Korea Utara Protes Laporan PBB Soal Penculikan ShareTwe

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memuat dugaan penculikan warga asing oleh Pyongyang dan banyaknya keluarga Korea yang secara paksa dipisahkan di seluruh semenanjung yang terbagi dua sejak perang 1950-an, diprotes Korea Utara (Korut).
Duta Besar Korea Utara untuk PBB di Jenewa, So Se Pyong, mengatakan ia mengajukan keberatan ke Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad al-Hussein pada Selasa (13/12). “Ini sungguh tidak masuk akal. Kami tidak melakukan penculikan semacam itu,” kata So dilansir Reuters.
“Ini tidak adil dan juga tidak berimbang, bertentangan dengan prinsip misi kantor (PBB, red),” katanya.
Dalam laporan tersebut menyebut penculikan internasional sebagai “praktik yang terdokumentasi baik” oleh Korea Utara, yang menyasar warga Korea Selatan dan Jepang. Sejak Perang Korea berakhir tahun 1953 menurut perkiraan ada 129.616 orang telah mendaftar untuk dipersatukan kembali dengan keluarga mereka di Korea Utara, namun lebih dari separuhnya sekarang sudah meninggal dunia sebelum dipersatukan kembali dengan keluarga mereka.
Dalam reuni terkini setelah lebih dari enam dekade perpisahan, hampir 400 warga Korea Selatan melintasi perbatasan Korea Utara yang dijaga ketat oleh aparat bersenjata pada Oktober 2015. Namun reuni itu tertunda karena latihan militer gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat, kata So. “Kalau situasinya oke, dan damai, dan seluruh ketegangan mereda, akan terjadi, reuni ini. Karena kami selalu terbuka untuk penyatuan kembali keluarga yang terpisah.”
So juga meminta agar PBB membantu menjamin kembalinya 13 pekerja restoran muda asal Korea Utara yang menurut pemerintahnya diculik di China tahun lalu oleh agen-agen Korea Selatan. “Kami meminta PBB, hanya jika benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk kasus hak asasi manusia, meminta otoritas Korea Selatan membebaskan anak-anak perempuan korban penculikan itu,” ujar So.
Saat ditanya apakah pelepasan mereka adalah syarat untuk melanjutkan kembali kunjungan keluarga, So mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah syarat, melainkan sebuah tugas. “Itu bukan syarat, itu tugas mereka, misi yang harus dilakukan alih-alih membuat laporan semacam ini.” (Ant/CN38)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

Tampil Menawan dengan Mengubah Mata Coklat Menjadi Biru