Agus Debat atau Presentasi Hapalan?

Melihat Agus debat, tidak terlihat adanya debat atau pemikiran sendiri. Yang ada adalah pemakaian tek yang sudah dihapal. Kecepatan bicaranya pun lebih cepat dari BMW, tidak ada jedanya. Bila orang sengaja berbicara dengan cepat maka ada dua kemungkinan : Orangnya gugup atau supaya tidak lupa hapalan. Sepertinya Agus adalah keduanya.
Menghapal Semua Orang Bisa
Saat memberikan presentasi di kuliah, biasanya mahasiswa sudah latihan kecil-kecilan. Memiliki kertas teks pun sudah normal, meski tidak etis untuk melihat kertas teks sambil bicara. Yang terlihat pada Agus adalah beliau menghapal mati kertas teksnya sehingga mampu mengucapkannya bahkan saat sedang tidur. Ekspresi muka Agus pun selalu senyum, tapi kaku. Hal ini sangat terlihat saat debat, persis seperti mahasiswa yang gugup dan berbicara secara cepat dengan harapan tidak ada kata-kata yang terlewat.
Bahaya dari hanya menghapal teks ini adalah pertanyaan tidak akan sinkron dengan jawaban. Kita bisa lihat bahwa jawaban Agus sangat sangatlah umum, tidak berfokus dan hanya berkutat pada teori. Saya mampu mengerti apa kata Ahok dan Anies, tapi tidak dengan Agus. Bicaranya seperti ketinggalan kereta, cepat sekali. Sekali lagi saya katakan, ini persis seperti mahasiswa yang sedang presentasi dengan teks. Tidak ada emosi maupun improvisasi selama jalannya presentasi, dalam hal ini debat.
Mata Agus juga bisa dilihat, tidak melihat hadirin sama sekali, tapi melihat ke arah angin. Kadang melihat ke bawah maupun ke atas. Ini sudah jelas sinyal bahwa apa yang dikatakannya adalah hapalan, bukan hasil pemikirannya. Gaya bicara yang cepat, ditambah kegugupan, serta bahasa mata yang tidak meyakinkan sudah menyebabkan Agus hanya terlihat sebagai mahasiswa yang sedang presentasi, bukan Cagub DKI.
Bu Slyvi Mana?
Agus sangat terlihat sebagai One Man Army, tidak memberikan kesempatan berarti untuk Bu Slyvi unjuk gigi. Padahal jelas Bu Slyvi memiliki kualitas dan lebih berpengalaman daripada Agus. Bu Slyvi pernah menjadi walikota, tidak seperti Agus yang hanya prajurit dan tidak pernah menjadi kepala daerah. Bila Agus mampu memanfaatkan Bu Slyvi untuk ‘melengkapinya’ maka kualitas debat beliau akan lebih terlihat. Malah Bu Slyvi dibiarkan tergelatak begitu saja. Hampir menjadi tim hore.

Saya malah takut bahwa Bu Slyvi dikibuli bahwa beliau akan mendapat kenaikan pangkat menjadi wakil gubernur. Bila mereka menang, hanya Agus yang akan maju dan membuat kebijakan. Bu Slyvi tidak diindahkan pendapatnya, hanya duduk manis. Sedih saya melihatnya, diundang debat tapi bicara pun tidak dibiarkan. Untuk apa mengundang Bu Slyvi bila beliau tidak akan dipakai saat debat? Mending dikasih pulang, bisa nonton TV sampil menikmati AC.

Sampai disini saya heran, Agus ini memang ingin menjadi Gubernur atau tidak? Penelantaran Bu Slyvi menandakan bahwa Agus ingin menjadi Gubernur tanpa Wakil Gubernur. Kita semua tahu tidak mungkin bisa memerintah hanya seorang diri. Bila wakilnya sendiri saja tidak diindahkan, apalagi dengan penjabat dibawahnya. Jangan-jangan Agus akan memerintah dengan versi militer, tidak menerima kritik dan debat. Bukankah tabu bagi prajurit untuk membantah atasannya? Bila diperintah maju wajib maju, bila tidak mau langsung diturunkan pangkatnya.
Babak Belur Sendiri
Melihat cara Agus debat, dapat diambil kesimpulan yang sangat monohok. Agus secara langsung tanpa perantara menghancurkan dirinya sendiri. Debat tapi semua yang dikatakannya hapalan. Hapalannya pun hanya teori, tidak ada isi. Siapa yang bisa mengerti apa maksud sebenarnya dari Agus? Sangat sulit mencerna, selain cepat tidak ada pokok pikiran yang bisa diambil kesimpulannya.
Progam yang diutamakan Agus pun tetap saja uang. Bila memilih saya maka anda akan mendapat BLT (Uang). Ini sebelas dua belas dengan money politik. Persis dengan papanya yang mamakai BLT untuk menjaga popularitas.
Apa anda yakin orang seperti ini mampu memerintah? Bagi saya sangat tidak layak. Bahkan Bu slyvi pun lebih layak dibanding Agus yang masih anak papa mama. Masih ada debat yang akan digelar oleh KPUD. Bila Agus masih memakai gaya hapalan saat debat maka dapat dipastikan Agus akan tamat. Tamat elektabilitasnya dan tamat imagenya. (13/01/2017).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

PESUGIHAN DENGAN CARA BERHUBUNGAN SEKS DENGAN NYI BLORONG (ULAR CANTIK)