LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Minggu, 22 Mei 2016

Perayaan Waisak Di Candi Bahal, Ditolak Santri, Warga Dan Mahasiswa Portibi


SUMATERA UTARA (Links.web.id) - Perayaan waisak yang dilakukan umat Buddha Se Sumatera Utara di Candi Bahal ditolak keras oleh santri dari Pondok Pesantren Al-Muktariyah dan sejumlah masyarakat Sekitar Candi Bahal Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara pada Minggu (31/05/2015).

Pasalnya, Ribuan umat Buddha yang datang dalam perayaan waisak yang turut dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Padang Lawas Utara H.Riskon Hasibuan dan juga Ketua DPRD Kabupaten Padang Lawas Utara Muklis Harahap itu dinilai tidak menghargai pemeluk agama lain di daerah tersebut.

Dikatakan Ustadz El Alim Siregar Spd, selaku Koordinator aksi penolakan tersebut, unjuk rasa dilakukan sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap sikap panitia acara yang tidak meminta izin kepada masyarakat terutama pada santri yang ada di daerah Candi Portibi yang dianggap bukan sebagai tempat peribadatan melainkan candi tersebut adalah peninggalan sejarah.

“Jangan hanya ke pemerintah dan kepolisian saja meminta izin, tapi kepada masyarakat juga penting,” Tegasnya.

Dia mengancam akan melakukan aksi yang sama, apabila kedepannya perlakuan yang sama di terima oleh masyarakat khususnya masyarakat Portibi.

“Apabila kejadian ini terulang lagi, maka para santri yang ada di Pondok Pesantren ini siap menjadi garda terdepan untuk menolak aksi perayaan itu,” Tuturnya.

Ribuan Massa yang melakukan aksi penolakan dalam perayaan tersebut sempat bersitegang dengan aparat kepolisian karena merasa dihadang, namun akhirnya massa meminta agar mereka dipertemukan dengan pihak panitia perayaan untuk mendapat penjelasan secara langsung terkait perayaan tersebut.

Setelah dipertemukan dengan pihak panitia perayaan, yakni Ir Febrius Sw bersama panitia lainnya menjelaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud untuk mencederai hati masyarakat yang ada di sekitar Candi Bahal dan tidak ada niat dan tujuan tertentu untuk menyebarkan agama Buddha di Paluta.

“Kami tidak bermaksud mencederai hati masyarakat sekitar, kami juga tidak ada tujuan atau misi tertentu untuk menyebarkan agama Buddha di daerah Paluta melalui perayaan ini, kami hanya semata-mata ingin merayakan waisak di Candi Bahal sambil mengenalkan Candi Bahal ke mata dunia sebagai bangunan cagar budaya dan tempat wisata di Paluta,” jelasnya.

Setelah melakukan dialog dan mediasi akhirnya pihak panitia menyampaikan permohonan maaf pada warga sekitar.

”Kami meminta maaf kepada masyarakat dan santriwan-santriwati. Atas nama panitia, saya minta maaf, karena itu merupakan kelalaian kami. kejadian seperti itu tidak akan terulang untuk masa yang akan datang.” Kata Rudi Hermanto didampingi Ir Febrius AW dihadapan para santri.

Informasi yang berkembang, lantaran perayaan waisak tanpa seizin warga setempat itu, hampir saja warga dan mahasiswa Se Portibi turun ke Candi Bahal untuk mendukung Pon-Pes Al-Mukhtariyah, beruntung aksi tersebut cepat di cegah oleh Humas Pon-Pes Al-Mukhtariyah yakni, H.Nagori Harahap SH, dengan alasan,sudah ada kata maaf.

Sementara itu Pimpinan Pon-Pes Al-Mukhtariyah Ust. Drs.H.Mh.Syahrizal El Mukhtary.MA. menyampaikan “Jika Candi itu dijadikan tempat persembahan atau peribadatan, kami tidak menerima, Candi itu berdiri hingga kini terlestarikan,itu semata-mata karena peninggalan sejarah," Katanya.

Kejadian tersebut akhirnya menuai isu, Jika Candi Bahal dijadikan tempat peribadatan, maka Candi yang berada di kecamatan Portibi itu akan diratakan dengan tanah (AD)

Sumber berita:
http://www.links.web.id/perayaan-wai...a-portibi.html

0 komentar:

Posting Komentar