LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Senin, 02 Mei 2016

Pengamen yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Pengamen yang Dulu Bukanlah yang SekarangIlustrasi pengamen (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Musisi jalanan kerap dinilai mengganggu masyarakat karena terkesan memaksa minta duit di bus kota. Para musisi jalanan itu dapat dibedakan dengan pengamen yang hanya asal mencari uang.

Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) mencoba membuat perbedaan. Mereka menilai ada perbedaan antara pengamen masa dulu dengan pengamen yang sekarang. Pengamen era terdahulu dinilai lebih cenderung menyodorkan karya, bukan semata meminta uang dari masyarakat.

"Itu lah bedanya antara pengamen yang dulu dengan pengamen jalanan yang sekarang. Makanya ada bakat pengamen jalanan itu untuk menyalurkan karya. Makanya kita tidak asal saja," ujar kordinator KPJ Jakarta, Sony, di Gor Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (2/5/2016).

Menurutnya, masing-masing tujuan dari tiap pemusik jalanan berbeda. Ada yang mengamen untuk kerja, ada yang untuk batu loncatan, ada yang untuk berkarya, dan ada yang untuk melanjutkan cita-citanya untuk menjadi pemusik. Namun, ada pula pemusik jalanan yang kerap berdendang di bus kota tidak selalu menghibur, mereka terkesan memaksa penumpangnya untuk menakut-nakuti dengan pakaian berantakan atau pun bernada ancaman dan menyanyi asal.

"Ya memang kadang ada yang sambil mabok juga kan, tapi itu lah yang membedakan pengamen yang dulu dan yang sekarang. Kalau kami KPJ dalam bentuk wadah sehingga pemusik jalanan bisa berkarya. Namun, tidak semua orang kan tidak ingin cuma jadi pengamen. Makanya ada yang berkarya, tapi ada juga yang hanya untuk bekerja saja," ujar Sony.

Oleh karena itu, Sony menyebut salah satu tujuan dibuatnya KPJ ini agar para pemusik jalanan bisa menunjukan bakatnya. Dia menyebut, adanya komunitas ini untuk menata dan membuat wadah agar pemusik jalanan tersebut bisa menyalurkan karya seninya.

"Makanya kami bikin wadah seperti ini biar pun karya mereka walaupun pengamen itu karyanya seperti ini, misalnya pengamen dari anak kecil hingga dewasa, mereka datang dari Surabaya itu datang ke sini untuk menunjukan karyanya," kata Sony.

Kini pemusik jalanan bukan hanya dari kalangan muda-mudi, tetapi juga orang tua dan anak kecil. Mengingat fenomena pemusik jalanan yang kerap dilakukan anak kecil, menurut Sony itu adalah tanggungjawab orang tua dan Dinas Sosial

"Kalau itu urusannya Dinsos, tanggungjawabnya karena mereka masih punya orang tua kalau misal punya hati mereka pasti tidak mengizinkan anaknya bekerja seperti itu. Jadi pemerintah bagaimana melihatnya, jangan disamakan anak-anak seperti itu," ujar Sony.

0 komentar:

Posting Komentar