Hajah Erot binti Muntasya atau biasa dikenal dengan sebutan Emak Erot telah tiada. Usia Mak Erot ketika meninggal dunia konon lebih dari 130 tahun. Memang tidak diketahui dengan pasti sebenarnya usia perempuan yang namanya tersohor sebagai pendekar kejantanan itu.


Syaifulloh dan Mak Erot.


Namanya telah menjadi melegenda, baik di Indonesia maupun luar negeri. Mak Erot sangat populer sebagai ahli terapi alat vital pria. Maka tak heran banyak pria yang mendatangi rumahnya di Gunung Pasir Baru, Kampung Cigadog, Desa Caringin, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Padahal, jalan menuju kampung kediaman Mak Erot sendiri masih berupa jalan tanah dengan bongkahan-bongkahan batu, melewati tempat-tempat terjal, sekitar 16 kilometer dari Pelabuhan Ratu.

Karena banyak pria yang mendatangi rumahnya untuk berobat kejantanan. Akhirnya istri Bo'i bin Asbandini itu pun mengerahkan seluruh anak cucunya untuk membantu. Maka anak cucunya membuka praktik tidak hanya di Sukabumi tapi juga di Jakarta.

Satu di antara cucu Mak Erot adalah Syaifulloh yang praktik di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Syaifulloh menceritakan sekitar 40 hari sebelum Mak Erot meninggal seluruh keluarga bermimpi Mak Erot dibawa pergi oleh sekelompok orang berbaju serba putih.

Tak seorang pun yang bisa menghalangi ahli pengobatan kejantanan itu pergi bersama kelompok tersebut. Mimpi itu menjadi kenyataan. Mak Erot meninggal di pendoponya.
"Emak sempat dirawat di RS Pelabuhan Ratu selama seminggu. Tapi, tujuh hari kemudian mengembuskan nafas terakhir," katanya lirih.

Menurut Syaifulloh, sebelum meninggal dunia neneknya sempat meminta seluruh keluarga besarnya berkumpul dan berwasiat agar anak cucunya meneruskan pengobatan terapinya.

"Emak juga berpesan agar setiap rezeki yang diperoleh sebagian disumbangkan ke masjid dan pondok pesantren," katanya.

Maka sesuai wasiatnya, pengobatan kejantanan harus berjalan. Para pewarisnya akan meneruskan terapi pengobatan ala Mak Erot. Meski Mak Erot telah wafat, kualitas pengobatan dijamin tetap ampuh karena seluruh keturunan Mak Erot sudah mewarisi sistem pengobatan yang dipunyai Mak Erot.

"Emak sudah meninggal dunia. Tetapi, pengobatan tradisionalnya tetap kami jalankan karena kami sudah menerima warisan ilmu pengobatan tersebut dari Mak Erot. Kualitas pengobatan tetap terjamin," ujarnya.

Sepeninggal terapis legendaris tersebut keluarga tidak mempermasalahkan soal lisensi bagi yang berhak memegang nama Mak Erot. Sebab, mereka berprinsip seluruh ilmu pengobatan alternatif tersebut merupakan milik keluarga besar Hj Erot binti Muntasya dan H Bo'i bin Asban yang mempunyai tujuh anak, yakni Hj Khonijah, Abad (almarhum), Itak (almarhum), H Thobi, H Uyat, Hj Ainah, dan H Nahmin. Ketujuh orang tersebut saat ini sudah beranak pinak.

Dia mengatakan bahwa ilmu pengobatan alternatif khusus pria telah diwariskan kepadanya.

"Tidak sembarang orang yang bisa menerima ilmu dan kemampuan yang dimiliki Mak Erot," katanya.

Pengobatan tradisional alat vital sudah dilakukan Mak Erot sejak zaman penjajahan Jepang tahun 1945. Berbeda dengan pengobatan lain, pengobatan ala Mak Erot adalah murni tradisional.

Syaifulloh menjelaskan, Mak Erot mengawalinya dengan berpuasa selama 40 hari. Di sela-sela puasa itulah Mak Erot bermimpi didatangi oleh pria yang mengenakan baju serba putih.

Pria itu mengatakan kepada Mak Erot bahwa ilmu yang ia berikan untuk bekal dirinya dan seluruh keturunannya. Ilmu tersebut harus digunakan untuk menolong orang. Pesan itu benar-benar dilaksanakan Mak Erot yakni menolong pria yang kehilangan kejantanannya.
"Selain memberi ilmu, pria itu memberi petunjuk ramuan pengobatan dan doanya," tuturnya.

Setelah kejadian itu, tidak lama kemudian datang seorang tentara Jepang ke rumah Mak Erot. Tentara itu meminta diobati karena menderita gangguan disfungsi ereksi.

"Penyakit tentara Jepang itu dapat disembuhkan. Setelah itu nama Mak Erot menjadi terkenal sampai sekarang sehingga banyak pria berduyun-duyun ke Cisolok," katanya.