LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Kamis, 15 Desember 2016

Dari Haji Lulung hingga Donald Trump

“Jangan pikir anggota kami ini anak-anak alay. Justru mereka ini sangat kreatif.”

Ilustrasi: Edi Wahyono
Kamis, 15 Desember 2016
Kejadian itu sudah lewat hampir dua tahun, tapi masih tetap lucu. Pada siang, 5 Maret 2015, itu, Abraham Lunggana, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, keluar dari Ruang Sasana Bhakti di Kantor Kementerian Dalam Negeri, dengan bersungut-sungut. Dia baru saja selesai mengikuti rapat mediasi pimpinan DPRD DKI Jakarta dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.
Hasil rapat itu sepertinya tak sesuai dengan harapan Haji Lulung, sapaan sehari-hari Lunggana. "Hei, kamu jelaskan bahwa kamu tidak mengusulkan pembelian USB!" kata Lulung dengan penuh emosional, dikutip CNN Indonesia, menirukan ucapan Gubernur Basuki saat rapat mediasi. "UPS, Pak… UPS," para juru warta mencoba meluruskan ucapan politikus Partai Persatuan Pembangunan itu. "Hah, apa? Iya, UPS," kata Lulung. 
Hari itu Lulung tak cuma sekali selip lidah. Beberapa jam kemudian, dia kembali salah memilih kata. "Saya siap. Saya dorong proses hukum di Kejaksaan Agung dan kepolisian untuk mengungkap kasus USB," kata Haji Lulung di gedung DPRD DKI Jakarta. Padahal yang dimaksud Lulung adalah perangkat penyimpan daya listrik alias UPS, uninterruptible power supply.
Kontan nama Lulung kondang di jejaring sosial. Di Twitter, tagar #SaveHajiLulung bertahan jadi trending topic selama tiga hari. Meme-meme soal Lulung terus bermunculan, dibagi, dan menghibur banyak orang. Di satu meme digambarkan Lulung tengah berteriak, ”Woi, lu kagak tau gue siapa? Gue kalau lewat polisi tidur, polisinya pada bangun.” 
Akun komunitas Meme Comic Indonesia atau MCI juga turut meramaikan “efek” Haji Lulung. Setelah tagar #SaveHajiLulung, MCI memperkenalkan tagar #HajiLulungEffect di trending topic Twitter. Banyak orang terhibur oleh meme-meme lucu itu. Tapi, menurut Andre Prodjo, CEO MCI, ada pula pihak yang keberatan. Suatu kali Andre bertemu muka dengan Lulung saat hendak diwawancarai salah satu stasiun televisi swasta. 

Andre Prodjo, CEO MCI
Foto: Ari Saputra/detikcom

“Tidak ada orang yang terbang sebanyak aku. Percayalah, jika bumi ini bulat, maka aku akan tahu.”                  
“Saya ditarik Haji Lulung ke sebuah ruangan untuk bicara empat mata. Di dalam ruangan beliau memprotes mengapa dia terus-menerus dirisak di media sosial,” Andre menuturkan pertemuannya dengan Lulung. “Kami jelaskan bahwa pernyataannya sendiri yang membuat jadi bahan omongan dan guyonan orang. Dan akhirnya dia mengakui sendiri, ‘Kalau enggak ada ini, saya enggak akan dikenal."
Daripada capek-capek “melawan” ribuan netizenyang menjadikannya bahan meme, Haji Lulung memilih berdamai. Dia membuat akun media sosial untuk pertama kali di Twitter, @halus24. Di foto profilnya, Lulung berpose mengenakan baju berwarna biru khas MIC bertulisan ”Meme dibaca mim”. “Dengan adanya akun social media itu, saya rasa beliau sudah bisa memahami,” kata Andre.
Jauh sebelum meme dikenal masyarakat luas, komunitas MIC sudah terlebih dulu bergerilya di media sosial. Menurut Andre, MIC diprakarsai oleh Praska Lukestiwa, yang saat itu masih duduk di kelas III SMP. Awalnya Praska, yang biasa disebut Admin P, hanya menerjemahkan meme dari situs luar negeri seperti 9gag. Lewat tangan kreatifnya, Praska mulai membuat konten lokal dan disebar lewat Facebook.
Proyek iseng-iseng itu mendapat sambutan lumayan juga. Pada 2012, Praska berhasil menggaet 1,7 juta like di Facebook. Praska pun membentuk tim pengelola untuk membantu kegiatan operasional MIC. Sementara itu, MIC terus melebarkan sayap dengan membuka akun di jejaring media sosial lain, seperti Twitter dan Instagram. Saat ini MIC dikelola oleh 10 admin inti dan manajemennya diurus oleh perusahaan periklanan, Pensil Media. Sang pendiri, Praska, memilih mundur sementara untuk menuntaskan sekolahnya.
Setiap hari sekitar 3.000 meme dikirim oleh anggota MIC, yang rata-rata masih berusia 18-25 tahun dan tersebar di seluruh Indonesia. Anak-anak muda ini sangat aktif di Internet. Ketika admin MIC memajang meme, mereka segera menanggapi dengan memberikan likeshare, atau membalasnya dengan mengirimkan meme buatan mereka sendiri. 
Foto: InTheseTimes

Foto: MCI
Meme hasil karya pengguna MIC ini justru banyak yang jadi viral. Sementara meme Jackie Chan dikenal dunia untuk menggambarkan aksi orang yang kebingungan, Indonesia punya Yayan Ruhian, yang terkenal dengan kata khas “greget”. Meme Yayan alias Mad Dog dicuplik dari satu adegan dalam film The Raid: Redemption dan dijadikan bahan lelucon oleh member MIC. 
“Pas pertama kali kami melihat, kreatif juga, nih. Ternyata benar meme itu jadi viral. Makanya jangan pikir member kami ini anak-anak alay. Justru mereka ini sangat kreatif. Hanya dalam hitungan detik bisa keluar ide untuk bikin meme,” kata Andre. Hingga kini MIC telah mendapatkan 3,3 juta like di Facebook.
Selain sumbangan meme dari anggota, para admin MIC juga membuat berbagai meme. Salah satunya Ani Eliya, yang dikenal dengan sebutan Admin Kitty. Sejak duduk di bangku SMA, Ani berseluncur di Internet, mengamati meme-meme dari luar negeri. Tak cuma sekadar jadi penikmat, Ani juga kerap membuat meme dan mengunggahnya di Facebook. 
Di MIC, salah satu tugas Ani adalah membuat meme yang mengangkat tema kisah asmara di kalangan remaja. Kadang ia juga membuat meme dalam bentuk rage comic. Komik sederhana yang terdiri atas karakter meme yang memiliki ciri khas, seperti troll faceforever alone, dan Derp & Derpina. Tak jarang ia menggunakan fotonya sendiri sebagai karakter dalam memenya. 
Bekerja sebagai pembuat meme, kata Ani, tak perlu keahlian khusus. Pembuat meme juga tidak harus jago mengoperasikan software foto atau semacamnya. Dia sendiri lulusan D-3 Politeknik Kesehatan Denpasar. Menurut Ani, sebuah meme tidak dinilai dari kualitas gambar, melainkan pesan yang dibawakan. 
“Menyampaikan sindiran dalam meme secara langsung itu enggak boleh. Justru yang paling bagus kalau lelucon bisa buat orang terhibur dan bikin orang mikir,” kata Ani.
* * *




Foto: Ari Saputra/detikcom
Di antara silang pendapat dan debat panas, juga caci-maki selama pemilihan Presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu, meme bak oasis di tengah terik padang pasir. Lewat meme, semua orang bebas melepaskan frustrasi dengan menertawakan, meledek, dan mengejek segala hal yang tampak palsu dalam politik.
Meme-meme soal Donald Trump, kini Presiden Terpilih Amerika Serikat, menurut perhitungan Google, merupakan satu di antara sepuluh topik meme yang paling dicari tahun ini. Satu meme, misalnya, menggambarkan betapa konyolnya Donald Trump. Saking konyolnya, digambarkan betapa Trump tak percaya bahwa bumi ini bulat. 
“Dengar, aku punya pesawat jet. Aku punya Boeing 757, pesawat yang cantik…. Tidak ada orang yang terbang sebanyak aku. Percayalah, jika bumi ini bulat, maka aku akan tahu,” kata Trump dalam meme itu. Trump tak pernah mengatakan hal seperti itu. Kata-kata dalam meme itu bersumber dari berita palsu alias hoax.
Pemilihan Presiden Amerika sudah tutup layar, tapi sebagian orang masih sulit menerima bahwa mereka harus dipimpin oleh Donald Trump. “Aku tak senang dengan hasil pemilihan presiden…. Dan jadi hal ilmiah bagi generasiku untuk menumpahkan frustrasi itu dengan menyuarakannya,” kata Josh Billinson, warga Washington, DC, kepada USAToday, pertengahan November lalu. 

Kru MCI (dari kiri ke kanan) Seto Adji Wirantono, Andre Prodjo, Ani Eliya, Calvin
Foto: Ari Saputra/detikcom
Lewat meme, Josh menumpahkan frustrasinya. Pada 11 November, Josh memasang meme dengan foto Presiden Barack Obama tengah menelepon. Di depannya duduk Wakil Presiden Joe Biden. "Aku tahu Joe sudah menelepon dan memesan 500 pizza untuk dikirim pada 20 Januari nanti, tapi aku ingin membatalkannya,” kata Presiden Obama di telepon. Pada tanggal itu, Donald Trump akan disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat, tapi Joe Biden tentu saja tak pernah memesan pizza untuk dikirim ke Gedung Putih.
Di Amerika, kampanye politik makin rame berkat meme, demikian pula di Indonesia. MIC, menurut Andre, mendapatkan panggungnya di media sosial saat pemilihan presiden dua tahun lalu. Tak seperti hari-hari biasa, di mana banyak meme soal percintaan, saat pemilihan presiden pada 2014 lalu, banyak meme berisi sindiran terhadap suatu kejadian ataupun institusi yang berkuasa namun tak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. 
“Itu menunjukkan bagaimana meme menjadi salah satu media untuk berkomunikasi dengan siapa pun. Terutama dengan penguasa yang punya kepentingan politik, budaya, dan segala macam,” kata Andre.

Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

0 komentar:

Posting Komentar