MELAYANI JASA ONANI DENGAN PEREMPUAN CANTIK


Ini adalah true-story, atau kisah nyata. Seorang pejabat BUMN di kota Semarang, Jawa Tengah, yang mendekati masa pensiunnya mendapatkan musibah, yang tentu saja tidak diinginkannya. Dia terkena stroke dan tubuhnya jadi lumpuh karena mati separo. Pejabat yang dirahasiakan jati dirinya ini, tinggal di sebuah perumahan elite, dengan isterinya yang cantik, dan hanya bisa pasrah saja menerima keadaan seperti itu.

“Habis mau gimana lagi Mas?” kata isterinya yang bernama Bu Ambar memulai kisahnya pada wartawan Obyektif Cyber Magazine, Irwan Setiyanto di rumahnya yang asri baru-baru ini. Memang secara materi, Bu Ambar ini tergolong orang kaya. Tinggal di rumah bersar seharga Rp 2 miliar, dengan beberapa mobil mewah berjejer di garasinya. Memang suaminya pejabat tinggi dengan penghasilan besar dan Bu Ambar sendiri sudah lama berdagang permata.

Oleh karena itu, meski suaminya terkena musibah seperti itu, dia berusaha tabah. Semula memang tidak ada masalah. Setiap hari, sepulang dari bisnis, sebagai seorang istri mencoba merawat suaminya yang lumpuh. Dari memandikan, menggantikan pakaian yang bersih, sampai menyuapi. Namun lama kelamaan, bosan juga. Disamping itu timbul masalah. Suaminya yang lumpuh itu mulai rewel. Meski bicaranya sekarang jadi pelo (cedal), tapi Bu Ambar bisa menangkap maksudnya. Intinya, suaminya minta dipuaskan libidonya yang ternyata masih tinggi voltage-nya.

Secara rutin, setiap dua hari sekali minta dilayani kebutuhan seksnya. “Tentu saja tidak bisa berhubungan intim layaknya suami istri, Mas. Paling ya saya onani, supaya nafsu seksnya tersalurkan. Kalau sudah “keluar”, dia memang jadi tenang dan tidurnya tidak gelisah lagi,” jelas Bu Ambar secara blak-blakan. Selidik punya selidik, kenapa si pejabat yang sudah lumpuh ini, libidonya tetap meninggi? Pertama, usianya masih berkisar 50 tahunan, karena belum pensiun. Kedua makannya dengan gizi yang bagus. Maklum, orang kaya. Ketiga, sudah tidak ada kegiatan di luar.  Hanya tiduran atau duduk di sofa menonton televisi. Dalam keadaan seperti ini, pikiran jadi tertuju “kesitu”  juga.

Melihat kenyataan seperti itu, Bu Ambar-lah yang jadi pusing tujuh keliling. Soalnya permintaan suami, kadang pagi hari, kadang siang hari. Jadi tidak selalu malam hari. Pokoknya sewaktu-waktu. Kalau tidak dituruti jadi ngambek. Seharian mogok makan, tidak mau nonton televisi, dan marah-marah saja. Mau tidak mau Bu Ambar harus bersabar dan menuruti kemauan suaminya. Meski kegiatan dagangnya jadi terbengkelai. Tapi mau bagaimana lagi? Istri kan harus patuh pada suami. Nanti dikira tidak sayang lagi setelah suaminya lumpuh.

Namun karena kebutuhan ekonominya sekarang ada di pundak Bu Ambar, ia harus mencari solusi. Keluarganya sudah terlanjur terbebani biaya ekonomi tinggi. Perawatan rumah, yang ada kolam renangnya, perawatan mobil-mobil mewahnya, semua memerlukan dana besar. Gaji karyawan, tukang kebun, pembantu, juga memerlukan dana. Suatu saat, ketika Bu Ambar mampir ke salon langganannya, dia mendapatkan solusi yang bagus. Pemilik salon menyarankan harus ada baby-sister untuk suaminya. Tetapi baby-sister kan tugasnya menjaga dan merawat bayi? “Ini baby-sister khusus”, “ kata pemilik salon.

Bu Ambar baru sadar ketika pemilik salon memanggil salah satu anak buahnya yang ternyata shemale (semacam waria) muda, bernama Nurchamid dengan panggilan mesra Nuraini, berusia 27 tahun penduduk Kota Demak, 30 kilometer dari Semarang. Sehari-harinya dia bekerja di salon milik sahabat Bu Ambar. Nur ini, cantik, masih muda dan seksi. Keesokan harinya, Nur tidak bekerja lagi di salon, tetapi di rumah Bu Ambar. Tugasnya santai, memandikan suaminya yang lumpuh, menggantikan pakaian yang bersih, menyuapi makan, dan mengonani, kalau suaminya sedang libido tinggi.

Setelah sebulan Nur kerja di situ, suami Bu Ambar yang semula selalu rewel dan marah-marah, sekarang malah kelihatan bersih dan banyak senyum. Kelihatan cerah, sehat, meski lumpuh. Sehari-harinya selalu ditemani Nur. Bahkan si Nur ini, minta sama Bu Ambar, tidur di situ sekalian, jadi setiap hari tidak usah pulang ke Kota Demak, karena jauh. Tentu saja Bu Ambar mengijinkan dan malah menaikkan gaji si Nur. Sekarang hidup Bu Ambar jadi tenang, bisa berdagang lagi untuk menunjang kebutuhan rumah tangganya. Uang dari pensiun suaminya, meski pejabat, mana cukup.

Bu Ambar ini meski masih muda, cantik, sekitar 40 tahunan, malah tidak memikirkan libidonya lagi. Dia sudah cukup puas dengan seks-toys yang dibelinya. Tidak mau berhubungan batin dengan lelaki lain, kecuali dengan suaminya tersayang. Suaminya adalah cinta pertamanya dan juga cinta terakhirnya. Kebutuhan batin suaminya, sudah diserahkan pada Nur, yang memang digaji untuk itu. Nur memang ditakdirkan “berhati putih” dan “bertangan putih”, yang mau berkorban demi kebahagiaan orang lain. Wawancara pun diakhiri. Angin bertiup sumilir, ketika saya keluar dari rumah Bu Ambar yang asri dan berhalaman luas. Langit cerah tanpa awan. Sepanjang jalan saya berpikir, ah kehidupan manusia memang kadang aneh dan beragam. Mungkin inilah warna-warni kehidupan. 

                                     --------------------------------------------- 

PERUSAHAAN JASA ONANI DAN MASTURBASI

Kejadian seperti yang dialami Bu Ambar di Semarang, Jawa Tengah itu, bukan milik Bu Ambar saja. Ada ribuan dan mungkin jutaan orang cacat di tanah air dan seluruh dunia yang memerlukan jasa yang dilakukan si Nur ini, seperti dikisahkan dalam true-story di atas. Pertanyaannya, orang-orang cacat macam apa yang memerlukan pelayanan khusus seperti itu? Dijawab, mereka adalah orang-orang cacat, yang tidak dapat menyalurkan hasrat seksualnya, karena keterbatasan gerak fisiknya.

Lalu bagaimana dong solusi untuk membantu orang cacat seperti itu? Sekarang ini di Jepang, muncul kelompok yang menamakan dirinya Whitehands, atau Tangan-tangan Putih, terdiri dari para wanita muda yang memberikan jasa meng-onani orang-orang cacat. Tidak sembarang orang cacat, tetapi orang cacat yang memang tidak mampu bergerak secara fisik. Misalnya ada lelaki muda yang tidak punya tangan dan kaki. Atau punya anggota tangan, atau kaki, tetapi sulit digerakkan. Mereka-mereka ini masih muda dan memerlukan bantuan untuk menyalurkan libidonya yang masih meninggi.

“Jadi kesimpulannya, mereka itu menjual jasa yang ditujukan untuk pelepasan seksual bagi penderita paralisis yang menyebabkan gangguan otot tubuhnya sehingga tidak dapat bermasturbasi atau beronani secara normal,” jelas salah seorang gadis kelompok Whitehands, Naomi, seperti dialansir sankakucomplex.com, baru-baru ini.

Kelompok “Tangan Putih” ini sebetulnya sudah lama berdiri, sekitar tahun 2008. Awalnya mereka hanya sekelompok orang yang bergerak di bidang kegiatan untuk amal. Namun sambutan masyarakat cukup bagus, sehingga mereka berkembang pesat. Anggotanya pun meluas, terdiri dari gadis-gadis muda dan ibu rumah tangga muda yang ingin membantu orang-orang cacat.

Menurut dunia medis, orang-orang cacat memiliki dorongan libido yang kuat, sama dengan laki-laki lain yang normal. Terutama bagi yang masih muda. Tentu saja tidak hanya kaum lelaki, wanita juga sama. Karena cacat dan gerak fisiknya sangat-sangat terbatas, maka perlu bantuan orang lain. Tangan-tangan Putih mengambil peluang di bidang ini. Mengonani yang laki-laki dan memasturbasi yang wanita.

“Bagi orang cacat yang masih mungkin beronani sendiri, tentu tidak perlu jasa ini. Mereka bisa mencari pacar dan nikah secara resmi. Namun kalau yang tidak dapat leluasa bergerak, mungkin saja layanan perawatan seperti ini benar-benar membantu. Saya berharap masyarakat menjadi lebih memahami kebutuhan seksual orang cacat," tutur Naomi lagi yang sudah tiga tahun ini bergabung di kelompok ini.

Ada seorang penyandang cacat, yang tidak memiliki dua tangan dan dua kaki. Hanya badan saja dan kepalanya, glimbang-glimbung. Namanya Hironaruto, usianya masih muda sekitar 38 tahun. Sejak jejaka sampai usia segitu, belum pernah menikah, dan sulit melepaskan nafsu sahwatnya. Paling hanya lewat mimpi-mimpi basah. Nah, ketika pertama kali mendapatkan layanan ini, ia seperti mendapatkan “pelepasan seksualnya” yang sempurna. Sampai berteriak-teriak keras dan mengeluarkan air mata ketika orgasme untuk pertamakalinya, sepanjang hidupnya.

Sejak itu, dia menggunakan jasa Tangan-tangan Putih ini sudah empat tahun terakhir ini dan orang tuanya tidak keberatan untuk mengeluarkan uang ekstra demi kebahagiaan putra tunggalnya itu. Karena kebutuhan seperti itu jasa ini mulai merebak menjadi sukses. Sekarang bukan lagi sebuah gerakan amal, tetapi telah berkembang menjadi perusahaan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Semula jasa ini dikecam oleh pihak Pers habis-habis di Jepang. Namun karena masyarakat sangat perlu, akhirnya mau menerima kehadiran perusahaan ini juga. Sekarang telah membuka 18 cabang di Jepang.

Sebagai perusahaan, mereka mematok harga sekitar Rp. 400.000 untuk pelayanan 15 menit, Rp. 600.000 untuk 30 menit dan Rp. 1,2 juta untuk satu jamnya. Tentu saja tarif itu sudah dikurskan ke rupiah dari yen Jepang. Bagi orang sini yang pendapatan perkapitanya kecil, uang sebesar itu tentu dirasakan mahal. Tetapi di Jepang, sangat murah. Lalu kemana gadis-gadis dan ibu-ibu muda para anggota Tangan-tangan Putih? Tentu saja direkrut di perusahaan itu. Bagaiman di tanah air. Sudah lama ada. Hanya kemasannya saja yang berbeda, lewat label: Pijat Plus-plus...Ah, kaum lelaki, jangan pura-pura tidak tahulah,hehehe...

                                                ------------------------------------------------

MAJALAH PORNO UNTUK TUNANETRA

Bagi kaum tunanetra, kebutuhan seks juga penting. Oleh karena itu, sebuah majalah porno yang dikhususkan untuk dapat dinikmati oleh kaum tunanetra baru-baru ini diluncurkan oleh seorang penulis asal Kanada, Lisa J.Murphy, dengan judul Tactile Mind  atau “Perabaan Pikiran”. Buku yang dirancang khusus itu, dibandrol seharga 230 US dollar. Memuat sebanyak 17 gambar porno, berbagai pose wanita bugil, wanita telanjang menari, payudara wanita, dan alat kelamin pria maupun wanita.

Menurut penjelasan Lisa, penulisnya, ia terdorong membuat majalah porno ini karena terinspirasi belum adanya majalah porno yang bergambar, dalam gambar braile, sehingga bisa dinikmati kaum tunanetra. “Tidak ada majalah bergambar braille, misalnya orang telanjang untuk orang dewasa. Kamilah yang memulai babak baru. Playboy memang memiliki edisi braille dengan kata-kata, tetapi tidak dengan gambar,” kata Lisa penuh semangat.

Menurut data, sebenarnya pada tahun 1970 dan 1985 majalah porno Playboy juga sudah memiliki edisi salinan dengan huruf Braille, tetapi tanpa gambar timbul. Sedang majalah baru yang dibuat Lisa ini menggunakan gambar dengan mode braille, sehingga orang buta bisa menikmatinya. Belum diperoleh konfirmasi, apakah sudah beredar di Indonesia, sehingga kaum tunanetra di tanah air juga bisa menikmatinya. Takutnya, belum beredar sudah didemo duluan dengan yang tidak setuju. Wah WAH...




ARTIKEL TERKAIT :

Kesaksian Pemakai Licengsui
Sejarah Licengsui
Cara Penggunaan Licengsui
Apa itu Ejakulasi Dini
Teknik untuk Mengatasi Ejakulasi Dini
Pemesanan Licengsui
Manfaat Licengsui