Saya saat ini merasakan bingung bercampur senang setelah membacanya. Pertama Bapak tanyakan apakah warga ingin sengsara atau bahagia. Tentu saja Pak setiap manusia sejatinya pasti ingin hidup bahagia, hanya orang tidak waras mungkin yang ingin hidup menderita. Saya tidak akan banyak berkomentar untuk yang ini, meskipun saya ragu apakah Bapak tulus ingin membawakan kebahagiaan kepada rakyat yang ingin Bapak pimpin atau hanya  ingin mengejar kekuasaan untuk sendiri dan kelompok Bapak saja. Soalnya Bapak kan belum pernah menjabat bahkan Ketua RT sekalipun namun ingin langsung jadi Gubernur Ibu Kota kan ya Pak? Jadi maklumilah saya jika saya sangsi.
Pertanyaan kedua Bapak yang ingin saya komentari lebih banyak. Bapak bertanya apakah ingin pemimpin yang manusiawi atau yang marah-marah, yang menurut saya dari penggunaan kata pun sudah keliru karena dua kata sifat yang dibandingkan ini bukanlah antonim dari satu sama lain. Lalu, maksud Bapak menyindir saingan Bapak ya calon nomor urut 2 yang dianggap suka marah-marah? Kalau iya, saya ingin bertanya lebih lanjut kepada Pak Agus.
Jikalau Bapak jadi pemimpin di sebuah perusahaan dan anak buahmu lalu kerjanya malas-malasan dan tidak tulus ingin mengabdi dan membuat usaha Bapak lebih sukses, Pak Agus tidak akan marah-marah? Yang dilakukan Pak Ahok juga sama. Bahkan perusahaan yang Pak Ahok pimpin adalah Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi DKI Jakarta yang pegawai-pegawainya dibayar dengan gaji yang tinggi dari uang pajak 10 juta rakyat Jakarta loh Pak.
Sangat tidak bertanggung jawab sekali jika pegawai-pegawai tersebut lalu kerja malas-malasan, tidak memiliki niat tulus melayani masyarakat, dan selalu kerja lambat atau bahkan terkesan sengaja mengulur-ngulur untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan yang telah direncakan. Bahkan, tidak sedikit yang dulunya suka melakukan pungutan liar loh Pak. Untuk menghadapi pegawai Pemda DKI yang demikian Bapak bisa tidak marah-marah? Apakah Pak Agus tidak ingin agar programnya bisa segera terlaksana dan cepat membawakan manfaat kepada rakyat? Kalau hati Bapak tulus ingin membawakan kebahagiaan kepada rakyat Jakarta, saya rasa Bapak pasti akan marah juga. Kalau tidak ya maafkan saya Pak Agus jika sekali lagi saya harus meragukan ketulusan dan kemampuan Bapak untuk memimpin Ibu Kota kita.
Jikalau Bapak jadi kepala keluarga (eh sudah berkeluarga sih ya Pak) lalu melihat anak-anakmu saling merugikan dan saling menyakiti satu sama lain, atau melihat anakmu melakukan tindakan tidak terpuji yang melanggar hukum dan selalu berkali-kali mengulanginya, apa yang akan Pak Agus lakukan? Pak Agus tidak akan marah-marah? Yang dilakukan Pak Ahok juga sama. Bahkan anak Pak Ahok ada 10 juta rakyat Jakarta.
Diantara 10 juta manusia ini, ada yang tidak tahu aturan dengan membangun rumah di bantaran kali dan merugikan manusia lainnya ketika banjir, ada yang tidak taat hukum dengan menyalahgunakan bantuan dari Pemda DKI untuk anaknya, ada yang melakukan membangun lokalisasi tempat perzinahan dan perjudian, dan tidak sedikit juga yang menduduki tempat-tempat fasilitas umum untuk berdagang.
Menurut saya wajar saja jika seorang ayah marah untuk mendidik anak-anaknya yang seperti ini untuk kembali ke jalan yang benar, untuk hidup mengikuti aturan demi ketertiban dan kenyamanan anak-anak yang lebih banyak lagi. Kalau Pak Agus tidak akan marah kah? Jika memang tidak, maafkan saya Pak saya harus kembali meragukan ketulusan dan kemampuan Bapak untuk memimpin Ibu Kota kita.
Saya tidak akan mengomentari pertanyaan Pak Agus yang ketiga yang menyandingkan kata sifat “tegas” dengan “beringas”. Menurut saya pertanyaan yang ini sangat tidak pantas digunakan untuk menyindir karakter lawan politik Bapak, karena kata “beringas” ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “liar” yang menurut saya lebih layak digunakan untuk menggambarkan sifat dari para penjahat. Tapi entahlah kenapa Pak Agus yang katanya sangat terdidik dan lulusan S3 Amerika ini harus menyerang lawan dengan kata ini. Saya “prihatin” Pak.
Kemudian Pak Agus juga bilang dalam kesempatan tadi: “Kalau salah pilih sengsara lima tahun ke depan.” Saya setuju dengan pernyataan yang ini! Rakyat Jakarta tolonglah bantu saya untuk membuka mata dan mencerahkan anggota keluarga, tetangga dan masyarakat di sekitar kalian! Bukalah mata hati mereka dan cerahkanlah mereka untuk memilih yang tepat demi masa depan Ibu Kota kita lima tahun ke depan.