LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Selasa, 03 Mei 2016

Pegiat Perempuan Kutuk Aksi Pemerkosa Keji di Bengkulu, Minta Jokowi Bersikap


Selasa 03 May 2016, 12:1
Pegiat Perempuan Kutuk Aksi Pemerkosa Keji di Bengkulu, Minta Jokowi BersikapFoto: Edward Febriyati
Jakarta - Aliansi masyarakat peduli korban kekerasan seksual menggelar pernyataan sikap. Mereka menuntut pemerintah segera sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Organisasi yang terdiri dari Perempuan Mahardika, SIMPONI, ARI (Aliansi Remaja Independen), Sikandi Masyarakat, Solidaritas Perempuan dan organisasi lain mengutuk kekerasan seksual yang dialami Y, gadis 14 tahun di Bengkulu. Konfrensi pers dilakukan di Gedung LBH Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa (3/5/2016).

"Terkait kasus YY gadis. 14 tahun yang diperkosa 14 laki-laki (tiga diantaranya masih berusia 17 tahun ke bawah dan dibunuh dengan tangan terikat. Kami mengutuk segala bentuk tindakan kekerasan seksual terhadap siapapun tanpa terkecuali," ujar Triyani Agustini kordinator Aliansi Remaja Independen dalam pernyataan sikapnya.

Pihaknya juga mendorong negara harus bertangung jawab untuk tindakan pencegahan dan penanganan segala bentuk kekerasan. Oleh karena itu pemerintah harus mengimplementasikan kurikulum pendidikan seksual di sekolah.

"Kami mendukung pemerintah segera mengesahkan RUU PKS dan mendorong RUU ini agar menjadi prioritas dalam pembahasan di tahun 2017. Undang-undang itu diharapkan agar dapat menjadi payung hukum kepada semua WNI sehingga tidak ada lagi korban kekerasan seksual," bebernya.

Sementara Mutiara Ika pratiwi Seknas perempuan Mahardhika menuntut pemerintah cepat tanggap khususnya polisi. Agar para pelaku yang masih dalam pencarian dapat ditangkap.

"Pemerintah juga harus memberikan perlindungan hak korban, khususnya kepada keluarga yang trauma mendapat pemilihan secara psikologis," kata Mutiara.

Kasus ini menjadi tamparan untuk pemerintah kata Mutiara khususnya presiden Jokowi. Lantaran sekelompok orang dengan tega membunuh dan memperkosa anak remaja di bawah umur.

"Kasus ledakan bom kita melihat bagaimana pemerintah berikan respons cepat. Sekarang ada anak remaja yang diseret diperkosa lalu dibunuh, mana respons cepat pak Jokowi. Presiden harus memberikan statment intruksi kepada jajaran di bawahnya. Sehingga pemerintah dapat membangun gerakan massif perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan seksual," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar