Sandera tewas dalam serangan ISIS di Dhaka jadi 20 orang

Juru bicara militer Bangladesh melansir data terbaru mengenai korban serangan militan di kafe Ibu Kota Dhaka. Sandera yang dipastikan tewas mencapai 20 orang, semuanya warga negara asing.

Warga Italia, Jepang, Sri Lanka, serta India masuk dalam daftar pengunjung Kafe Holey Arisan Bakery tadi malam, sebelum delapan orang militan menyerbu masuk melempar granat serta menembaki pengunjung.
"Kebanyakan korban tewas adalah warga negara Jepang dan Italia," kata Letnan Shahab Uddin yang memimpin Pasukan Gerak Cepat kepada Kantor Berita AFP, Sabtu (2/7).
Mayoritas korban sudah tewas ketika pasukan khusus masuk ke area kafe. "Mereka digorok oleh para pelaku memakai benda tajam," kata Brigjen Nayeem Asfaq Chowdhury.
Tembak menembak antara polisi dan militan berlangsung selama lebih dari lima jam. Pemerintah Bangladesh sempat ingin bernegosiasi dengan para militan karena mereka menyandera pengunjung kafe. Negosiasi gagal, lantaran militan berikrar melakukan misi bunuh diri.
Enam militan ditembak mati setelah militer Bangladesh menggelar operasi pembebasan sandera pada Sabtu pagi waktu setempat. Satu penyerang berhasil ditangkap hidup-hidup. Adapun 13 sandera berhasil diselamatkan. Empat polisi Bangladesh tertembak dalam operasi tersebut, dua di antaranya tewas.
Media propaganda ISIS, Amaq, menyatakan militan khilafah bertanggung jawab atas serangan serta penyanderaan kafe di Dhaka.
"Pasukan Komando Daulah Islamiyah menyerang restoran yang biasa dikunjungi orang-orang kafir di Ibu Kota Bangladesh," tulis Amaq lewat media sosial kemarin malam.
Kafe yang disantroni ISIS itu berada di Distrik Gulshan, kawasan elit Ibu Kota Dhaka yang dihuni staf Kedutaan asing, ekspatriat, serta pejabat pemerintahan Bangladesh. Kafe Artisan pada malam hari menyajikan masakan Spanyol, sehingga ramai wisatawan asing.
Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, mengecam serangan tersebut. Dia menyatakan negaranya akan berkomitmen mengatasi gerakan radikalisme.
"Agama para pelaku adalah terorisme. Mereka tidak punya tempat di Bangladesh," kata Hasina.
Bangladesh, negara mayoritas muslim berpenduduk 150 juta jiwa, menjadi salah satu pusat radikalisme agama di Asia Selatan selama tiga tahun terakhir. Sel-sel teroris, terutama yang berbaiat pada Khilafah Islamiyah, meningkat drastis. Sejak 2014, setidaknya ada 20 pembunuhan terhadap orang-orang dianggap menghina Islam, misalnya blogger, wartawan, serta aktivis HAM. Dari seluruh insiden pembunuhan serta penyerangan itu, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas 18 di antaranya.
(merdeka.com) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

China Klaim Puncak Wabah Virus Korona di Negaranya Telah Berakhir

Langkah Cepat Sri Mulyani Membenahi Anggaran Negara

PESUGIHAN DENGAN CARA BERHUBUNGAN SEKS DENGAN NYI BLORONG (ULAR CANTIK)