hingga saat ini terus berjuang memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak Papua.
Sumber : Daniel Alexander

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru