LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI HERBAL LICENGSUI JOSS

Sabtu, 19 April 2014

ANUNYA KOQ BISA LOYO KENAPA YA?



Ketidakmampuan ereksi atau biasa disebut disfungsi ereksi (DE) bukan cuma disebabkan karena tidak adanya libido saja. Gangguan penyakit sampai masalah psikologis dengan pasangan bisa membuat penis menjadi tak bertenaga.

Seseorang disebut menderita DE jika ia tidak mampu melakukan ereksi selama lebih kurang tiga bulan. "Ketidakmampuan ini berjalan terus-menerus, bukan selang-seling terkadang bisa terkadang tidak. Kondisi itu juga tetap berlangsung meski dengan partner yang berbeda," papar Dr Ponco Birowo, dokter spesialis urologi dari RS Asri Jakarta.

Ponco menjelaskan, secara umum ada dua penyebab utama disfungsi ereksi, yakni faktor psikogenik dan organik.

Faktor psikogenik adalah semua hal yang berkaitan kondisi kejiwaan. "Penyebabnya bisa karena komunikasi yang kurang baik dengan pasangan. Penyebab lain adalah merasa tidak berdaya karena tidak mampu membuat pasangan orgasme," katanya.

Rasa rendah diri karena tidak berhasil menuntun pasangan mencapai orgasme ternyata bisa membuat seorang pria merasa stres, depresi, merasa bersalah, sampai takut akan keintiman.

Sementara itu, yang dimaksud dengan penyebab organik adalah gangguan penyakit. "Hampir dua pertiga disfungsi ereksi disebabkan karena faktor ini," katanya.

Selain diabetes yang tidak terkontrol, penyakit yang bisa menyebabkan impotensi adalah kolesterol tinggi, hipertensi, atau memiliki riwayat kecanduan. Penyakit-penyakit tersebut dapat merusak saraf dan pembuluh darah sehingga aliran darah ke organ penis yang diperlukan untuk terjadinya ereksi menjadi terhambat.

Ponco menambahkan, ada beberapa gejala yang menyertai penyebab organik, yakni hilangnya minat pada aktivitas sosial, ukuran testis yang mengecil, serta penurunan pada penanda seksual sekunder, misalnya melemahnya kekuatan otot.

Mengenali penyebab-penyebab disfungsi ereksi bisa membantu memilih terapi pengobatan yang paling tepat.

Pengobatan DE sendiri terdiri dari tiga lini, yang pertama adalah mengobati penyebabnya yang diikuti dengan melakukan perubahan gaya hidup dan mengonsumsi obat. Misalnya dengan obat golongan PDE-5 inhibitor.

Jika pengobatan lini pertama tidak berhasil, pasien bisa melakukan terapi lini kedua berupa injeksi sildenafil ke badan penis serta injeksi sildenafil ke saluran kencing. "Tetapi, pengobatan ini mulai dibatasi karena minimnya penyerapan obat di uretra," kata Ponco.

Sementara itu, pengobatan di lini terakhir adalah operasi atau terapi hormon yang diikuti dengan terapi seks.

"Kunci keberhasilan pengobatan adalah menjaga pola hidup sehat, dengan asupan bernutrisi seimbang dan olahraga. Kecuali karena kondisi genetik, disfungsi ereksi bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat. Pola yang sama juga harus dijalani usai menjalani pengobatan," ujarnya.
"Kesehatan seseorang yang
ideal bukan sekadar sehat saja, tapi dia harus sehat bugar,"

Pola hidup sehat dan bugar itu meliputi 5 S, yaitu:

1. Sehat Makan

"Makanan harus sehat, bergizi, tidak berlebihan lemak, tidak boleh berlebihan gorengan," ujar Dr Samuel.



Junk Food Bisa Bikin Sperma Loyo



Perlu diketahui, fast food ternyata mengandung garam, lemak, dan kalori yang tinggi, termasuk kolesterol yang mencapai 70 persen serta hanya sedikit mengandung serat yang justru sangat dibutuhkan tubuh. Selain kandungan gizinya yang rendah, fast food juga mengandung zat pengawet dan zat adiktif yang membuat kita ketagihan. Kandungan lemak yang tinggi banyak terdapat dalam makanan cepat saji dan memperbesar risiko kanker, terutama kanker usus besar dan payudara. 

Makanan cepat saji juga mengandung protein hewani yang cukup kaya. Hal tersebut bisa menyebabkan terhambatnya penyerapan kalsium di dalam tubuh yang bisa berdampak pada pengeroposan tulang. Sebagai seorang pria, saya yakin Anda tidak menginginkan hal ini bukan? Terlebih ketika ada masih dalam usia produktif.
Tak hanya sekadar osteoporosis, fast food juga berdampak buruk bagi kesehatan sperma Anda. Penelitian terbaru menyebutkan, konsumsi fast food juga berhubungan dengan jumlah produksi sperma pada pria. Dalam sebuah penelitian berskala kecil yang dilaporkan dalam jurnal Human Reproduction, para ahli meneliti 99 pria yang mendatangi klinik kesuburan di Amerika Serikat. Hasil yang mereka dapat sungguh mengejutkan. Pria yang mengonsumsi lemak tinggi punya kecenderungan memiliki jumlah sperma yang lebih sedikit. Di sisi lain, penelitian tersebut juga menemukan bahwa diet tinggi asam lemak omega-3 yang banyak ditemukan dalam minyak nabati dan ikan dapat membantu meningkatkan kualitas sperma.
Pemimpin penelitian, Profesor Jill Attaman dari Harvard Medical School, Boston mengatakan, “Hubungan antara lemak dan kualitas sperma cukup besar. Temuan ini sekaligus menjadi alasan agar setiap orang membatasi konsumsi lemak jenuh yang berkaitan dengan perkembagan penyakit kardiovaskular.”
Pada penelitian lain, untuk melihat seberapa banyak konsumsi lemak mereka, para periset membagi para peserta pria ke dalam tiga kelompok. Penelitian menunjukkan, dibanding mereka yang mengonsumsi sedikit lemak, pria dengan asupan lemak yang tinggi memiliki jumlah sperma 43 persen lebih rendah dibanding pria dengan lemak yang rendah. Tak hanya itu, konsentrasi sperma 38 persen juga lebih rendah. Konsentrasi sperma dalam hal ini diartikan sebagai jumlah sperma per unit volume semen.
Peneliti menegaskan, diet tinggi lemak tampaknya tidak mengganggu kesuburan para responden pria jika berdasarkan riset ini. Fakta menujukkan, tidak ada pria yang jumlah spermanya ada di bawah ambang batas yang ditetapkan WHO, yaitu minimal 39 juta dengan kadar konsentrasi 15 juta per mililiter. Pada pria yang mengonsumsi kadar lemak tertinggi (37 persen melebihi batas kalori normal), jumlah spermanya mencapai 125 juta dan konsentrasi rata-rata 51 juta per mililiter. 

Meskipun begitu, para peneliti tetap memperhitungkan fakta bahwa 71 persen dari responden pria mengalami kegemukan yang akan berdampak buruk pada kualitas sperma.
Pada penelitian yang berbeda, para ahli melakukan tes sperma/analisis semen untuk mengetahui kualitas sperma. Penelitian ini untuk melihat pergerakan, konsentrasi, maupun bentuk sperma. 

Hasilnya, bagi mereka yang gemar mengonsumsi makanan sehat, pergerakan spermanya cukup tinggi. Ini berbanding terbalik dengan pria yang suka mengonsumsi makanan olahan, fast food contohnya, sperma mereka diketahui memiliki pergerakan yang lambat atau cukup rendah, bahkan tidak bisa bertahan dalam perjalanan membuahi telur.
Nah, untuk para pria yang selama ini gemar mengonsumsi junk food atau sejenisnya cobalah untuk menguranginya bahkan berhenti. Ini demi kesehatan dan masa depan Anda sendiri, bukan?

ALKOHOL BISA BIKIN LOYO

KEBIASAAN minum minuman keras atau menelan sejumlah besar bir atau anggur ternyata dapat menghilangkan tenaga. Padahal, sering terdengar, minuman beralkohol digunakan sebagai pembangkit gairah sebelum melakukan hubungan seks. Banyak iklan di pelbagai media cetak mengiklankan produk minuman keras dapat menimbulkan kesan hangat, penuh cinta, dan seksi.



Menurut Dr Eugene Schoenfeld dari San Fransisco dan penulis pada kolom Dr Hippocrates di berbagai surat kabar Amerika, alkohol memang merupakan contoh obat yang begitu luas digunakan, tapi jangan dianggap semata sebagai obat. “Dalam dosis yang lebih besar, terjadi depresi dan perlambatan refleks. Stimulasi akibat alkohol sebenarnya disebabkan pelepasan hambatan-hambatan yang ada,” tulisnya seperti dikutip dari buku Nutrisi Seksual (Sexual Nutirition) yang ditulis oleh DR Morton Walker.



Dr Eugene Schoenfeld mengatakan, kebiasaan minum minuman beralkhohol menyebabkan hati menghasilkan sejumlah besar enzim yang dapat menghancurkan testosteron, hormon pembangkit libido pria. Sebuah riset dari universitas di California menunjukkan bahwa kebanyakan pria tidak bisa ereksi setelah meminum tiga kali minuman keras yang masing-masing dosisnya 1 ons. Karena alkohol mengurangi produksi testosteron, kebiasaan minum yang berat dapat menyebabkan impotensi permanen, bahkan kecenderungan mandul pada pria.



Kendati demikian, beberapa orang dengan karakter pribadi yang kuat masih bisa ereksi meskipun dalam keadaan mabuk berat. Ahli riset seksual, dr CW Sheppard dan dr GR Gay, menyimpulkan, dengan mempertimbangkan adanya keraguan dalam manfaat dari penggunaan yang berlebihan, tidak masuk akal juga untuk menggunakan stimulan dari bahan-bahan yang mengandung alkohol.



“Seseorang yang tak dapat bereaksi terhadap stimulasi psikoseksual biasa seharusnya mencari bantuan profesional. Pada umumnya, minuman keras hanya memberikan kekecewaan, bukan pada perbaikan seksual,” tulis Sheppard dan Gray dalam laporannya yang dimuat dalam Journal of Abnormal Psychology.



Masih dalam laporan yang ditulis Shepperd dan Gray, dikatakan bahwa orang yang minum alkohol, semangatnya dapat naik, tapi penisnya hanya naik sementara saja, ereksinya pun hanya setengah keras. Dampak sebenarnya dari alkohol dalam segala bentuknya, wiski, anggur, dan bir, dapat menjadikan penis lembek alias loyo. Semakin mabuk, semakin lembek.



”Bagaimana dengan wanita? Beberapa wanita mengatakan, efek minuman keras dapat membuat gairah menjadi naik. Menurut penelitian psikolog dr G T Wilson dan dr D M Lawson, para wanita itu lebih cepat mabuk dan mabuk lebih lama dibandingkan dengan pria. Wanita lebih cepat menyerap alkohol dan lebih dulu menahannya dalam darah daripada pria. Akibatnya, dapat membahayakan janin.



Percobaan yang disebut Fetal Alcohol Syndrome (FAS), sindroma alkohol janin yang dilakukan para ahli di University of North Carolina, mengatakan, gangguan pada janin sudah dapat terjadi pada tiga minggu kehamilan, jauh sebelum wanitanya sendiri sadar dirinya hamil.
OBAT PENENANG BIKIN LOYO 
  Konon obat-obatan tertentu seperti obat penurun tekanan darah dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi pada pria. Namun belakangan pernyataan tersebut dibantah sebuah studi baru dari AS. Menurut peneliti, obat penenang dan beberapa jenis h yang antidepresanla bisa menyebabkan impotensi.

Bahkan studi sebelumnya menyatakan bahwa konsumsi obat-obatan apapun dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi pada pria. Untuk itu, demi memastikan ada tidaknya keterkaitan antara risiko disfungsi ereksi dengan jenis pengobatan yang dikonsumsi masing-masing individu, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Varant Kupelian dari New England Research Institutes, Watertown, Massachusetts melakukan survei terhadap 2.301 pria dan menanyai tentang obat-obatan resep yang mereka gunakan dan fungsi seksual responden.

Hasilnya, satu dari lima responden diketahui mengidap impotensi. Impotensi atau disfungsi ereksi didefinisikan sebagai skor yang diberikan seorang pria terkait ketegangan, kehandalan dan kepuasan dari ereksinya sendiri. Skor tertingginya adalah 25 dan jika seorang pria mengalami impotensi maka biasanya skornya mencapai 17 ke bawah.

Separuh dari 60 responden yang diketahui mengonsumsi tricyclic antidepressant (TCA) yaitu amitryptyline selama satu bulan terakhir juga tergolong ke dalam kelompok responden yang mengidap impotensi. Namun setelah mempertimbangkan faktor risiko impotensi lainnya, misalnya usia dan penyakit jantung yang diidapnya, peneliti menemukan bahwa pria yang mengonsumsi TCA berisiko tiga kali lipat mengidap disfungsi ereksi.

Begitu pula dengan responden yang mengonsumsi tranquillisers atau obat penenang yaitu benzodiazepines seperti Valium, Xanax, Klonopin dan Ativan. Responden-responden ini juga diketahui berisiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami disfungsi ereksi. Serupa dengan responden yang mengonsumsi TCA, hampir separuh responden yang mengonsumsi benzodiazepine sebulan belakangan juga kerap mengalami impotensi.

Sayangnya studi ini tak dapat memastikan apakah benar obat-obatan itu yang menyebabkan gangguan seksual, atau disfungsi ereksi yang berkontribusi terhadap kondisi psikiatri responden atau apakah kedua masalah itu memiliki akar persoalan yang sama.

"Kami benar-benar tak dapat mengatakan ada apa di balik hubungan sebab-akibat ini. Yang tidak kami sangka pria yang mengonsumsi obat-obatan hipertensi justru tidak mengalami risiko impotensi yang lebih tinggi, karena kami menyangka sebaliknya," terang Kupelian seperti dilansir Health24, Senin (3/6/2013).

Untuk itu, Kupelian menambahkan bahwa temuan ini tidaklah ditujukan untuk membuat rekomendasi terkait obat-obatan tertentu. "Kalaupun pria mengkhawatirkan obat-obatan yang dikonsumsinya, sebaiknya mereka konsultasikan hal itu kepada dokter," tutupnya.

2. Sehat Berpikir

"Tidak boleh mudah stres, kendalikan stres."


Manajemen pikiran / pola pikir.
Hidup ini memang kompleks, setiap orang pasti dirundung masalah. Pikiran anda harus back to nature, maksudnya pikirkanlah apa yang harus anda lakukan untuk diri anda sendiri. Miasl: pola makan, pola tidur, pola akrifitas, rekreasi, dsb. Jangan campur adukkan pikiran anda dengan orang lain. Hadapi saja apa yang sedang anda alami saat ini, toh tidak selamanya anda bakal hidup seperti itu. Yang terpenting: buat perencanaan untuk masa depan anda, jangan urusin orang lain. Dan 1 lagi yang harus anda ingat, selalu dekatkan diri anda dengan Tuhan dan “berkomunikasilah” denganNya sesering mungkin.


 
Dalam suatu survei terbaru, sekitar 60 persen orang Amerika mengatakan kondisinya tertekan setidaknya seminggu sekali. Kondisi tersebut menyebabkan pelepasan dua hormon stres yaitu kortisol dan adrenalin yang mempersempit pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke alat kelamin.

Menanggulangi stres dapat dilakukan dengan olahraga, yoga atau meditasi, mendengarkan musik, pijat, mandi air panas, dan bersantai dengan teman, keluarga atau kekasih.

3. Sehat istirahat
 
 Istirahat yang berkualitas.

Istirahat berhubungan dengan tempat tinggal, aktivitas dan lingkungan. Tidur malam adalah salah satu hal yang paling penting untuk menunjang kesehatan pikiran dan badan. Pastikan anda selalu merasa nyaman untuk tidur malam anda, dengan suasana kamar yang sejuk, tenang (tidak berisik), dan bersih. Tidurlah dengan nyenyak tanpa pikiran selama 7-8 jam.

4. Sehat aktivitas


Aktivitas sehat itu harus olahraga teratur
minimal tiga kali dalam seminggu dan durasinya setengah jam hingga 1 jam untuk satu kali.



Banyak orang mengira kekuatan penis seperti halnya mesin mobil yang akan rusak jika dibiarkan berdebu di garasi tanpa pernah dipakai. Padahal, yang menjadi inti dari sebuah ereksi adalah kelancaran aliran darah ke organ vital. Menurut Dr.Hernando Chaves, seksolog klinik, keberhasilan ereksi bisa terganggu jika aliran darah ke penis terganggu. Jadi tidak ada kaitannya dengan seberapa lama Anda tidak berhubungan seksual. 

Jika Anda merawat kebugaran tubuh secara baik dengan cara melakukan olahraga yang memompa aliran darah, Anda dapat tetap siap, tetap bergairah dan tetap mampu berhubungan seks hingga usia lanjut. Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam Archieves of Sexual Behaviour terhadap 78 pria sehat tetapi tidak aktif kemudian mulai berlatih aerobik minimal 3 kali dalam seminggu, didapatkan kehidupan seks mereka sangat meningkat. 

Memang rentang waktu terjadinya ereksi dan kemampuan untuk mempertahankannya akan berubah seiring usia. Ketika seorang pemuda berusia 19 tahun yang belum pernah bercinta melakukannya, ia akan siap melakukan "babak" kedua setelah beberapa menit memuaskan pasangannya. Di usia 30 tahun ia memerlukan waktu 20 menit dan di usia 45 ia harus menunggu setidaknya satu jam sebelum mendapatkan ereksi lagi.

Sering Main Gadget bikin Loyo di Kasur
Perkembangan teknologi yang cangih pastinya membantu aktivitas manusia. Tapi tahukah Anda kalau penggunaan gadget cangih buat pasangan suami-istri semakin loyo diranjang.
 

Hal ini seperti yang diutarakan oleh Psikolog seksual Zoya Amirin, M.Psi saat melakukan analisa terhadap kasus yang dialami kliennya. Menurutnya, karena gadget kemesraan antara pasangan semakin menurun.
“Pasangan yang menggunakan lima atau lebih saluran komunikasi elektronik, kepuasannya di ranjang 14 persen lebih rendah dibanding pasangan yang kurang terhubung secara elektronik,” jelasnya.
 

Hal ini bisa terjadi karena pasangan pengila gadget lebih banyak berkomunikasi bersama teman-teman di media sosial dibanding berkomunikasi soal rumah tangga dengan pasangan hidup.
 

“Kalau bisa ngobrol langsung kenapa harus chatting-chattingan. Lagipula pola komunikasi yang terjadi itu sering terbalik. Ada yang mau menghubungi pasangannya justru bukan telepon langsung, tapi justru lewat social media,” terangnya.
 

Zoya menjelaskan intim tidak harus selalu berhubungan dengan fisik. Sebab hubungan yang intim antara pasangan harus melibatkan fisik, hati, dan pikiran.
Oleh karenanya, gadget harus ditempatkan sebagai alat, sehingga harus bisa dikontron dan jangan sampai justru sebaliknya.
 

“Banyak masyarakat yang saat bercinta sempat memainkan gadgetnya. Kecanduan teknologi tidak membuat komunikasi kita lebih baik. Di gadget kita pakai bahasa tulisan, tapi justru kita gunakan bahasa verbal,” ungkap Zoya.
Padahal menggunakan bahasa verbal untuk tulisan bisa membuat seseorang salah persepsi. “Kecanggihan alat komunikasi malah bisa membuat koneksi virtual makin parah,” tandasnya.




Jangan terlalu sering masturbasi
Simpan sesuatu untuk seks yang nyata. Masturbasi berlebihan dapat menurunkan nafsu seksual Anda. Ereksi dan ejakulasi terus-menerus dapat menyebabkan ereksi lebih lemah pada hari berikutnya. Jadi kendalikan nafsu Anda!

Hindari celana dalam yang ketat
Ini memang seksi, tapi tidak untuk tidur. Ini membatasi aliran darah ke jaringan penis yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kekuatan ereksi.
Pilihlah yang longgar.

4. Jangan terlalu sering masturbasi Simpan sesuatu untuk seks yang nyata. Masturbasi berlebihan dapat menurunkan nafsu seksual Anda. Ereksi dan ejakulasi terus-menerus dapat menyebabkan ereksi lebih lemah pada hari berikutnya. Jadi kendalikan nafsu Anda! 5. Hindari celana dalam yang ketat Ini memang seksi, tapi tidak untuk tidur. Ini membatasi aliran darah ke jaringan penis yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kekuatan ereksi. Pilihlah yang longgar.

Sumber : http://palingseru.com/11527/5-hal-yang-harus-dilakukan-jika-ereksi-sudah-loyo
Copyright © Palingseru.com

5. Sehat lingkungan

Kendalikan polusi dan asap rokok.


 Kegemaran menyalakan rokok akan memadamkan gairah Anda di tempat tidur. Bahkan, saat ini merokok dipandang sebagai faktor utama dalam masalah ereksi dan dampaknya akan mulai terasa ketika usia Anda menginjak 40 tahun. Maka, jika Anda merokok, berhentilah.

Dampak dari berhenti merokok akan segera Anda rasakan. Hal itu sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat. Pria yang berhenti merokok memiliki kepuasan seksual yang lebih baik dibandingkan dengan pria yang pernah berhenti merokok tapi kembali pada kebiasaannya itu.
"Pada pria muda, efek dari merokok mungkin belum terasa sehingga mereka tak khawatir sampai akhirnya kehidupan seksual mereka terganggu," kata Christopher Harte, yang penelitiannya dipublikasikan dalam British Journal of Urology International.

Dalam penelitiannya, Harte dan timnya merekrut 65 pria yang mengaku tidak menderita impotensi dalam 8 minggu setelah mengikuti program berhenti merokok. Penelitian dibagi dalam beberapa periode, yakni sebelum, saat program, dan setelah selesainya program berhenti merokok. Mereka diminta menonton tayangan film erotis di laboratorium.

Saat menonton tayangan film itu para pria diminta menilai seberapa besar rangsangan yang dirasakan dan kekerasan ereksi. Secara terpisah mereka juga mengisi survei mengenai fungsi seksual, termasuk pertanyaan tentang hasrat dan kepuasan seks.

Pada akhir penelitian, ada 20 pria yang berhenti merokok dan 45 pria meneruskan kebiasaannya.

Pria yang berhenti merokok diketahui memiliki kekerasan penis yang lebih baik, diukur dari lebarnya bukan panjangnya, dibandingkan dengan pria yang masih merokok. Dari penilaian yang mereka lakukan sendiri, pria yang meninggalkan rokok juga mengaku lebih cepat terangsang dibanding rekannya.

Akan tetapi, penelitian itu dilakukan dalam laboratorium. Para pria yang berhenti merokok itu mengaku tidak merasakan perubahan signifikan dalam "kehidupan nyata".

"Mungkin diperlukan waktu agak lama bagi para pria untuk menyadari level perbedaan yang dirasakan di tempat tidur dengan pasangannya," kata Harte.
Penelitian sebelumnya menunjukkan pria yang merokok dalam jangka waktu lama lebih rentan menderita impoten. Seperti diketahui rokok mempercepat pembentukan endapan-endapan dalam arteri jantung. Proses yang sama juga terjadi pada pembuluh darah yang memasok darah ke penis sehingga penis pun menjadi loyo.



 Menurunkan Kelebihan Berat Badan
Menurut penelitian di Harvard, pria dewasa dengan obesitas sangat rentan terhadap disfungsi ereksi dan penurunan berat badan dapat meningkatkan fungsi ereksi.
Studi di Duke University Diet and Fitness Center menunjukkan bahwa pria yang menurunkan berat badan, menjadi lebih aktif secara fisik dan mengalami ereksi yang jauh  baik.

 ARTIKEL TERKAIT :

0 komentar:

Posting Komentar